Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Astronomi sebagai Pilihan Hidup

“It has been said that astronomy is a humbling and character-building experience. There is perhaps no better demonstration of the folly of human conceits than this distant image of our tiny world. To me, it underscores our responsibility to deal more kindly with one another, and to preserve and cherish the pale blue dot, the only home we’ve ever known.”

[Carl Sagan]

Astronomi adalah ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit seperti planet, asteroid, bintang, galaksi ataupun alam semesta skala besar. Astronomi juga salah satu ilmu alam tertua yang dipelajari manusia. Di zaman yang belum ada listrik, Facebook, Twitter, ataupun iPhone, langit adalah salah satu objek yang paling memesona bagi manusia (tentunya hingga saat ini juga).

Tidak kurang peninggalan-peninggalan historis memiliki hubungan erat dengan astronomi, seperti piramida Giza di Mesir yang formasinya mirip dengan formasi tiga bintang di sabuk Orion (Alnitak, Alnilam, Mintaka), Stone Hedge yang dapat digunakan untuk menengarai datangnya berbagai musim dengan melihat arah terbitnya Matahari dari celah tertentu, ataupun Candi Borobudur yang memiliki fungsi mirip dengan Stone Hedge. Tidak hanya bangunan histori, tetapi juga matematika ataupun filosofi dari Yunani hingga saat ini masih digunakan oleh manusia.

Dapat kita pelajari dari sejarah bahwa bangsa-bangsa yang besar sangat menghargai pentingnya ilmu pengetahuan, tidak hanya bagi saat itu, tetapi juga untuk investasi generasi mendatang yang dapat lebih mengambil manfaat dari apa yang telah ditemukan sebelumnya. Astronomi merupakan ilmu pengetahuan mendasar yang perlu dikembangkan bagi generasi mendatang. Sayangnya, komentar yang paling sering muncul di benak masyarakat awam adalah, “Untuk apa mempelajari semua itu, toh juga tidak ada manfaat langsung untuk masyarakat.”

Seringpula kita temui komentar, “Benda itu jauh di sana, meskipun mereka meledak pun tidak ada efeknya bagi manusia,” atau, “Buat apa mempelajari benda-benda yang jauh itu, untuk ke depannya nanti juga susah cari pekerjaan.” Memang kenyataan yang ada untuk menjadi seorang ilmuwan atau lebih khususnya astronom di Indonesia bukanlah perkara yang mudah dengan mempertimbangkan berbagai hal seperti lowongan pekerjaan, prospek masa depan pekerjaan, serta kondisi finansial yang ada.

Hal yang tidak disadari masyarakat kebanyakan bahwa sebenarnya banyak teknologi sehari-hari yang justru awalnya ditemukan dalam rangka untuk mengembangkan penelitian astronomi. Contohnya adalah CCD (Charge Coupled Device), yaitu sensor yang ada pada semua kamera, baik kamera digital, DSLR, webcam ataupun pada setiap mobile phone.

Tidak hanya itu, lensa antigores yang digunakan pada kebanyakan lensa kacamata, kawat gigi transparan, filter air juga merupakan hasil penelitian ilmuwan NASA untuk pendukung misi luar angkasanya. Waktu implementasinya memang tidak bisa dalam hitungan bulan, tetapi baru bertahun-tahun kemudian kegunaannya dapat dirasakan oleh khalayak umum.

Nah, di zaman globalisasi seperti ini, jarak dan batas antarnegara bukanlah menjadi batu sandungan untuk saling bertukar informasi ataupun bekerja sama. Dengan ditemukannya alat komunikasi dan transportasi yang memadai dan canggih, batas antarnegara pun menjadi lebih tidak kasat mata. Dalam dunia astronomi, penelitian yang dilakukan tidak lagi dalam skala nasional namun internasional.

Astronom (peneliti astronomi) di Jepang dengan teleskopnya yang bersifat ground-based tidak dapat mengamati semua benda langit yang berada di langit bagian selatan sehingga membutuhkan kerja sama dengan teleskop milik ESO (European Southern Observatory) yang salah satunya adalah VLT (Very Large Telescope) yang terletak di Chile, Amerika Selatan. Astronom Indonesia pun kerap bekerja sama dengan astronom Jepang untuk dapat menggunakan teleskop Subaru.

Kolaborasi astronom internasional membawa semangat yang luar biasa untuk tidak lagi mengedepankan kepentingan negara masing-masing, tetapi lebih mengutamakan keuntungan yang dapat diperoleh umat manusia ke depannya. Tentunya hal ini pun bisa membawa semangat perdamaian bagi kita semua.

Penelitian dalam astronomi juga membutuhkan instrumen yang terkini. Industri robot, optik, aeronautik, material dan banyak yang lain sangat dibutuhkan kontribusinya dalam menghadapi kebutuhan teknologi para astronom yang semakin hari semakin cepat perkembangan ilmunya. Hal ini secara tidak langsung akan menciptakan usaha-usaha dari industri untuk memenuhi permintaan pasar yang notabenenya juga akan menciptakan lapangan kerja baru bagi ribuan bahkan puluhan ribu orang di berbagai negara.

Astronom Afrika Selatan, Kevindran Govender, pernah berkata, “Strengthening astronomy in poor nations can help promote socio-economic development (Memperkuat astronomi di negara miskin dapat membantu perkembangan sosio-ekonomi).” Hal ini dapat kita lihat secara nyata pada perkembangan Thailand melalui institusi NARIT (National Astronomical Research Institute of Thailand).

NARIT saat ini banyak memberikan beasiswa pada pelajarnya untuk belajar astronomi di berbagai negara maju. Selain itu, Thailand saat ini merekrut banyak astronom dari berbagai negara tetangga untuk membangun fondasi astronomi di Thailand. Hal ini secara tidak langsung akan merangsang warga negara yang bersangkutan agar dapat mengikuti perkembangan teknologi terkini.

Merintis perjalanan menuju astronom profesional

Di Indonesia, masih banyak pelajar SMP dan SMA maupun S1 yang ingin mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang astronom (dalam artian astronom profesional). Mari kita lihat satu per satu.

Seperti nasihat pada umumnya, kita tahu harus belajar dengan keras, terutama dalam ilmu alam, matematika (karena matematika adalah “bahasa” yang dapat menceritakan berbagai kejadian fisis yang ada), dan bahasa Inggris. Kenapa bahasa Inggris? Seperti telah disebutkan, kerja sama internasional dalam astronomi sangatlah intens terjadi. Selain itu, kebanyakan buku teks dan paper (makalah) masih banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Keikutsertaan dalam lomba karya tulis akan memberikan modal yang sangat berharga untuk masa depan seorang astronom maupun ilmuwan yang lain. Lomba karya tulis dapat melatih bagaimana menulis paper atau menjelaskan sesuatu dalam bentuk tulisan yang terstruktur dengan landasan teori yang kuat.

Bagi seorang observer (pengamat, istilah yang digunakan untuk astronom yang menggunakan teleskop untuk mendapatkan data bagi penelitiannya), menulis adalah kemampuan yang sangat diperlukan karena untuk dapat menggunakan teleskop kita harus membuat sebuah proposal dengan landasan ilmiah yang tepat dan mudah dimengerti para referee (juri yang menilai proposal yang diusulkan apakah dapat diterima atau tidak). Beberapa hal yang dinilai adalah keterpercayaan landasan ilmiah, kemungkinan pencapaian target dengan alat yang diajukan, serta kejelasan tujuan penelitian.

Perlu diketahui proposal yang diajukan biasanya hanya beberapa halaman. Misalnya, untuk penggunaan teleskop Subaru di Jepang hanya memerlukan satu halaman proposal untuk mode servis dan 2 halaman untuk mode normal (justifikasi ilmiah) sehingga diperlukan kecakapan dalam menuangkan dan menjelaskan ide dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas.

Perkembangan astronomi zaman sekarang sangatlah cepat. Dalam waktu beberapa bulan atau beberapa minggu bisa ditemukan hal yang baru sehingga sedini mungkin mengikuti perkembangan astronomi akan sangat membantu perkembangan karir di masa depan. Kita perlu membaca banyak majalah astronomi ataupun paper baru yang beredar di jaringan komunitas ilmiah.

Bagi pelajar SMP dan SMA, mengikuti olimpiade astronomi mungkin cukup membantu karena dalam olimpiade kita harus mempelajari astronomi dasar yang tentunya belum tentu ada di kurikulum SMP ataupun SMA. Mempelajari astronomi dasar sejak dini sangatlah penting untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam tentang hal fisis karena fisika akan digunakan secara langsung untuk berbagai persoalan astronomi.

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam menekuni astronomi adalah mempelajari bahasa pemrograman seperti C, C++, Fortran, atau Python. Tidak hanya para perumus teori saja yang menggunakan komputer untuk perhitungan atau simulasi, tetapi juga para observer membutuhkannya untuk berbagai reduksi data dan post-processing data yang ada. Kemampuan pemrograman pun sangat berguna dalam berbagai aspek kehidupan kita sehari-hari, tidak hanya dalam astronomi.

Mengambil kuliah di peminatan astronomi atau fisika adalah pilihan yang terbaik untuk merintis karir sebagai astronom profesional. Fisika merupakan hal yang fundamental dalam mempelajari astronomi. Namun, tidak ada salahnya mempelajari kimia dan biologi karena ada juga cabang astronomi yang disebut dengan astrobiologi yang mempelajari planet lain secara biologis dan kimia.

Jurusan teknik mungkin pula berguna jika seseorang memiliki minat dalam instrumen astronomi. Cukup banyak staf yang bekerja di observatorium-observatorium yang memiliki latar belakang murni teknik. Mereka bekerja untuk merawat dan mengembangkan instrumentasi yang ada. Mereka pun harus cukup mengetahui astronomi dasar.

Dalam meniti karir sebagai astronom profesional, ada baiknya kita mengambil pendidikan hingga doktor/S3 lalu dilanjutkan dengan program post-doctoral yang dapat diambil di manapun sesuai dengan minat masing-masing. Program post-doctoral ini ada beberapa jenis. Ada yang dapat mengerjakan penelitian sesuai dengan minat masing-masing ada juga yang topik penelitiannya telah ditentukan dari institusi yang bersangkutan. Sebelum memiliki posisi di universitas, lembaga riset ataupun industri, kita dapat mengambil post-doctoral beberapa kali satu tempat ataupun di tempat yang berbeda. Lebih lanjut mengenai karir sebagai astronom dapat disimak di http://aas.org/learn/careers-astronomy

Bekerja sebagai astronom merupakan pekerjaan yang sangat menarik. Seorang teman pernah berkata, “We got paid for doing our hobby (kita dibayar untuk melakukan hobi kita).” Pesan pentingnya adalah agar kita melakukan dengan sungguh-sungguh apa yang kita cintai, dan uang akan datang dengan sendirinya.

Bahan bacaan:

Penulis:
Stevanus K. Nugroho, mahasiswa master di Astronomical Institute, Tohoku University, Jepang, penerima beasiswa LPDP tahun 2013. Kontak: sknugroho@astr.tohoku.ac.jp