Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Demam, Apakah Selalu Merugikan?

Demam atau panas badan merupakan gejala penyakit yang seringkali dijumpai pada manusia sejak anak-anak, dewasa, hingga masa lanjut usia. Timbulnya demam akan mengakibatkan metabolisme meningkat sehingga frekuensi denyut jantung juga meningkat. Selain itu, biasanya demam juga diiringi rasa tidak enak badan, nyeri sendi, dan juga delirium (mengigau). Apa yang terjadi saat seseorang mengalami demam dan apa yang mesti dilakukan untuk menanggulangi demam menjadi suatu hal yang penting bagi kita untuk mengetahuinya. 

Bagaimana tubuh mempertahankan suhu ?

Suhu tubuh manusia normalnya adalah sekitar 36-38 derajat Celcius. Suhu ini dipertahankan melalui energi yang dihasilkan oleh proses metabolisme dari zat-zat makanan dengan sumber karbohidrat, lemak, dan protein di sel-sel tubuh, khususnya di mitokondria. Energi yang dihasilkan dalam bentuk ATP sebagian diubah menjadi energi panas yang digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh. Pusat pengatur suhu sendiri terdapat di hipotalamus, bagian dari otak. Di sinilah suhu tubuh diatur dan dipertahankan dengan pengaturan setting point suhu.

Demam dapat disebabkan oleh infeksi maupun oleh penyebab lain, seperti keganasan (neoplasma/kanker), penyakit autoimun, dan penyakit hipertiroid. Biasanya demam terjadi ketika seseorang mengalami infeksi baik oleh bakteri maupun virus. Jika bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh manusia, keduanya akan menghasilkan zat-zat pyrogen (zat yang menyebabkan demam) yang akan meningkatkan setting point suhu di hipotalamus, dengan cara merangsang pelepasan PGE2 (prostaglandin2). Hal ini menyebabkan suhu setting point dan suhu tubuh menjadi berbeda. Suhu setting point lebih tinggi daripada suhu tubuh.

Suhu tubuh akan meningkat untuk menghilangkan perbedaan dari suhu setting point sehingga menyebabkan demam. Pada saat awal kenaikan panas tubuh, suhu tubuh yang lebih rendah daripada setting point menyebabkan terjadinya vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah untuk mencegah hilangnya panas dari tubuh. Penderita akan merasa kedinginan dan menggigil untuk meningkatkan suhu tubuh meskipun jika diukur tubuhnya akan terasa panas. Peristiwa ini akan berhenti apabila suhu tubuh sudah sama dengan setting point suhu di hipotalamus.

Bagaimana obat penurun demam bekerja?

Obat-obatan penurun demam sudah umum digunakan masyarakat. Pada umumnya, obat-obatan tersebut mengandung jenis antipyretic (penurun panas) yang paling aman, yaitu paracetamol atau acetaminophene. Jenis obat ini akan menghambat terbentuknya PGE2 sehingga setting point di hipotalamus akan menurun. Penurunan suhu setting point ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh untuk menyamakan dengan suhu di setting point sehingga tubuh yang tadinya demam, akan normal kembali.

Ed36-kesehatan-1

Ketika terjadi penurunan setting point, suhu tubuh yang lebih tinggi akan mengakibatkan terjadinya vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah sehingga panas akan lebih mudah dilepaskan melalui radiasi. Hal ini akan diiringi dengan peningkatan penguapan (evaporasi) yang ditandai dengan keluarnya keringat sehingga suhu tubuh turun.

Bagaimana mengukur suhu tubuh?

Secara sederhana, sebenarnya kita dapat mengukur suhu tubuh dengan menggunakan punggung tangan kita sebagaimana yang sering dilakukan orang tua kita dengan menempelkan punggung tangan ke kepala. Cara ini tergolong praktis untuk pemeriksaan awal menentukan seseorang demam atau tidak. Sayangnya, tidak semua orang memiliki sensitivitas yang sama dalam menentukan ketidaknormalan suhu tubuh.

Agar lebih akurat, kita dapat menggunakan termometer, baik yang berupa termometer raksa ataupun termometer digital. Alat ini bisa dibeli di toko alat kesehatan atau juga di apotek. Model termometer raksa sekarang sudah mulai ditinggalkan karena waktu pengukurannya yang relatif lama, sekitar 5-10 menit. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini kita dapat menggunakan termometer digital yang lebih praktis dan waktu pengukuran lebih cepat. Suhu tubuh normal manusia adalah 36,1–37.8 °C. Bila lebih dari rentang itu, seseorang dapat dikatakan menderita demam. Tempat pengukuran dapat dilakukan di beberapa tempat, di antaranya:

  • Oral, yaitu diletakkan di bawah lidah
  • Aksila, di lipat ketiak
  • Rectal, yaitu di dubur
  • Timpani, yaitu di telinga

Dari keempat tempat tersebut, pengukuran di timpani atau di telinga menggunakan termometer infra merah merupakan cara yang paling akurat, karena suhu tubuh yang didapat lebih dekat dengan suhu inti tubuh, sedangkan yang paling tidak akurat adalah pengukuran di aksila dikarenakan pengaruh suhu lingkungan yang besar dan adanya pengaruh dari keringat.

Demam vs obat penurun panas

Demam sebenarnya merupakan usaha tubuh untuk melawan kuman-kuman yang masuk ke dalam tubuh. Kenaikan suhu tubuh akan menghambat proses kembang biak bakteri maupun virus dengan cara menghambat replikasi (penggandaan materi genetik untuk memperbanyak diri) DNA pada bakteri dan RNA pada virus. Dengan cara ini, jumlah bakteri maupun virus akan dibatasi.

Selain menghambat kembang biak kuman, demam juga dapat menjadi alarm dari tubuh yang menandakan adanya sesuatu yang tidak beres dalam tubuh, apakah karena infeksi maupun karena sebab lainnya. Dengan mengamati pola demam, dokter dapat mengenali jenis kuman yang menyerang tubuh penderita. Misalnya, infeksi Salmonella typhi yang menyebabkan typhoid dapat menimbulkan pola demam yang khas, yaitu saat malam hari suhu tubuh naik, sedangkan pada pagi hari suhu tubuh turun. Pola demam ini berulang terus seperti gambaran anak tangga. Sementara pada kasus demam berdarah (DB), pola demam biasanya dalam bentuk sadle appearance (seperti pelana kuda), yakni suhu tubuh naik pada hari ke-1 sampai 3, menurun pada hari ke-3 sampai 5, dan naik kembali pada hari ke-6 hingga ke-7.

Dengan mengetahui pola demam, dokter berusaha menentukan terapi yang tepat sesuai dengan penyebab infeksi. Pola demam yang khas tidak akan terjadi bila penderita menggunakan obat-obatan penurun panas karena demam akan segera turun setelah pemakaian obat penurun panas, dan akan naik kembali jika pengaruh obat telah habis. Demam hanyalah gejala dari suatu penyakit, penggunaan obat-obatan penurun panas hanya akan menurunkan demam sementara waktu. Jika penyebabnya belum teratasi, demam akan timbul kembali.

Bagaimana menyikapi demam?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menyikapi demam:

  • Jika demam menyerang, sebaiknya kita beristirahat karena demam merupakan usaha tubuh untuk melawan infeksi kuman.
  • Jika demam sangat mengganggu, lakukan kompres air hangat di kepala untuk menurunkan suhu tubuh, serta minum banyak air untuk mencegah dehidrasi. Kompres air hangat akan menyebabkan otak menerima informasi bahwa suhu tubuh terlalu tinggi sehingga setting point di hipotalamus akan diturunkan. Hal ini menyebabkan suhu tubuh akan mengikuti penurunan setting point. Sebaliknya, bila kepala dikompres dengan air dingin, otak akan menerima informasi bahwa suhu sekitar terlalu rendah sehingga setting point tidak akan turun. Bahkan, penderita akan merasa kedinginan dan tubuhnya akan menggigil untuk menaikkan suhu tubuh yang lebih rendah dari setting point di hipotalamus.
  • Jika demam tidak turun juga, kita dapat menggunakan obat-obatan penurun panas.
  • Jika demam naik lagi setelah pengaruh obat habis, sebaiknya kita berkonsultasi pada dokter untuk mengetahui penyebab demam tersebut dan cara penanggulangannya.
  • Pada anak-anak usia 0-2 tahun, demam dapat mengakibatkan timbulnya kejang (step) untuk sebagian anak. Kejang demam merupakan salah satu keadaan yang memerlukan tindakan segera untuk menghentikannya karena dapat mengakibatkan rusaknya otak. Pada usia tersebut pemberian obat-obatan penurun panas merupakan pilihan yang tepat untuk mencegah timbulnya kejang saat terjadi demam pada anak.

Nah, apakah demam selalu merugikan? Silahkan Anda menilainya sendiri.

Bahan Bacaan:

Penulis:
Afiat Berbudi, mahasiswa doktor di University of Bonn, Jerman, serta dosen FK Unpad, Bandung.
Kontak: berbudi(at)uni-bonn(dot)de