Meningkatkan Kecerdasan Emosional

thumbnail

Sebagian masyarakat umum di Indonesia masih menganggap bahwa kesuksesan seseorang didasarkan pada kecerdasan intelektual saja. Namun, jika dipikirkan kembali, apa jadinya seseorang yang memiliki kecerdasan intelektual tetapi tidak mampu mengendalikan emosi dirinya sendiri? Yang terjadi justru orang tersebut yang dikendalikan oleh emosinya sehingga kemungkinan besar kegiatannya terhambat karena emosi yang terlalu mengendalikan diri.

Sebelum membahas mengenai kecerdasan emosional lebih lanjut, setidaknya kita harus mengerti dahulu apa sih emosi itu? Sebagian besar orang menganggap emosi itu sebuah perbuatan yang berkaitan dengan amarah. Namun, sebenarnya emosi adalah sebuah perasaan yang timbul dari dalam diri seseorang, dan tidak selalu berupa amarah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, emosi adalah suatu keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan).

Setelah kita memahami arti emosi sebenarnya, apa sih kecerdasan emosional itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. Aristoteles dalam The Nicomacean Ethies memberikan pelajaran, “Orang menjadi marah itu mudah, tetapi marah dengan orang lain yang tepat, waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat, maksud yang jelas, itulah yang sangat sulit”.

Dari pernyataan di atas, kita dapat mengatakan bahwa kecerdasan emosi merupakan suatu perbuatan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian seseorang terhadap lingkungannya, serta berhubungan dengan cara untuk memahami orang lain, keadaan sekitar serta lingkungan sekitar yang mengharuskan kita untuk berpikir rasional. Kemudian, berdasarkan pernyataan Aristoteles, seseorang dikategorikan memiliki kecerdasan emosional yang baik saat ia mampu menyeimbangkan antara pikiran yang logis dan emosinya.

Teori Emotional Intellegence (EI) atau kecerdasan emosional digagas oleh Peter Salovey dan John D. Mayer sebagai tantangan terhadap keyakinan bahwa inteligensi tidak didasari oleh informasi yang berasal dari proses emosi. Istilah tersebut dipopulerkan oleh Daniel Goleman (1995) dan menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, setelah tulisan Daniel Goleman diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1996. Daniel Goleman mengutip berbagai penelitian yang ternyata menemukan bahwa kecerdasan emosi memiliki peran sangat penting dalam kesuksesan, terutama di dunia usaha.

Kecerdasan tidak hanya diukur dari segi intelektual saja. Kecerdasan emosional saat ini menjadi sesuatu yang penting untuk memajukan pemikiran seseorang dan mendorongnya menjadi seorang intelek. Jika muncul pertanyaan, bisa atau tidak sih kecerdasan emosional itu ditingkatkan? Tentu saja jawabannya bisa. Namun, motivasi diri tetap diperlukan untuk turut serta membangun diri menjadi sosok yang cerdas dari segi emosional.

Untuk meningkatkan kecerdasan emosional, Peter Salovey, dari Departemen Psikologi, Universitas Yale Amerika memberi saran sebagai berikut:

  1. Berusaha menyadari diri, pemahaman diri, ketika menghadapi situasi tertentu: siapa aku, di mana aku, apa peranku, bagaimana keadaanku saat ini.
  2. Mengelola emosi secara benar.
  3. Memotivasi diri, dengan cita-cita atau tujuan yang jelas, seseorang akan terdorong untuk berbuat sesuatu untuk mencapainya. Dengan selalu berlatih diri, selalu menetapkan tujuan yang jelas, apa yang menjadi kebutuhannya, emosinya menjadi terarah, sehingga tindakannya pun menjadi terarah.
  4. Berlatih memahami orang lain, mencoba menjadikan orang lain menjadi diri kita, berempati, tepa selira.
  5. Berusaha selalu menjaga hubungan baik dengan orang lain. Apabila hubungan seseorang dengan orang lain itu baik, maka cenderung orang tersebut dapat mengendalikan emosinya.

Pada akhirnya, kecerdasan intelektual itu penting, tetapi kecerdasan emosi pun sangat penting. Oleh karenanya, kita perlu meningkatkan kecerdasan emosional dalam kehidupan sehari-hari, terutama kehidupan bermasyarakat untuk memahami berbagai gejala sosial yang terjadi sehingga kita mampu untuk mengambil keputusan dengan menyeimbangkan antara berpikir secara logika dan emosi.

Catatan:
Artikel ini adalah modifikasi esai penulis dalam mata kuliah “Perkembangan Peserta Didik”.

Bahan bacaan:

Penulis:
Aprilia Ika Anjani, Mahasiswi Prodi Pendidikan Masyarakat, Universitas Pendidikan Indonesia.
Kontak: afifahrizqikaa(at)gmail(dot)com

Mari sebarkan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat nonprofit, nonpartisan, independen, dan terbuka. Semangat dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang, siapapun itu, bisa menjadi guru dengan berbagai bentuknya, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Back To Top