Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Di Jepang Tidak Ada McD, Hanya Ada Makku Donarudo

McD dengan simbol seperti angka 3 tengkurap ini khas banget, menjadikan siapa saja dengan mudah mengingat simbol ini. Jika teman-teman mempunyai kesempatan berkunjung ke Jepang, coba perhatikan apa yang tertulis di sebelah simbol itu.

Gerai McD di Jusco Mall, Kota Miyoshi (dok. pribadi)

Gerai McD di Jusco Mall, Kota Miyoshi.

Bukan bunyi ucapan “McD” yang bisa kita sebut dalam bahasa Indonesia, tetapi dilafalkan sesuai dengan huruf yang dimiliki dalam bahasa Jepang. Menjadikan bunyi yang berbeda sama sekali dan menjadi trade mark dengan sebutan “マックドナル (Makku Donarudo)”, ditulis menggunakan huruf katakana.

Masalah huruf bahasa Jepang memang sedikit rumit. Dalam sehari-harinya mereka biasa menggunakan empat jenis huruf sekaligus dalam satu kalimat. Keempat jenis huruf tersebut adalah huruf alfabet, katakana, hiragana, dan kanji.

Huruf alfabet disebut juga dengan ローマ字 (roma-ji), atau huruf roma. Sebagian dari mereka lebih suka mengistilahkan dengan eigo. Padahal eigo itu artinya “bahasa Inggris” lho. Mungkin karena bahasa Inggris itu jelas ditulis dengan alfabet, semua kata yang bertuliskan alfabet, disebut dengan eigo.

Huruf Kana terdiri dari Katakana dan Hiragana. Ciri khasnya adalah berbunyi atas dasar susunan silabel atau sukukata, mirip dengan “ha na ca raka” dalam aksara bahasa Jawa. Asal usul pembentukannya dari penyederhanaan huruf-huruf kanji. Huruf kanji masuk ke Jepang bersamaan dengan agama Buddha pada abad ke-5. Adanya kedua huruf kana inilah yang membedakan antara huruf kanji dalam bahasa Jepang dan huruf kanji dalam bahasa Mandarin.

Menurut sejarahnya, huruf Katakana diciptakan oleh laki-laki, sedangkan huruf Hiragana oleh perempuan. Oleh karena itu, bentuk huruf Katakana terkesan kaku. Jumlahnya untuk “formasi dasar”, 46. Semuanya berbunyi a-i-u-e-o dan suku kata perpaduan a-i-u-e-o dengan konsonan k(g)-s-t-n-h(p-b)-m-y-r-w. Untuk “formasi pengembangan” semua yang berbunyi “i” digabung dengan “ya-yu-yo”. Contohnya き(ki)ょ(yo), dibunyikan きょkyo.

Ada juga aturan untuk memanjangkan bunyi, yang dihitung sebagai satu silabel (suku kata), seperti さ(sa)よ(yo)う(u)な(na)ら(ra). Namun, jika sudah ditulis dengan alfabet, huruf panjang ini biasanya tidak begitu diperhatikan. Satu-satunya konsonan yang berdiri sendiri hanya “n”, dan dihitung satu suku kata. Misalnya nama “Doraemon”, yang jika diucapkan dalam bahasa Indonesia terdiri dari empat suku kata, yaitu do-ra-e-mon, tetapi dalam bahasa Jepang terdiri dari lima suku kata, yakni ど(do)ら(ra)え(e)も(mo)ん(n).

Huruf Katakana (カタカナ) digunakan untuk menuliskan kata-kata serapan. Termasuk juga nama orang asing, nama negara, dan lain sebagainya. Sekali lagi, karena huruf Jepang berdasarkan suku kata, banyak kosakata dari bahasa aslinya yang berubah total. Contohnya “knife”, jika ditulis dengan Katakana akan menjadi ナイフ(baca: naifu), disesuaikan dengan bunyinya. Contoh yang lain, nama “Parastuti” ditulis menjadi パラストゥティ (baca: parasutoutei). Wah, rusaklah nama saya. Mc Donald pun, ditulis menjadi マックドナルド(baca: makku donarudo).

Dalam bahasa Jepang, kata serapan yang panjang biasanya disingkat menjadi empat suku kata, tujuannya agar mudah diingat. Contoh, “Personal computer” ditulis パソコン (baca: pasokon). Jangan salah lho, seperti yang telah ditulis di atas, kata “pasokon tersebut terdiri empat suku kata, karena “n” berdiri sendiri dan merupakan satu-satunya konsonan dalam huruf Kana ini.

Huruf Hiragana (ひらがな) digunakan untuk menuliskan kosa kata asli bahasa Jepang. Ada banyak fungsi, salah satunya untuk mengiringi huruf kanji dinamakan 送り仮, okurigana (sebagai pengiring huruf Kanji). Sebagai contoh, kanji 食, mempunyai arti “makan”. Baik native bahasa Jepang maupun Mandarin, bisa dipastikan tahu arti dari huruf Kanji ini. alam bahasa Jepang, untuk membunyikan kosa kata “taberu” yang berarti “makan”, huruf Kanji tersebut perlu diberi huruf Hiragana pengiring, menjadi 食べる. Jadi, gabungan dari ketiga huruf tersebut dibaca seperti ini: huruf Kanji dibaca “ta”, sedangkan huruf Hiragana dibaca “~beru”.

Huruf Kanji ( ) adalah huruf yang berasal dari Cina. Huruf Kanji yang diadaptasi dalam bahasa Jepang untuk pemakaian sehari-hari ini jumlahnya tidak lebih dari 1940an. Namun, yang dipakai dalam karya sastra lebih banyak lagi. Ada beberapa huruf Kanji yang merupakan hasil kreasi bahasa Jepang sendiri. Misalnya 働く (baca: hataraku) yang berarti “bekerja”.

Huruf Kanji bahasa Jepang, termasuk juga huruf Hiragana-Katakana, tetap mempunyai ciri khas walaupun banyak mengadopsi dari huruf kanji Mandarin. Yang membedakan dengan huruf Kanji bahasa Mandarin adalah cara membacanya. Dalam bahasa Jepang, ada “cara baca Jepang” dan “cara baca Mandarin”. Misalnya, お金 dibaca “o-kane menurut cara baca bahasa Jepang. Jika huruf Kanji tersebut digabung dengan huruf Kanji yang lain, seperti dalam kata berikut ini 金曜日 cara bacanya menjadi “kinyoubi. Dan di bahasa asalnya (bahasa Mandarin), huruf Kanji tersebut memiliki arti yang sama juga, yakni emas atau uang.

Sebetulnya, ada satu lagi fungsi dari katakana yaitu untuk menarik atau menekankan perhatian pembaca. Misalnya pada kata カ(ka)ラ(ra)オ(o)ケ(ke), sebetulnya kata karaoke ini dituliskan seperti berikut ini: 空オケ. Huruf Kanji dalam kata tersebut dibaca “kara, yang berarti kosong, dan Katakana-nya dibaca “oke”, singkatan dari kata serapan orchestra, yang bisa diartikan musik. Huruf Kanji 空 tersebut jika digabung dengan kanji 手 (baca: te), yang berarti “tangan”, akan menjadi 空手(baca: karate), yaitu bela diri dengan tangan kosong.

Karena huruf-huruf Bahasa Jepang ini hanya memiliki suku kata, ada beberapa kosa kata yang berubah total cara membunyikannya. Bagi Anda yang memiliki nama “Novita”, jangan kaget jika nama Anda berubah menjadi “Nobita. Itu mah masih nggak masalah, ada teman yang bernama “Askur”, menjadi “Asukuru. Yah begitulah, nama rusak karena orang-orang Jepang itu tidak mengenal konsonan yang berdiri sendiri kecuali “n”. Oleh sebab itu, tidak ada McD di Jepang, yang ada Makku Donarudo.

Catatan: Artikel ini dipublikasi ulang dari blog penulis di Kompasiana dengan beberapa perubahan.

Penulis:
Paras Tuti, kandidat doktor Japanese Studies, Aichi University of Education, Jepang, serta dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya. Kontak: paras2t(at)hotmail(dot)co(dot)jp.