Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Saya Berbeda, Saya Sama

Berbicara mengenai sekolah, secara otomatis kita akan membicarakan berbagai perangkat yang ada di dalamnya. Salah satu perangkat terpenting dari sebuah sekolah ialah siswa. Siswa datang ke sekolah berharap akan mendapatkan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Mereka juga hadir dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan ini yang membuat lingkungan sekolah menjadi semakin beragam dan siswa belajar dari keberagaman tersebut.

Keberagaman siswa juga datang dari potensi yang dimilikinya. Antara satu siswa dengan siswa yang lain memiliki potensi yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula. Maka, salah satu tugas terpenting seorang guru ialah memahami keberagaman, potensi dan kemampuan siswa yang berbeda-beda.

Pengalaman seperti itulah yang pernah saya rasakan ketika mendapat tanggung jawab menjadi guru kelas IV Sekolah Dasar (SD). Waktu itu saya baru pertama kali hadir di sekolah tersebut dan tidak memiliki data apapun terkait siswa. Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan pemetaan. Pemetaan ini berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Saya membuat kategori dari hasil pemetaan tersebut. Berdasarkan kategorisasi tersebut saya memberikan perlakuan yang berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lain.

Pembelajaran seperti itu berjalan hingga satu sampai dua bulan. Setelah itu, hampir seluruh siswa memiliki kemampuan yang sama. Hanya saja ada beberapa siswa yang masih tertinggal jauh. Melihat kondisi seperti ini saya langsung memutar otak untuk memberikan perlakuan yang pas kepada siswa tersebut. Namun beberapa tantangan hadir menghampiri. Tantangan tersebut datang dari dalam dan luar diri saya.

Salah satu tantangan dari luar berasal dari siswa. Siswa yang merasa sudah mampu untuk mengerjakan, tidak sabar untuk berlanjut ke materi selanjutnya. Ketika di dalam kelas pun mereka selalu mengajak saya untuk melanjutkan materi. Tak jarang mereka juga membuat gaduh di dalam kelas dengan saling bersahutan. Mereka juga mengatakan bahwa yang belum bisa ditinggalkan saja, tidak usah ditunggu.

Di sisi lain, siswa yang tertinggal ini benar-benar sulit untuk mengejar materi seperti teman-temannya yang lain. Saya tidak bisa memberikan diagnosa apa-apa terkait siswa ini. Saya juga tidak bisa merujuk ke psikolog untuk konsultasi lebih lanjut. Karena pada saat itu posisi sekolah berada di pedalaman dan sulit sekali dijangkau. Saya hanya berusaha untuk memberikan perlakuan sesuai dengan apa yang saya pahami. Untuk konsultasi dengan rekan juga agak sulit karena terbatasnya jaringan telepon.

Berada dalam posisi seperti itu membuat saya sangat dilematis. Antara melanjutkan untuk mengajar atau meninggalkan saja siswa yang tertinggal ini. Saya merasa kesabaran saya sangat diuji dalam posisi tersebut. Saya merasa sudah tidak mampu untuk mengajar siswa tersebut. Semangat saya seringkali mengendur dan terbesit ingin menyerah.

Hari demi hari saya lalui. Saya melakukan refleksi setiap hari. Saya mencoba untuk memberikan timbal balik pada diri sendiri terkait metode yang saya gunakan. Salah satunya metode belajar kreatif. Dalam metode ini saya menggunakan alat dan bahan sederhana yang ada di sekitar. Ketika pembelajaran matematika, saya menggunakan batu dan siswa sebagai medianya. Saya meminta mereka untuk menghitung jumlah batu atau siswa. Jika materi penjumlahan saya meminta siswa mempersiapkan sejumlah batu yang saya instruksikan, lalu dijumlahkan. Begitu juga ketika materi pengurangan. Ketika pembelajaran membaca saya membuat flashcard. Lalu saya meminta siswa membaca suku kata yang ada dalam flashcard.

Berangkat dari evaluasi diri yang saya lakukan, akhirnya ada beberapa strategi yang saya dapatkan. Jika siswa di dalam kelas sudah riuh karena meminta melanjutkan materi, saya memberikan tugas tambahan kepada mereka. Saya juga memberikan beberapa jenis soal, mulai dari yang mudah hingga sukar. Jika saya belum selesai mendampingi siswa yang tertinggal pelajarannya, saya akan menaikkan tingkat kesulitan bagi mereka yang sudah menyelesaikan satu soal. Saya tidak akan meninggalkan siswa yang sudah mengerti lalu diam tanpa mengerjakan sesuatu.

Pendampingan yang saya berikan tak hanya sampai di situ. Saya memberikan jam tambahan sepulang sekolah. Saya membuat silabus tersendiri untuk siswa yang tertinggal. Saya membuat indikator tersendiri agar terukur setiap perubahan yang terjadi. Media pembelajaran yang saya gunakan juga sedikit berbeda dengan siswa yang lainnya.

Jika sudah sampai pada titik tertentu, terkadang saya merasa kesabaran saya sudah habis dan tak ada lagi semangat untuk mengajar. Saya merasa hal tersebut wajar terjadi. Namun yang terpenting ialah tidak berlarut-larut dalam kondisi tersebut. Saya biasanya mengenali emosi yang saya rasakan. Setelah itu, saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah emosi tersebut menguntungkan bagi saya atau justru merugikan saya?” Jika merugikan sudah pasti akan saya lepaskan secara perlahan. Saya melepaskan dengan mengingat bahwa anak-anak yang saya ajar merupakan aset bagi bangsa dan negara ini. Kalau saya sudah tidak sabar dan tidak semangat, saya sudah menyia-nyiakan aset bangsa untuk hilang begitu saja. Dan seketika semangat itu muncul kembali.

Perlahan namun pasti siswa yang tertinggal memperlihatkan perubahannya. Siswa ini sudah mengerti membaca kata sederhana dan berhitung secara sederhana. Walaupun, perubahan yang terjadi tidak begitu signifikan. Saya pun merasa, siswa yang tertinggal ini masih belum mampu mengejar siswa yang lainnya. Namun, mereka mempunyai usaha untuk mengejar ketertinggalannya. Saya selalu berusaha mengapresiasi usahanya.

Saya meyakini bahwa setiap siswa merupakan aset berharga yang perlu diperlakukan secara baik. Mereka akan memahami atau tidak, tergantung bagaimana kita bisa memahami mereka. Karena dengan memahami, guru dapat memberikan treatment yang pas dan sesuai dengan siswa yang diajar. Dan yang terpenting terus menjaga semangat diri sendiri agar tak mudah menyerah.

Penulis:

Ahmad Sururi, alumnus jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, serta Pengajar Muda XI yang pernah ditempatkan di Distrik Pepera, Irian Jaya.

Kontak: ahmad(dot)sururi19(at)gmail(dot)com