Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Masalah, Hadapi atau lari?

Apa yang akan kita lakukan ketika apa yang kita inginkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya dan itu mengganggu ritme hidup kita? Biasanya kita mulai bertanya, “Kenapa ini harus terjadi kepada saya?” Jika ini yang ada dalam hati kita, kita mungkin bertanya lagi, “Apa yang seharusnya saya lakukan?” Jika pertanyaan kedua ini yang kita tanyakan dalam hati kita, terkadang timbul pengandaian dalam benak kita, “Seandainya waktu bisa diputar kembali, seandainya saya dapat mengendalikan emosi dan seandainya saya lebih bersabar ini semua tidak akan terjadi.”

Apabila hal-hal itu terjadi dalam diri kita, berarti kita sedang menghadapi sebuah masalah. Perasaan gelisah, timbulnya berbagai pertanyaan dalam hati kita, dan pernyataan berbagai penyesalan serta berbagai keluhan yang ada mencirikan diri kita mungkin orang yang paling banyak masalahnya di dunia. Namun, sebenarnya jika kita berpikir dengan hati yang tenang, pada dasarnya semua orang di bumi ini memiliki masalah. Orang kaya, miskin, wanita cantik, pria tampan, anak kecil maupun orang tua, semua pasti memiliki masalah.

Penyebab dari timbulnya masalah bisa dari berbagai hal, misalnya ekonomi, hubungan sosial, hubungan rumah tangga, pelajaran, hingga pekerjaan. Besar dan kecilnya sebuah permasalahan ditentukan oleh pola pikir manusia itu sendiri. Ketika dia mengganggap masalah itu adalah “masalah”, maka itu akan benar-benar menjadi masalah. Sebaliknya ketika permasalahan dianggap sebagai tantangan atau hal biasa yang dialami oleh semua manusia, maka itu bukanlah hal apa-apa. Sesuai dengan teori eksistensialisme, “Bahwasanya kamu adalah dirimu yang kamu setujui.” Meskipun memang benar terkadang datangnya masalah dari orang lain, tetapi otoritas menjadikannya masalah adalah cara pandang diri kita sendiri.

Oleh karena, sebagai manusia, hal yang paling perlu dilakukan adalah mencari jalan bagaimana menghadapi masalah yang ada. Hadapi atau lari, dua pilihan itu yang seringkali ada pada manusia. Keduanya memiliki risiko yang harus dijalani. Dalam tinjauan psikologi, orang dewasa dapat memilih lari dari masalah atau menghadapinya. Ketika memilih lari, awalnya merasa sudah  terbebas dari beban yang ditanggungnya. Sayangnya, perasaan bebas tersebut hanya bersifat sementara, tidak permanen.

Cemas dan khawatir akan tetap hadir dalam diri yang belum menyelesaikan masalahnya. Bagi yang memilih untuk menghadapinya, maka mereka adalah orang-orang yang mandiri. Tentu saja mandiri bukanlah mandi sendiri, melainkan ia dapat memahami dan menerima diri sendiri secara apa adanya tanpa dilebih-lebihkan atau dikurangi, terbuka untuk kondisi yang lebih baik dan berkembang ke depan. Selain itu, ia juga memahami dan menerima lingkungannya, mampu mengambil keputusan yang bertujuan mengarahkan diri sendiri dan mewujudkannya dalam perilaku.

Sebagai contoh, mari kita coba bandingkan kondisi sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia dan Jepang. Indonesia adalah zamrud khatulistiwa yang mengandung berbagai kekayaan alam sampai ada sebuah lagu yang mengumpamakan bahwa tongkat kayu dan batu jadi tanaman, dan kail serta jala cukup menghidupi warganya. Namun, kondisi ini justru menjadi penarik bagi kaum penjajah untuk datang ke Indonesia yang akhirnya menjadi “masalah” bagi Nusantara waktu itu. Kondisi berbeda dengan Jepang, negeri yang sumber daya alamnya sangat minim. Dengan kondisi yang “miskin” SDA, yang awalnya dipandang sebagai masalah bagi negaranya, tetapi justru menjadi pemicu agar mereka tetap survive, kemudian mereka berkembang menjadi negara maju.

Inilah cara pandang berbeda dari sebuah kondisi, yang akhirnya menganggapnya sebagai masalah atau tantangan. Kedua kondisi ini sangat tipis bedanya dan akan sangat berbeda efeknya ketika memandang dengan cara yang berbeda. Ada seorang filsuf yang mengatakan bahwa, Sebuah masalah adalah tantangan untuk menjadi kondisi yang lebih baik lagi”. Namun, memang tidak mudah untuk berfikir yang demikian karena menyikapi masalah tidaklah mudah bagi seseorang yang baru mengalaminya. Terkadang, ada masalah yang dipandang berat oleh seseorang tetapi dipandang ringan oleh orang lain.

Contoh lain adalah siswa berprestasi yang selalu mendapatkan nilai A dan B tiba-tiba dia mendapatkan nilai C itu akan menjadi gangguan hebat baginya. Berbeda dengan siswa yang sering mendapat nilai D, C, B, ketika dia mendapat nilai yang kecil, dia tidak merasa terganggu. Begitulah, pada hakikatnya gangguan dan kesulitan tergantung bagaimana seseorang tersebut memandang permasalahannya. Penyelesaian atau pemecahan masalah itu sendiri adalah bagian dari proses berpikir.

Sering dianggap bahwa proses pemecahan masalah merupakan proses paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan. Pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan-keterampilan dasar yang dimiliki manusia.  Keterampilan ini perlu dikembangkan sebab tidak mungkin seseorang langsung menjadi orang yang mandiri dan mampu menangani setiap masalahnya. Diperlukan pengetahuan, pembelajaran dan proses untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

Yang perlu disadari ketika kita memiliki masalah dan membiarkannya berlarut-larut. Menurut Prof. Prayitno, masalah yang dibiarkan berlarut-larut akan menenggelamkan kita dalam keadaan KES-T yakni Kehidupan Efektif Sehari-hari yang Terganggu, dengan ciri utama: (1) terhambat/terlambat/terhalang, (2) terancam/tertindas, (3) terugikan/terabaikan, (4) terlanjur/terlalu, dan (5) ternoda. Kondisi KES-T dimungkinkan terjadi karena kurangnya kemandirian atau lemahnya semangat/upaya meraih sukses. Masalah yang berlarut-larut pada akhirnya bisa menyebabkan stres dan sakit secara fisik.

Ada beberapa tips atau cara untuk meringankan sebuah masalah sebagai berikut :

  1. Memiliki pengertian dan pemahaman yang benar terhadap masalah yang dihadapi.
  2. Berpikir positif dengan apa yang terjadi.
  3. Membaca buku .
  4. Jangan menyendiri ketika dalam keadaan sendirian karena akan membuat diri semakin melamun. Lebih baik jika ditemani oleh keluarga atau sahabat.
  5. Berkonsultasi kepada orang-orang yang dipercaya, seperti orang tua, saudara, atau suami/istri.
  6. Menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang mempunyai masalah.
  7. Bersyukur dan bersabar atas masalah yang dialami bisa jadi itu adalah anugerah dari Mahakuasa.

Tentunya, selain tips di atas yang bisa digunakan untuk meringankan masalah, masih ada banyak cara untuk menangani permasalahan yang kita hadapi.  Itu semua tergantung pada situasi, pengalaman, pengetahuan dan kemauan setiap individu. Yang paling penting adalah kemauan untuk berusaha menyelesaikan masalah dan itu ada dalam diri kita sendiri. Pilihan ada di tangan kita, “Apakah akan menghadapi masalah tersebut atau tetap lari dengan berbagai macam alasan?”

Bahan Bacaan:

Penulis:
Pepi Nuroniah, Guru BK di MAN 2 Serang, Banten. Kontak: pepinuroniah(at)yahoo(dot)com.