Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Bulimia sebagai Gangguan Psikologis

Sebutlah namanya Elis. Ia adalah seorang remaja berusia 17 tahun yang tinggal dengan orang tuanya. Hubungan yang terjalin dengan orang tuanya kurang harmonis. Orang tuanya kerap menuntut Elis tampil menarik seperti remaja pada umumnya tanpa memberikan arahan bagaimana diet yang sehat. Dalam lingkungan pergaulannya, perempuan yang lebih kurus dianggap menarik dan lebih disukai.

Karena merasa tertekan, Elis makan berlebih dan di saat bersamaan sering memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakannya. Namun, Elis menyangkal bahwa dirinya selalu makan secara berlebihan dan memuntahkan kembali makanan tersebut. Pada saat berusia 16 tahun, berat badan Elis mencapai 90 kg. Berat badan terendah yang pernah dicapai Elis adalah 75 kg dan berat badannya sekarang ketika berusia 17 tahun adalah 80 kg.

Elis mengaku sudah berdiet sejak umur 10 tahun, tetapi tetap saja ia merasa terlalu tinggi dan gemuk. Pada saat berusia 12 tahun, Elis mulai makan berlebih dan memuntahkannya kembali. Dia mengikuti kompetisi renang setiap waktu dan hal tersebut penting untuk menurunkan berat badannya. Selama beberapa hari, Elis mencoba menghindari makanan, tetapi kemudian timbul dorongan untuk makan kembali.

Elis tidak dapat mengontrol dorongan untuk makan. Setiap malam, Elis mencari makanan di lemari es, seperti es krim dan kue. Hal tersebut dilakukan Elis tanpa diketahui siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Setiap kali makan, Elis dapat menghabiskan seperempat wadah es krim, satu stoples kue, dan beberapa makanan pencuci mulut lainnya.

Elis akan meneruskan kegiatan makannya sampai merasa perutnya penuh, yang justru mengakibatkan Elis semakin merasa tertekan dan ketakutan jika berat badannya bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut, Elis merangsang dirinya sendiri agar memuntahkan makanan yang sudah dimakannya.

Ketika berusia 13 tahun, Elis hanya mengalami satu kali dalam enam minggu periode makan berlebih dan muntah, tanpa mengalami berat badan berlebih. Ketika berusia 15 tahun, episode makan berlebih dan muntah bertambah, yaitu berlangsung empat kali seminggu.

Elis sempat berhenti sekolah selama 5 bulan di tingkat akhir SMA-nya. Selama berhenti sekolah, ia hanya tinggal di rumah, makan berlebih dan muntah. Elis termasuk murid yang kemampuan akademisnya biasa saja, bahkan di bawah rata-rata selama duduk di bangku SLTP dan SMA. Selain itu, Elis terkenal sebagai gadis pendiam di kelasnya dan hanya memiliki sedikit teman.

***

Cerita Elis di atas adalah kisah nyata yang terkait dengan gangguan psikologis yang dikenal dengan istilah bulimia. Mengapa bulimia bisa terjadi? Bagaimana mencegah kita ataupun orang-orang di lingkungan terdekat kita dari sergapan bulimia? Mari kita pelajari sekilas mengenai bulimia.

Bulimia merupakan gangguan pola makan yang dicirikan dengan rasa lapar yang berlebihan, makan banyak dalam waktu sangat singkat, dan adanya keinginan untuk memuntahkan kembali makanannya (atau menggunakan obat pencahar) yang muncul dari kekhawatiran dirinya sendiri akan kegemukan. Tergantung dari jumlah kalori yang dikonsumsi ataupun frekuensi muntah, beberapa penderita bulimia mengalami kegemukan dan beberapa lainnya terlalu kurus dan pucat karena banyak muntah.

Ed44-sosbud-1

Kartun ilustrasi bulimia (sumber: michellehenry.fr).

Bulimia biasanya digolongkan menjadi dua macam, yaitu bulimia nervosa dan bulimia nervosa tak khas. Sebenarnya hanya sedikit perbedaan di antara keduanya sehingga dalam artikel ini kita anggap saja sama. Seseorang dapat dikatakan mengalami bulimia apabila mengalami setidaknya seluruh tanda berikut ini:

  • Berulang-ulang makan dalam jumlah yang sangat banyak (rata-rata dua kali seminggu selama sedikitnya 3 bulan).
  • Merasa tidak bisa mengontrol dirinya ketika sedang makan.
  • Secara teratur menggunakan obat-obatan untuk mencegah berat badannya naik, seperti obat perangsang muntah, obat pencahar, berpuasa atau berdiet ketat, atau berolah raga secara berlebihan.
  • Sangat mencemaskan bentuk dan berat badannya.

Alasan yang paling sering mendorong seseorang mengalami bulimia adalah tren tubuh kurus yang banyak digemari akhir-akhir ini. Jika seorang remaja, khususnya remaja putri tidak memiliki tubuh ideal menurut apa yang dia pikirkan, dia akan merasa dijauhi laki-laki dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pasangan yang menurutnya ideal dari segi fisik.

Remaja yang merasa tidak memiliki citra tubuh seperti apa yang disarankan oleh budayanya akan mengalami ketidakpuasan sehingga merasa minder dan mempengaruhi penerimaan terhadap dirinya. Remaja yang memiliki identitas lemah atau perkembangan harga diri yang kurang baik sangat berisiko mengalami gangguan pola makan seperti bulimia.

Beberapa ahli menganggap gangguan makan yang dialami oleh remaja merupakan suatu usaha anak untuk melawan tekanan orang tua yang menuntut penampilan menarik. Bulimia dapat pula dipengaruhi tingkat sosial ekonomi yang berdampak pada pola makan tidak seimbang, misalnya dengan terlalu banyak memakan sumber karbohidrat karena harganya lebih murah dibandingkan sayur atau buah-buahan.

Tekanan sosial yang terwujud dalam harapan yang tidak realistis mengenai tubuh yang ideal dan kurus dapat pula mendorong seseorang menetapkan harapan yang tidak realistis serta ketakutan akan pertambahan berat badan. Hal ini kemudian mempengaruhi pola makannya, yang berujung pada bulimia.

Bulimia memiliki dampak seperti efek domino. Diawali dari rasa cemas pada penampilan fisik sendiri, penderita bulimia justru semakin memperparah kondisi fisik dan psikologisnya. Dampak fisik dari bulimia di antaranya adalah luka tenggorokan dan infeksi saluran pencernaan akibat terlalu sering memuntahkan makanan, rasa lemah dan tidak bertenaga, kesulitan komunikasi, serta gangguan menstruasi pada wanita. Dalam beberapa kasus, bulimia dapat pula menyebabkan kematian.

Sementara itu, dampak psikologis dari bulimia di antaranya adalah munculnya perasaan tidak berharga, sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, mudah merasa bersalah, serta kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Penderita bulimia juga cenderung mudah berbohong untuk menutupi perilaku makannya yang buruk.

Sebenarnya pencegahan bulimia cukup mudah dilakukan. Dari sisi psikologi, kuncinya adalah penerimaan diri dan tidak perlu banyak membandingkan dengan orang lain. Tidak perlu ada kecemasan berlebih ketika kondisi fisik dianggap tidak ideal. Hal yang lebih penting terkait pola makan justru adalah bagaimana agar tubuh sehat sesuai dengan asupan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Bahan bacaan:

Penulis:
Retno Ninggalih, ibu rumah tangga, alumnus Fakultas Psikologi Undip.
Kontak: r.ninggalih(at)gmail(dot)com.