Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Membangun Pendidikan Berkarakter

Apa itu “karakter”? Dalam kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Sedangkan menurut Imam Ghazali karakter adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan pikiran. Berdasarkan kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.

Mengapa Karakter? Theodore Roosevelt, mantan presiden USA yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (“Mendidik seseorang hanya dalam aspek kecerdasan otak dan tidak melibatkan aspek moral adalah merupakan ancaman mara-bahaya kepada masyarakat.”)

Beberapa hasil penelitian dan survei menunjukkan bahwa 90% anak usia 8-16 tahun telah membuka situs porno di internet di sela-sela mengerjakan pekerjaan rumah (25 Juli 2008. Media Indonesia)‏. Jumlah pengguna narkoba di lingkungan pelajar SD, SMP, dan SMA pada tahun 2006 mencapai 15.662 anak. Rinciannya, untuk tingkat SD sebanyak 1.793 anak, SMP sebanyak 3.543 anak, dan SMA sebanyak 10.326 anak. Data BNN Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018 menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera Utara menduduki Peringkat 1 dan 2 secara nasional, tentunya masih banyak data serta fakta lainnya yang bisa kita ungkap. Tapi data-data di atas sudah cukup mewakili bagaimana potret anak usia sekolah di negeri ini. Kini, dinyatakan bahwa Indonesia Darurat Narkoba.

Bagaimana membentuk Karakter? Menurut Thomas Lickona (1992), tanda-tanda kehancuran suatu bangsa antara lain: Meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, ketidakjujuran yang semakin membudaya, semakin rendahnya rasa tidak hormat kepada kedua orang tua, guru dan figur pemimpin, Penggunaan bahasa yang semakin memburuk, serta tingginya perilaku merusak diri. Jika kita cermati satu persatu tanda-tanda kehancuran tersebut, dapat kita sepakati bahwa seluruhnya sudah tampak di bangsa kita! Membentuk karakter tidak semudah memberi nasihat, memberi instruksi, tetapi memerlukan kesabaran, pembiasaan dan pengulangan, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits berikut: “Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun.”(H.R. Bukhari).

Menurut Ratna Megawangi, Founder Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap pembentukan karakter:

  1. Moral Knowing: Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus berperilaku baik. Untuk apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik.
  2. Moral Feeling: Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi untuk berperilaku baik. Pembentukan karakter dengan cara menumbuhkannya.
  3. Moral Action : Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan outcomedari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior

Dengan tiga tahapan ini, proses pembentukan karakter akan jauh dari kesan dan praktik doktrinasi yang menekan. Siswa akan mencintai perbuatan baik karena dorongan internal dalam dirinya. Masih menurut Indonesia Heritage Foundation, ada sembilan pilar karakter yang harus ditumbuhkan dalam diri anak: Cinta pada Allah SWT dengan segenap ciptaanNya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran dan bijaksana, hormat dan santun, dermawan dan suka menolong serta gotong royong, percaya diri dan kreatif serta bekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik hati dan rendah hati, toleransi, kedamaian serta kesatuan.

Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar, akan tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya. Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang hal-hal yang benar dan salah, akan tetapi juga mampu merasakan terhadap nilai yang baik dan tidak baik, serta bersedia melakukannya dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter karena peran sekolah sebagai pusat pembudayaan melalui pendekatan pengembangan budaya sekolah (school culture). Dalam penyampaian materi pembelajaran guru harus memahami terlebih dahulu mengenai pendidikan karakter. Pemahaman yang baik diikuti dengan pemberian contoh terdepan dalam pendidikan karakter.

Ketika sekolah mulai menerapkan dan melaksanakan nilai-nilai atau karakter tertentu pada siswa, maka setiap nilai tersebut harus senantiasa disampaikan oleh guru melalui pembelajaran langsung atau disatukan ke dalam setiap mata pelajaran. Sebagai contoh, seorang guru biologi yang menyampaikan materi asal usul makhluk hidup, maka ia dapat menyebutkan asal usul manusia dari Adam dan menyebutkan keberadaan Tuhan. Dengan demikian pendidikan karakter akan berjalan beriringan dengan pendidikan umum yang lain. Di samping itu, seorang guru harus kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini akan membuat siswa lebih senang dalam belajar karena mendapat suasana belajar yang sesuai dan menyenangkan. Para siswa yang selama ini bosan dalam belajar akan merubah paradigma mereka ketika belajar dengan kerativitas yang diberikan oleh guru.

Nilai-nilai karakter yang disampaikan oleh guru kepada para siswa juga harus diterapkan secara teratur dan berkelanjutan oleh semua warga sekolah. Mulai dari petugas keamanan, penjaga parkir, petugas kebersihan, karyawan administrasi, hingga kepala sekolah. Jika telah diterapkan oleh semua warga sekolah dengan baik, maka pendidikan karakter yang dilakukan akan menunjukkan hasil yang cukup baik. Penataan lingkungan dan kegiatan-kegiatan disekolah dapat menguatkan nilai-nilai karakter yang mulai diterapkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat spanduk yang berisi dukungan agar terbentuk suasana kehidupan sekolah yang berakhlak yang baik. Kegiatan ekstrakurikuler seperti futsal, basket, osis, dan kegiatan lain dapat terus menguatkan nilai kerja sama, saling menyayangi dan menghargai antar sesama siswa. Dengan demikian pendidikan karakter akan terus berlangsung dengan nilai-nilai karakter yang terus menguat.

Peran orang tua, keluarga dan masyarakat, dan sekolah sangat menentukan pembentukan pendidikan karakter siswa. Keluarga merupakan media utama dan pertama yang memberikan pengajaran mengenai tingkah laku dan perbuatan. Dalam kehidupan bermasyarakat, siswa juga sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat seperti kerja bakti dan penggalangan dana. Masyarakat juga menjadi kontrol bagi para remaja dalam mengembangkan karakter yang mereka miliki. Ketika mereka melakukan kesalahan, mereka juga akan mendapat hukuman dari masyarakat namun jika berbuat baik akan diberikan penghargaan dari masyarakat. Oleh karena itu, pihak sekolah harus sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat dalam membimbing serta mengembangkan karakter siswa.

Bahan Bacaan:

Penulis:

Drs. M. Nawi Harahap, M.Pd. Widyaiswara, PPPPTK  Medan. Kontak: mnawiharahap(at)yahoo(dot)com