Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Untuk Apa Belajar Etika?

Pelajaran etika biasanya diajarkan oleh guru bimbingan dan konseling dan guru agama. Atau di beberapa sekolah, pelajaran ini juga diajarkan secara tidak langsung oleh semua guru beserta staf sekolah. Mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya, untuk apa etika diajarkan?Padahal, ia bukanlah bahasa Inggris, matematika,atau pelajaran “utama” lainnya yang diujikan dalam UN maupun ujian masuk universitas. Lantas, atas dasar apa kita wajib belajar etika?

Seperti yang kita ketahui, tidak ada nilai pelajaran etika yang ditulis dengan angka di rapor. Etika memang tidak dapat diukur dengan nilai kuantitatif dikarenakan etika itu sendiri berarti aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani Ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.

Bayangkan suatu ketika siswa A melihat sampah tergeletak, ia langsung memungutnya tanpa diperintah, sedangkan siswa B ketika melihat sampah lantas membiarkannya. Di antara siswa A dan B, manakah yang beretika? Hati kita dengan tegas menjawab si A. Namun, apakah perilaku tersebut muncul seketika? Tentu saja tidak. Orang-orang yang beretika dapat memiliki etika tersebut karena diajarkan dan dibiasakan sehingga timbul kesadaran akan nilai-nilai kebaikan.

Tidak hanya guru, sebenarnya orang tua dan masyarakat juga sangat penting mengajarkan etika. Tujuan mempelajari etika yakni untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Ketika seorang siswa mengetahui etika yang ada di masyarakat, diharapkan meraka akan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebab, ketika bersentuhan langsung dengan masyarakat, siswa ini tidak akan dinilai dan ditanya tentang pelajaran akademis. Yang masyarakat nilai adalah aksi nyata dan perilakunya.

Bagaimana cara mengajarkan etika yang paling efektif? Banyak caranya.Diantaranya mengajarkan pemahaman agama yang benar, memberikan nasihat, kisah, materi tentang akhlak, dan cara yang paling penting yakni menjadi contoh nyata. Di sekolah, siswa akan menilai setiap ucapan gurunya. Siswa ini juga dibentuk oleh lingkungan masyarakat dan keluarganya. Oleh karena itu, perkataan haruslah sesuai dengan perilakunya. Jangan salahkan seorang siswa ketika ia kurang sopan dan tidak mendengarkan guru di sekolah, bisa jadi ada kesalahan pada diri guru. Namun, bisa jadi juga, siswa tersebut memang berasal dari lingkungan yang buruk dan keluarga yang kurang perhatian.

Sayangnya, meskipun diketahui bahwa etika itu penting, terkadang sekolah masih lebih mengedepankan kecerdasan intelektual. Siswa berkepribadian baik dan disiplin jarang menjadi sorotanbila mereka memiliki nilai akademis yang tidak mencapai standar. Kita memang sering mengharapkan secara bersamaannilai tinggi dan akhlak mulia ada dalam diri setiap siswa,tetapi itu mustahil terjadi begitu saja.

Pola pikir bahwasanya tujuan sekolah bukan hanya sekedar untuk masuk universitas terkenal atau bekerja diperusahaan ternama haruslah ditanamkan sejak dini. Sekolah untuk belajar tentang kehidupan melalui materi yang diajarkan, bertoleransi terhadap sesama, dan menjadi kuat dalam menghadapi masalah. Ada baiknya guru tidak memarahi siswa yang bernilai akademis kecil karena tidak seorangpun yang ingin mendapatkannya. Bukan kemarahan yang pantas mereka dapatkan, melainkan bimbingan dan motivasi agar mereka menjadi lebih baik.

Ada prinsip dalam bimbingan dan konseling yang mungkin bisa menjadi pemahaman yang perlu kita renungkan. Prinsip itu adalah KTSP (Konseling/Siswa Tidak Pernah Salah) sebab pada dasarnya setiap individu, terlebih anak-anak, selalu ingin menjadi orang yang baik. Tentu saja, anak yang berbuat salah harus dikatakan salah,tetapi guru tidak bertugas untuk menyalahkan siswa. Perlu diingat nilai kecil bukanlah kesalahan.Kesalahan terletak pada perilaku malas.Yang wajib dilakukan adalah memunculkan kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat tanpa merusak dan menjatuhkan harkat martabatnya.

Jika siswa ternyata memang sulit memperbaiki nilai akademisnya karena kemampuannya, kita bisa cukup menilai tingkah laku kebaikannya sehari-hari. Selain itu, siswa dapat diarahkan untuk memunculkan potensi terpendam yang ia punya yang menjadi kelebihan dirinya dibandingkan siswa yang lain.

Semoga guru, orang tua, siswa, dan masyarakat secara umum mengerti pentingnya etika dalam kehidupan. Siswa tidak hanya belajar keras ketika menghadapi ujian,tetapi merekapun bekerja keras dalam mempelajari lingkungan sekitar dan bagaimana menyikapinya. Tujuannya agar siswa menjadi pribadi yang unggul dimanapun mereka berada dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Bagaimanapun, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Bahan bacaan:

Penulis:
Pepi Nuroniah, Guru BK di MAN 2 Serang, Banten. Kontak: pepinuroniah(at)yahoo(dot)com.