Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Fecal Transplant: Transfer Tinja untuk Pengobatan?

Perkembangan dunia medis menyodorkan sebuah terapi yang tidak kita duga sebelumnya, fecal transplant, alias transplantasi tinja. Istilah tersebut sudah cukup menggambarkan konsep dasar terapi tersebut. Eh, kenapa bisa begitu? Penyakit apa yang bisa terbantu dengan fecal transplant ini? Mari kita simak.

Fecal transplant atau Fecal Microbial Transplant (FMT) adalah metode untuk memindahkan gut microbiome, yakni kumpulan dari berbagai mikroorganisme dalam usus, dengan memindahkan tinja yang diencerkan dari donor orang sehat ke penerima yang sedang sakit. Konsep pemindahan tinja ini sudah tercatat sejak ribuan tahun yang lalu. Literatur Cina dari tahun 1200-an menyebutkan bahwa yellow soup (bisa tergambar terbuat dari apa) digunakan untuk mengobati sakit perut dengan cara diminum.

Suku Bedouin, pengembara Arab, pun menyarankan “tinja unta yang masih segar dan hangat” untuk meringankan penyakit disentri. Perlu diperhatikan, disentri berbeda dengan difteri, ya. Disentri adalah penyakit infeksius yang menyerang organ pencernaan, terutama usus besar, yang mengakibatkan penderita buang air terus menerus. Sementara itu, difteri adalah penyakit yang sama sekali berbeda dengan disentri (http://majalah1000guru.net/2017/12/mengenal-difteri/).

FMT pertama kali digunakan dalam praktik kedokteran modern pada tahun 1958 oleh tim dokter dari Colorado, Amerika Serikat, untuk mengobati infeksi Clostridium difficile yang tidak mempan diberantas oleh antibiotik dengan cara memasukkan fecal matter melalui dubur (enema). Selama bertahun-tahun, FMT digunakan sebagai “usaha terakhir” dalam pengobatan penyakit yang menyerang saluran pencernaan.

Namun, pada tahun 2013, penelitian ilmiah pertama tentang FMT yang menggunakan metode randomized controlled trial (berbobot ilmiah tinggi, karena menggunakan kontrol untuk mengurangi bias) diterbitkan. FMT pun naik tingkat sebagai terapi yang terbukti secara ilmiah dalam pengobatan infeksi Clostridium difficile, bahkan ditanggung oleh asuransi negara di Amerika Serikat.

Seperti yang telah disebutkan, saat ini FMT hanya disarankan untuk mengobati penyakit akibat Clostridium difficile meskipun riset untuk terapi pada penyakit lain sedang dilakukan. FMT juga tidak langsung ditawarkan bagi pasien terinfeksi C. difficile. Mereka terlebih dahulu menjalani terapi antibiotik, misalnya metronidazole atau vancomycin. Sekitar 30% pasien akan mengalami infeksi berulang beberapa hari atau minggu setelah antibiotik habis. Pada saat itu, pasien akan diberikan antibiotik lain dan atau diperpanjang dosis penggunaannya. Nah, ketika semua itu gagal, FMT pun ditawarkan.

Donor pada FMT dapat berasal dari orang sehat yang dikenal pasien atau dari bank tinja (di Amerika Serikat bernama OpenBiome). Donor yang merupakan kerabat mengandung risiko karena kerabat tersebut bisa saja sudah terinfeksi C. difficile tetapi tidak menunjukkan gejala (asymptomatic). Tinja yang akan ditanamkan ke pasien, terlebih dahulu dites di laboratorium, apakah mengandung mikroorganisme patogen, misalnya Salmonella, Giardia, dll. Oleh karena itu, kita tidak boleh gegabah menerapkan FMT tanpa pendampingan pihak yang kredibel.

Metode umum FMT. Ilustrasi alur transplantasi tinja. Sumber: http://bit.ly/fecalmirobiotatrans

Belum ada prosedur standar untuk melakukan FMT, misalnya volume tinja yang dibutuhkan, seberapa encer, apa pengencer yang digunakan dan sebagainya. Umumnya, tinja yang digunakan adalah tinja segar sebanyak 30-100 gram, yang diproses dalam waktu 6-8 jam untuk memaksimalkan daya hidup mikroorganisme. Sampel tinja dihancurkan dengan digerus atau diblender. Sampel kemudian diencerkan 2 sampai 5 kali pengenceran dengan air biasa, air steril, atau susu dengan kadar lemak 4%. Setelah itu, campuran tersebut disaring dan dimasukkan ke dalam alat transfer.

Sampel yang sudah disiapkan tersebut dapat dimasukkan ke dalam usus pasien melalui nasogastric nasoduodenal tubes (tabung dari hidung sampai perut hingga usus besar) atau kolonoskopi dari anus. Setelah itu, pasien akan diberi obat antidiare agar sampel yang baru dimasukkan ke dalam usus besar tidak keluar. FMT, sebagaimana terapi penyakit lainnya, memiliki efek samping, misalnya diare, sembelit, infeksi bakteri dalam darah, dll. Sekali lagi, FMT tidak boleh dilakukan sembarangan! Hingga saat ini pun belum ada bukti ilmiah konklusif untuk FMT dalam pengobatan penyakit, kecuali infeksi C. difficille.

Sampel tinja yang siap ditransplantasi. Sumber: https://hmjournalclub.files.wordpress.com/2013/08/fmt.jpg

Penelitian seputar FMT masih terus dilakukan, misalnya penelitian tentang mikroorganisme apa yang paling berperan, apakah bisa dikultur kemudian diindustrialisasikan. Bila penelitian itu berhasil, risiko infeksi penyakit lain yang berada di dalam tinja donor mungkin dapat dikurangi. Saat ini, bank tinja baru terdapat di Amerika Serikat (OpenBiome), beberapa wilayah di Eropa, dan Hongkong. Kita tunggu bersama apakah FMT ini bisa diterapkan di Indonesia.

Bahan bacaan:

  • Eiseman B, Silen W, Bascom GS, Kauvar AJ (November 1958). “Fecal enema as an adjunct in the treatment of pseudomembranous enterocolitis”. Surgery. 44 (5): 854–9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/13592638
  • van Nood E, Vrieze A, Nieuwdorp M, Fuentes S, Zoetendal EG, de Vos WM, Visser CE, Kuijper EJ, Bartelsman JF, Tijssen JG, Speelman P, Dijkgraaf MG, Keller JJ (January 2013). “Duodenal infusion of donor feces for recurrent Clostridium difficile”. The New England Journal of Medicine. 368 (5): 407–15. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23323867

Penulis:

Ajeng K. Pramono, alumnus  Tokyo Institute of Technology, Jepang, pernah meneliti gut microbiome.
Kontak: ajengpramono(at)gmail(dot)com