Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Mengenal Penyakit Difteri

Saat ini tengah terjadi wabah difteri di berbagai tempat di penjuru Indonesia. Penyakit difteri disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Toksin ini dikode oleh gen bakteriofag (bacteriophage) yang dimasukkan ke dalam genom bakteri. Genom adalah total informasi dalam bentuk DNA di dalam suatu sel. Genom dapat diibaratkan sebagai buku resep besar yang berisi berbagai instruksi membuat berbagai protein yang dibutuhkan oleh sel. Semua sel hidup juga memiliki perangkat yang dibutuhkan untuk membuat bermacam resep protein tersebut, misalnya enzim DNA polymerase, ribosom, dll. Singkatnya, sel hidup memiliki buku resep dan dapur yang lengkap. Di lain pihak, bakteriofag, virus yang khusus menyerang bakteri, hanya memiliki buku resep, genom, tanpa dapur, sehingga mereka harus menggunakan dapur yang hanya dimiliki oleh sel bakteri.

Genom C. diphtheriae pada mulanya tidak mengandung informasi tentang toksin yang menyebabkan penyakit difteri. Namun, ketika β-corynephage, bakteriofag yang menyerang beberapa species Corynebacterium, menginfeksi C. diphtheriae, mereka dapat menyisipkan resep toksin (gen tox) yang ada dalam genomnya ke dalam genom bakteri. Dapur yang dimiliki bakteri ini pun dibajak oleh β-corynephage, sehingga bakteri menjadi memiliki kemampuan untuk membuat toksin yang resepnya berasal dari bakteriofag. Toksin yang dihasilkan dari resep titipan bakteriofag itu disebut Diphtheria toxin (DT). DT sangat beracun bagi manusia dan hewan. Dosis mematikan DT sekitar 0.1 mikrogram per berat badan manusia.

C. diphtheriae yang telah dibajak oleh β-corynephage inilah yang menyebabkan penyakit difteri yang sangat menular. Penyakit ini ditularkan lewat udara, melalui percikan ludah atau dahak penderita, dan melalui kontak langsung dengan penderita dan benda-benda yang tercemar oleh bakteri difteri. Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri ini pun tumbuh di jalur masuknya, biasanya di lapisan mukosa saluran pernafasan atas, mulut, bahkan ada pula yang hidup di mukosa kelopak mata. Bakteri ini kemudian menghasilkan toksin, DT, yang membuat sel-sel di sekitar lokasi infeksi menjadi mati (necrosis), sehingga membentuk pseudomembrane. Usaha melepas pseudomembran dapat mengakibatkan pendarahan hebat, sehingga itu tidak dapat dilakukan. Pseudomembran yang menutupi tenggorokan atas dapat menyebabkan pasien sulit bernafas kemudian meninggal. Untuk menghindari itu, lubang dapat dibuat di leher, sehingga udara dapat langsung masuk ke tengah tenggorokan. Prosedur ini pastinya sangat traumatis bagi pasien.

Berbagai manifestasi difteri

Gambar pseudomembran.

Ilustrasi Tracheotomy.

C. diphtheriae biasanya tidak bisa menyebar di luar dari pseudomembran, tetapi toksin yang dihasilkannya bisa. Toksin difteri dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung (miokarditis) dan saraf (neuritis) yang melemahkan otot jantung sehingga bisa terjadi kematian mendadak akibat gagal jantung.

Orang tua yang khawatir, dapat saja salah mengenali bercak di sekitar tenggorokan sebagai ciri difteri, padahal ada penyakit lain yang juga dapat menyebabkan itu, misalnya radang tenggorokan, tonsilitis, dsb. Oleh karena itu, penetapan kasus difteri dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menumbuhkan bakteri dari pseudomembran kemudian memeriksa jenis bakteri apa yang tampak, dan juga melalui pewarnaan khusus.

C. diphtheria Gram.

Penyakit difteri dapat dicegah dengan vaksinasi. Uniknya, vaksin difteri bukan vaksin yang mengandung partikel bakteri atau virus, melainkan mengandung toksin difteri. Toksin difteri yang sudah dilemahkan menggunakan formalin, tidak lagi berbahaya bagi tubuh manusia, tetapi masih tetap bisa memicu respon imunitas tubuh, sehingga tubuh dapat memiliki antibodi tanpa harus terpapar bakteri yang mematikan. Vaksin difteri ini disebut diphtheria toxoid.

Sayangnya, meskipun vaksin difteri terbukti ampuh dalam mencegah kasus dan kematian akibat penyakit difteri, wabah masih bermunculan di tempat dengan tingkat imunisasi yang rendah. Tingkat imunisasi yang rendah dapat disebabkan oleh penolakan vaksinasi oleh golongan antivaksinasi, atau rendahnya cakupan vaksinasi ulangan. Vaksin difteri di Indonesia diberikan dalam 4 dosis kepada anak sampai berusia 18 bulan, untuk mendapatkan jumlah antibodi yang dapat memerangi bakteri difteri. Namun, antibodi yang dihasilkan tubuh dapat berkurang seiring waktu, sehingga vaksinasi butuh kembali dilakukan pada usia 5 tahun, 10 tahun dan 18 tahun untuk memastikan jumlah antibodi terhadap difteri dalam tubuh mencukupi. Itulah kenapa, pada grafik yang disebarkan oleh para penggiat antivaksinasi, tampak cakupan imunisasi difteri tinggi, tetapi wabah tetap terjadi; padahal grafik tersebut adalah grafik cakupan pada bayi di bawah usia 18 bulan, sedangkan sebagian besar populasi tidak tercakup di dalamnya.

Jadwal Imunisasi anak

Vaksin untuk orang dewasa

Pada tahun 2017, terdapat 608 kasus difteri di Indonesia, 66% tidak vaksinasi, 33% vaksinasinya tidak lengkap dan hanya 1% yang divaksin lengkap. Menghadapi wabah ini, pemerintah mengadakan Outbreak Response Immunisation, ORI. ORI ditujukan kepada anak dan dewasa dalam rentang usia 1 hingga 19 tahun, dengan tiga dosis 0, 1, dan 6 bulan, dimulai tanggal 11 Desember 2017. Kegiatan ini akan dilaksanakan di sekolah, posyandu, puskesmas dan rumah sakit. Semua anak yang masuk kriteria wajib ikut tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.

Penyakit difteri sudah tidak pernah terdengar lagi di banyak negara yang cakupan vaksinasinya tinggi. Di negara-negara Eropa dan Amerika, apabila kita mengunjungi pekuburan dengan nisan batu kuno bertuliskan banyak nama dalam satu keluarga, dewasa dan anak, serta tahun kematian yang berdekatan, seringkali kematian itu disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin, salah satunya difteri (gambar: nisan). Jangan sampai kita mengalami kembali ke zaman itu, mari kita sukseskan program ORI dari pemerintah, agar difteri tidak kembali.

Nisan dengan nama-nama anggota sebuah keluarga yang meninggal dalam waktu berdekatan.

Bahan bacaan:

Penulis:
Ajeng K. Pramono, mahasiswi S-3 Jurusan Biologi, Tokyo Institute of Technology, Jepang.
Kontak: ajengpramono(at)gmail(dot)com.