Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Senjata Kimia, Ilmu yang Dijadikan Petaka

Dunia dikejutkan dengan berita dari Timur Tengah tentang indikasi penggunaan senjata kimia di Kota Khan Sheikhoun, Suriah, pada awal April lalu. Puluhan orang meninggal seketika dan lebih banyak lagi yang terluka. Terlepas dari siapa yang melakukan, ditujukan untuk pihak mana, dan bagaimana skenarionya hingga peristiwa itu terjadi, tetap saja banyak warga sipil (termasuk wanita dan anak-anak) yang menjadi korban. Mari kita kenali bahayanya senjata kimia.

Agen perang kimia (chemical warfare agents) merupakan substansi kimia yang memiliki efek toksik secara langsung terhadap tanaman, binatang, dan manusia (Geoghegan dan Tong, 2006). Agen perang kimia terbagi menjadi agen yang berbahaya bagi manusia serta agen yang dimaksudkan untuk menyerang tanaman. Bila diklasifikasikan menurut efek fisiologisnya, agen yang ditargetkan pada manusia di antaranya adalah agen saraf, blistering agents, blood agents, choking agents, dan toksin.

Menurut Athavale (2010), senjata kimia merupakan Weapons of Mass Destruction (WMD) atau senjata pembunuh massal yang paling sederhana dan murah. Teroris dapat memproduksi senjata kimia dari material yang tersedia di toko farmasi lokal atau melakukan kontaminasi sumber air. Hasilnya dapat berupa awan atau air beracun yang memasuki area pemukiman dan tempat publik seperti pusat perbelanjaan dan stasiun kereta, serta menyebabkan ketakutan dan kepanikan pada masyarakat.

Odendaal (1990) mencatat bahwa penggunaan dari agen perang kimia telah dimulai bahkan sebelum adanya pencatatan sejarah, yaitu penggunaan api dan asap untuk melumpuhkan musuh. Pada Pertempuran Platea di tahun 429 SM, pembakaran ter dan belerang telah digunakan ketika “Api Yunani” digunakan tentara Yunani untuk menghalau pasukan Persia kala itu. Api Yunani tersebut mengandung campuran substansi yang mudah terbakar ketika terjadi kontak dengan air.

Berbagai teknik yang digunakan bersama agen perang kimia ini juga terus berkembang, misalnya penggunaan anak panah yang dilumuri racun, serta toksin yang ditemukan pada kulit kayu tertentu yang digunakan untuk melumpuhkan ikan. Di tempat lain, tentara Roma menaburkan garam pada lahan-lahan di Kartago (dekat kota Tunis sekarang) untuk mencegah orang-orang Kartago menjadi ancaman bagi masa depan Roma secara militer maupun ekonomi.

Penggunaan agen perang kimia sebagai senjata terus berlanjut di Perang Dunia I, yaitu penggunaan gas mustard nitrogen yang merupakan salah satu contoh dari agen penyebab blistering atau kulit lecet. Gas mustard nitrogen ini pertama kali digunakan tahun 1915 saat Perang Dunia I di Ypres, Belgia, sehingga semenjak saat itu dikenal dengan sebutan yperyta. Sebagian besar efek dari gas ini berpengaruh pada mata, membran bermukosa, dan kulit. Ketika terhirup, gas ini juga menyebabkan kerusakan pada trakea dan ketika terabsorpsi menyebabkan muntah, diare, dan kelainan sistem hematologis (Requena dkk., 1988).

Prajurit Kerajaan Inggris dari Divisi ke-55 (Lancashire Barat) mengalami buta sementara akibat serangan gas mustard pada Pertempuran Estaires (Sumber foto: Arsip Letnan Dua T.L. Aitken, Imperial War Museum, katalog nomor Q11586).

Berbeda dengan yang sudah diketahui sebelumnya, Kumar (2010) menyebutkan bahwa gas mustard tidak harus terhirup agar bisa efektif. Kontak kulit dengan 0,1 ppm zat tersebut sudah dapat menyebabkan kerusakan fatal pada tubuh manusia sehingga ancaman senjata kimia dari sudut pandang teroris telah membuka banyak tantangan terhadap komunitas internasional. Keselamatan dan keamanan dari WMD (yang dikarakterisasikan sebagai senjata nuklir), senjata kimia, dan senjata biologi telah menjadi topik diskusi yang dominan di lingkup keamanan internasional dan perdebatan di antara anggota komunitas strategis dan akademis. Senjata kimia dan biologi tidak lebih baik daripada senjata nuklir meskipun senjata nuklir selain dapat menyebabkan kematian juga dapat menyebabkan kehancuran suatu area dan infrastruktur.

Berikut ini adalah beberapa agen kimia yang memiliki efek fatal terhadap manusia maupun binatang:

  1. Nerve agents/Agen saraf. Agen saraf biasanya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Berasal dari rumpun insektisida organofosfor. Senjata kimia seperti ini dapat membunuh dengan cepat serta memiliki potensi destruktif yang lebih tinggi dari agen-agen kimia lainnya, kecuali toksin.
  2. Blister agents. Blister agents merupakan cairan berminyak yang membakar dan melepuhkan kulit dalam beberapa jam setelah terjadinya paparan seperti gas mustard. Agen ini menyebabkan banyak korban daripada agen kimia lain yang digunakan pada Perang Dunia I.
  3. Choking agents. Agen kimia ini merupakan cairan yang sangat volatil (mudah menguap). Ketika terhirup dalam wujud gas dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada paru-paru, serta mengakibatkan kematian dari kurangnya asupan oksigen. Pertama kali dikenal dalam Perang Dunia I dan lebih tidak berbahaya dibandingkan dengan agen saraf.
  4. Blood agents/agen darah. Agen kimia ini masuk ke dalam tubuh melalui trakea pernapasan. Agen darah menyebabkan kematian dengan melakukan gangguan terhadap utilisasi oksigen pada otot. Agen ini juga termasuk kurang toksik dari agen saraf.
  5. Toksin secara biologis memproduksi substansi kimia yang sangat toksik karena tercerna atau terhirup.
  6. Gas air mata dan pengganggu. Gas semacam ini menyebabkan iritasi pada indra sehingga menimbulkan aliran air mata serta iritasi pada kulit dan trakea pernapasan. Terkadang juga mengakibatkan pusing serta muntah-muntah. Gas ini sering digunakan untuk mengendalikan kerusuhan dan juga digunakan dalam perang.
  7. Psycho-chemicals. Bahan seperti ini mirip dengan obat-obatan kimia. Dimaksudkan untuk menyebabkan gangguan mental temporer.

Selain itu terdapat agen kimia yang mempengaruhi tanaman yaitu herbisida. Contohnya yaitu bahan kimia untuk pertanian yang meracuni atau merontokkan daun-daun tanaman sehingga tanaman tersebut mati.

Dunia akademis tentu tidak tinggal diam melihat fenomena ini. Pengembangan deteksi dan identifikasi agen perang kimia terus dilakukan. Mulai dari pengawasan distribusi bahan kimia oleh pihak yang berwenang yang di dalamnya termasuk pengecekan di perbatasan dan bandar transportasi. Selain itu, Singh dkk. (2016) dalam makalahnya melaporkan bahwa suatu penjerap magnetic dapat digunakan untuk mengekstrasi agen perang kimia dan penandanya (marker) dari cairan organik.

Adapun Mondloch dkk. (2015) mengembangkan material metal-organic framework (MOF) atau kerangka kerja logam-organik yang dapat menjadi solusi alternatif untuk masalah destruksi senjata perang kimia. MOF memiliki porositas yang tinggi dan stabilitas secara kimia yang efektif terhadap degradasi agen perang kimia terutama agen saraf dan stimulannya.

Ilmu kimia memang merupakan ilmu yang masih dan akan terus berkembang. Namun, seperti entitas netral lainya, ilmu beserta bahan kimia dapat digunakan untuk welfare maupun untuk warfare. Perang hanya akan membawa kerugian bagi pemenang dan kehinaan bagi pihak yang kalah. Sebagai manusia yang berakal dan berbudi, kita diberi kesempatan untuk memilih. Kitalah yang memilihnya. Pertanyaannya adalah mana yang menjadi pilihan kita? Karena kebaikan akan menang ketika ia diperjuangkan.

 

Bahan bacaan:

  • Athavale, R.V., 2010, Awareness and Preparedness is the Key to Survival, CBW Magazine, 2 (1), 19-22.
  • Geoghegan, J., dan Tong, J.L., 2006, Chemical warfare agents, Educ. Anaesth. Crit. Care Pain, 6 (6), 230-234.
  • Kumar, A., 2010, Threats Emanating From Weapons of Mass Destruction, CBW Magazine, 3 (2), 5-8.
  • Mondloch, J.E., Katz, M.J., Isley III, W.C., Ghosh, P., Liao, P., Bury, W., Wagner, G.W., Hall, M.G., DeCoste, J.B., Peterson, G.W., Snurr, R.Q., Cramer, C.J., Hupp, J.T., dan Farha, O.K., 2015, Destruction of chemical warfare agents using metal–organic frameworks, Letters, Nature Materials, London.
  • Odendaal, G.C., 1990, Biological and Chemical Warfare, Scientia Militaria South African Journal of Military Studies, 20 (3), 1-7.
  • Requena, L., Requena, C., Sánchez, M., Jaqueti, G., Aguilar, A., Sánchez-Yus, E., dan Hernández-Moro, B., Chemical warfare: Cutaneous lesions from mustard gas, Am. Acad. Dermatol., 19, 529-536.
  • Singh, V., Purohit, A.K., Chinthakindi, S., G. Raghavender, D., Tak, V., Pardasani, D., Shrivastava, A.R., Dubey, D.K., 2016, Analysis of chemical warfare agents in organic liquid samples with magnetic dispersive solid phase extraction and gas chromatography mass spectrometry for verification of the chemical weapons convention, Chromatogr. A. 1448, 32-41.

Penulis:

Viny Alfiyah, Mahasiswi Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kontak: alfiyahviny(at)gmail(dot)com.