Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Murid Satu Guru Sepuluh

Kalimat judul tulisan ini hanyalah kiasan. Apabila murid membaca satu buku, seorang guru seharusnya membaca minimal sepuluh buku. Ketika buku yang dibaca guru dan murid itu satu, pengetahuan meraka akan sama. Perbedaannya mungkin hanya dalam hal guru membaca lebih awal dibandingkan muridnya. Namun, tidak sedikit siswa yang rajin biasanya akan mempelajari materi yang belum dipelajarinya sebelum guru mengajarkannya.

Membaca buku bagi guru tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan saja, tetapi juga dapat mewujudkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap (disingkat WPKNS). Dengan terwujudnya WPKNS ini sekaligus memupuk subur kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik. Membaca dapat membantu memahami proses terjadinya kata secara lebih detail, proses pembentukan kalimat, untuk menangkap konsep dan untuk memahami apa yang berada di balik tulisan. Bagaimana bisa seorang guru menguasai seluruh materi secara utuh jika ia merasa cukup membaca materi pokok saja?

Selain menguasai materi yang akan disampaikan, seorang guru juga  harus mengetahui berbagai metode mengajar agar siswa tidak bosan di kelas. Syarat ini mutlak diperlukan karena heterogenitas peserta didik dalam berbagai dimensi (intelektual, kultural, dan ekonomi), terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber obyek belajar dan terus berubahnya masyarakat dengan tuntutannya merupakan faktor yang menjadikan guru harus mengetahui metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi ajar dan peserta didik. Dengan begitu, peranan guru tidak lagi hanya memberikan pelajaran dengan ceramah atau mendikte tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan, bakat dan minat peserta didik.

Guru saat ini tidak dapat lagi menggunakan bahan pelajaran yang sudah ketinggalan zaman. Guru juga tidak dapat lagi hanya membantu peserta didik untuk dapat menjawab pertanyaan yang sifatnya hafalan. Guru dalam era globalisasi perlu mampu merancang, memilih bahan pelajaran dan strategi pembelajaran (atau silabus) yang sesuai dengan anak dengan latar belakang yang berbeda, serta mengelola proses pembelajaran secara taktis dan menyenangkan, mampu memilih media belajar dan merancang program evaluasi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang berorientasi kepada penguasaan kompetensi. Semua tuntutan terhadap kompetensi guru profesional ini hanya dapat dipenuhi oleh guru yang gemar menimba ilmu dengan membaca.

Guru adalah salah satu agen pembangun peradaban lewat mengajar dan mendidik para siswanya, seperti yang diungkapkan oleh Komisi Internasional Pendidikan UNSECO dalam kutipan berikut:

The importance of the role of the teacher as an agent of change, promoting understanding and tolerance, has never been more obvious than today. It is likely become ever more critical in the twenty-first century. The need for change, from nasionalism to universalism, from ethnic and cultural prejudice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically divided world where high technology is the privilege of the few to a technologically united world places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the young  generation”.
(Delors dkk. 1996)

Begitu besarnya peran guru sebagai agen perubahan, maka tidak ada alasan bagi guru untuk tidak membaca. Dengan membaca, jendela informasi akan terbuka. Tidak membaca bisa jadi biasa bagi orang lain, tetapi itu akan menjadi luar biasa bagi guru yang enggan membaca banyak buku. Kecerdasan seorang guru akan terlihat ketika dia menyampaikan materi ajarnya sehingga guru tersebut memiliki wibawa di hadapan para muridnya. Kewibawaan ini termasuk katagori pilar pembelajaran yang memiliki unsur-unsur seperti pengakuan dan penerimaan, kasih sayang dan kelembutan, penguatan, tindakan tegas yang mendidik, pengarahan dan keteladan (Priyatno, 2009).

Kewibawaan tidak secara otomatis terdapat pada setiap guru. Kewibawaan haruslah dibangun dalam pribadi guru tersebut. Perlu diketahui bahwa siswa lebih menyukai guru yang wawasannya luas dibandingkan seorang guru yang hanya datang serta memberikan tugas. Bila memang guru tersebut pantas untuk digugu dan ditiru atau bahkan memberikan inspirasi terhadap siswa, penghormatan itu akan muncul dengan sendirinya dari para siswa. Demikianlah, membaca bagi guru merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilannya dalam mengajar serta mendidik.

Secara garis besar,  seorang guru setidaknya diwajibkan memiliki empat kompetensi dasar berikut ini:

  1. Kompetensi pedagogis: Seorang guru haruslah menguasai teori dan praktik pendidikan, mengaplikasikan dengan cermat dan cerdas ilmu pengetahuan yang dimilikinya, serta mengusai esensi dalam menjalankan pendidikan dan pengajaran.
  2. Kompetensi kepribadian: Ini melingkupi keteladanan pribadi seorang guru, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, menunjukan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat, serta menampilkan kinerja berkualitas tinggi.
  3. Kompetensi sosial: Seorang guru dapat bersosialisasi dengan masyarakat di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Cara bersosialisasi yang efektif adalah berkomunikasi. Guru yang pandai berkomunikasi akan meningkatkan keharmonisan, baik dengan murid, seluruh tenaga kependidikan, orang tua murid dan masyarakat sekitar. Dari situ terciptalah lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  4. Kompetensi profesional: Guru bekerja secara sungguh-sungguh tidak melibatkan kepentingan pribadi dalam mengajar dan mendidik serta sesuai dengan latar belakang pendidikan formalnya. Guru harus mampu mengaplikasikan apa yang diajarkan kepada siswanya, serta mengetahui dan mengenal baik kemampuan-kemampuan dari setiap siswanya.

Ilustrasi hubungan guru dan murid.

Semoga guru di seluruh pelosok ibu pertiwi selalu memiliki jiwa untuk memperbaiki diri dan menambah ilmu dengan membaca sehingga dapat membekali generasi penerus dengan prestasi. Masa depan negeri salah satunya ada di tangan para guru, para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Bahan bacaan:

  • Dr. Aidh Al-Qorni, La Tahzan Jangan Bersedih, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh  Samson Rahman, Qisthi Press, Jakarta, Cet. 41, 2007.
  • Prof. Dr. Prayitno, Wawasan Profesional Konseling, Universitas Negeri Padang, Padang, 2009.
  • Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung, edisi Ke-2, Cet. I, 2013.
  • http://koffieenco.blogspot.com/2013/07/4-kompetensi-guru-profesional
  • J. Delors et.al., LEARNING: The Treasure Within, Report to The UNESCO of The International Commision on Education for The 21st Century, Paris, UNESCO, 1996, hal. 141 – 142.

Penulis:
Pepi Nuroniah, Guru BK di MAN 2 Serang, Banten. Kontak: pepinuroniah(at)yahoo(dot)com.