Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Orang Tuaku Korban Hoaks (Berita Bohong)?

Dengan perkembangan teknologi saat ini, semua kebutuhan manusia dapat diakses melalui ponsel pintar, termasuk berita. Ponsel pintar diciptakan dengan memuat beragam aplikasi yang canggih dan memudahkan, seperti kemudahan dalam mengakses informasi, artikel ilmiah, pelajaran, dan ragam berita. Sayangnya, tidak semua informasi mengandung fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Berita-berita yang viral perlu dicek kebenarannya karena berita bohong (hoaks) dapat berpengaruh negatif terhadap penerimanya.

Dikutip dari laman msn.com, Rena Masri, psikolog klinis dewasa, menjelaskan bahwa menerima berita bohong yang berkenaan dengan kecelakaan, kekerasan, suatu penyakit, atau foto-foto bencana akan berdampak pada psikologis penerimanya seperti resah, takut, cemas, panik bahkan traumatis. Sementara itu, berita bohong yang berkenaan dengan persaingan dunia kerja atau ketidaksukaan dengan suatu golongan dapat mengakibatkan kerugian, perselisihan, dan dendam.

Kita dapat menghindari berita bohong jika mengetahui ciri-cirinya. Dilansir dari kominfo.go.id, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoaks, Septiaji Eko Nugroho, menjelaskan beberapa langkah untuk mengidentifikasi berita bohong yaitu, perhatikan judul artikel yang bersifat provokatif, cermati alamat situs artikel, periksa fakta sumber artikel, cek keaslian foto atau video, dan ikut serta grup diskusi anti-hoaks di media sosial.

Berita bohong bisa mudah dipercayai oleh pembacanya. Mungkin ada di antara orang tua kita yang pada baru mengetahui cara penggunaan aplikasi di ponsel pintar. Seiring berjalannya waktu mereka mulai mahir menggunakan aplikasi dengan beberapa fitur di dalamnya, meskipun masih harus sedikit bertanya seperti cara membaca artikel, memposting sebuah tulisan, chatting, menonton video, mengunggah, atau mengunduh foto.

Orang tua kita melalui ponsel pintar dapat dengan mudah memperoleh informasi dengan cepat dari situs berita atau akun media sosialnya. Namun, sangat dikhawatirkan belakangan ini cukup banyak orang tua yang mendapatkan berita bohong dan mereka menyebarkannya begitu saja. Mereka benar-benar tidak mengetahui apakah berita atau informasi yang mereka peroleh tersebut benar adanya atau hanya berita bohong. Mereka hanya menerima apa yang didapat dari media sosial, grup chatting atau notifikasi berita berlangganan yang berupa artikel, teks pesan, video, foto beserta keterangannya.

Tidak mudah untuk memberitahukan kepada orang tua bahwa berita yang telah dibaca adalah berita bohong. Meskipun demikian, kita tetap harus berusaha untuk mengingatkan dan waspada. Melihat dari dampak buruk berita bohong yang telah dipaparkan kita perlu menjaga dan melindungi orang-orang di sekitar kita agar terhindar dari berita bohong dengan mengikuti langkah-langkah antisipasinya. Semoga kita tidak mudah percaya dengan suatu informasi yang tidak jelas dan jangan biarkan berita bohong memakan korban.

Bahan bacaan:

Penulis:

Nina Nuramalina, Alumnus PGSD UPI Serang.

Kontak: nina.nuramalina3101(at)gmail(dot)com

Mari sebarkan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •