Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Resep Elektronik Pendeteksi Reaksi Obat Merugikan

Teman-teman pasti pernah sakit dan pergi ke Puskemas, dokter, klinik atau rumah sakit untuk berobat, bukan? Bapak atau ibu dokter akan memeriksa kemudian memberikan resep pada selembar kertas dan resep tersebut dibawa ke apotek untuk mengambil obat. Sebetulnya apa sih resep itu? Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Di dalam resep haruslah tercantum:

  • Nama, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
  • Nama, nomor izin, alamat dan paraf dokter
  • Tanggal resep
  • Ruangan/unit asal resep (pada rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya)
  • Nama, bentuk dan kekuatan sediaan obat
  • Dosis dan Jumlah obat
  • Aturan, cara dan teknik penggunaan

Karena banyaknya jenis obat-obatan, kesalahan pada resep dapat saja terjadi dan dapat menimbulkan kejadian reaksi obat merugikan (ROM). Menurut lembaga pengawasan obat di Amerika Serikat, Food Drug Administration, definisi ROM adalah setiap kejadian merugikan yang berkaitan dengan penggunaan obat pada manusia, berupa setiap kejadian merugikan yang terjadi pada waktu penggunaan obat dalam praktik profesional.

ROM di antaranya timbul dari kekeliruan dosis obat, baik yang tidak disengaja maupun yang disengaja, lalu penyalahgunaan obat, penghentian obat, dan setiap kegagalan yang signifikan dari kerja obat yang diharapkan. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun, tercatat ratusan ribu orang menderita atau meninggal di rumah sakit setiap tahun akibat terjadinya ROM dan menghabiskan biaya jutaan dolar tiap tahun.

Penyebab yang paling sering pada terjadinya ROM adalah medication error. Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien, akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Kejadian medication error dibagi dalam 4 fase, yaitu fase prescribing (penulisan  esep), fase transcribing (pembacaan resep), fase dispensing (penyiapan hingga penyerahan resep oleh petugas apotek) dan fase administration (proses penggunaan obat) oleh pasien.

Salah satu cara untuk mengurangi medication error adalah dengan menggunakan sistem resep elektronik. Sistem resep elektronik adalah sistem komputerisasi penulisan resep obat yang dikenal juga dengan istilah e-prescribing dan e-prescription. Pada sistem ini, dokter menuliskan dan mengirimkan resep kepada bagian farmasi/apotek menggunakan media elektronik menggantikan tulisan tangan dan penggunaan media kertas.

Atas dasar pemikiran tersebut, penulis pernah mencoba membuat sistem resep elektronik yang dapat membantu bapak dan ibu dokter di Puskesmas pada saat menulis resep, dengan memberikan informasi obat juga mendeteksi ROM pada resep untuk mengurangi medication error. Sistem ini telah dipakai di Puskesmas Babakansari Bandung sejak tahun 2010, dan menjadi salah satu pemenang dalam Indonesian ICT award (INAICTA) 2010.

Resep elektronik ini terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras yang digunakan adalah komputer dan perangkat lunaknya adalah perangkat lunak resep elektronik dengan modul pendeteksi ROM.

Diagram sederhana sistem resep elektronik.

Diagram sederhana sistem resep elektronik.

Satu komputer bertindak sebagai server (pusat data). Server tersebut  dihubungkan dengan komputer-komputer lainnya menggunakan hub pada LAN (local area network). Perangkat lunak hanya diinstalasi pada komputer server aja. Sistem ini dapat digunakan pada 1 komputer, 2 komputer, maupun pada banyak komputer.

Tampilan menu utama perangkat lunak sistem resep elektronik.

Tampilan menu utama perangkat lunak sistem resep elektronik.

Perangkat lunak sistem resep elektronik pendeteksi ROM ini secara sederhana mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Mencatat semua data pasien yang dapat dengan mudah dicari kembali.
  2. Menulis resep secara elektronik tanpa kertas dan langsung dikirim ke apotek sehingga pasien bisa langsung pergi ke apotek untuk mengambil obat.
  3. Membantu bapak dan ibu dokter pada saat menulis resep dengan memberikan informasi tentang obat-obatan yang akan diresepkan dan mendeteksi apabila ada interaksi antara obat-obat tersebut dalam resep dengan memberikan peringatan (alert) sebelum dikirim ke apotek.
  4. Mencatat data penggunaan obat.
  5. Membuat laporan dengan lebih mudah dan cepat.

Dengan menggunakan sistem resep elektronik ini, diharapkan kejadian medication error dapat dikurangi dan dicegah sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Nah, teman-teman sekarang sudah mengenal apa itu resep, kejadian reaksi obat merugikan, medication error dan resep elektronik. Selanjutnya, teman-teman juga dapat berkarya di bidang yang sama atau di bidang yang lainnya. Ayo, mari kita berkarya dan bekerja untuk Indonesia!

Bahan bacaan:

Penulis:
Irma Melyani Puspitasari, staf pengajar Fakultas Farmasi, Unpad Bandung, serta mahasiswi doktor di Department of Public Health, Gunma University, Jepang. Kontak: irmamelyani(at)gmail(dot)com.