Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Selfie, Senyum, dan Identifikasi Forensik

Apakah ada hubungan antara selfie, senyum dan forensik? Semoga artikel singkat berikut ini dapat sedikit menjelaskan tentang hubungan ketiga hal itu. Banyak orang ingin mengabadikan setiap momen dalam kehidupannya. Namun, masih banyak orang yang belum menyadari kalau foto diri bisa menjadi hal penting dalam bidang forensik atau identifikasi diri.

Bagi orang yang belum mengenal istilah forensik, mereka mungkin akan mendefinisikannya sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan mayat, tetapi ternyata bidang forensik tidak hanya berhubungan itu. Banyak cabang dari ilmu forensik, termasuk di antaranya forensic imaging, digital forensic, dan dental forensic. Jadi, ilmu forensik tidak melulu berhubungan dengan orang yang sudah meninggal dunia.

Sekilas tentang forensik

Tujuan utama dari ilmu forensik adalah melakukan proses identifikasi secara tepat dan ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Dalam tahapan identifikasi individu, ada dua kategori pengidentifikasi yang digunakan. Yaitu, primary identifier dan secondary identifier. Yang termasuk dalam primary identifier adalah DNA, sidik jari, dan gigi. Akurasi dari ketiga identifiers ini tidak dapat diragukan lagi karena sifat individualitasnya. Secara sederhana, proses identifikasi dapat dijelaskan sebagai tahap pencocokan identitas antara terduga individu dengan identitas individu yang sebenarnya. Dari ketiga primary identifier tersebut, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

Ilustrasi primary identifier dalam bidang forensik (diambil dari Interpol DVI Guideline).

DNA memiliki kelebihan dalam hal akurasinya yang mencapai 99%, tetapi memiliki kekurangan dalam hal efisiensi waktu dan biaya. Tes DNA memerlukan waktu yang relatif lebih lama dan memakan biaya yang tidak sedikit. Sidik jari juga dapat diandalkan dalam hal akurasinya, tetapi sidik jari sulit untuk diperiksa ketika terdapat trauma berat pada telapak tangan dan proses dekomposisi (pembusukan mayat).

Identifier berikutnya adalah gigi, yaitu salah satu primary identifier karena sifat individualitasnya. Orang dewasa normalnya memiliki 32 gigi yang bentuk gigi dan susunannya tidak sama antara tiap individu. Selain itu gigi merupakan jaringan tubuh paling keras yang dapat bertahan pada kondisi ekstrem sekalipun. Beberapa referensi menyebutkan bahwa gigi dapat bertahan pada suhu 1000°C. Di dalam gigi juga terdapat sebuah ruang yang dinamakan ruang pulpa, tempat jaringan saraf gigi yang mengandung DNA.

Gambar struktur gigi manusia (diambil dari http://www.sakitgigigusi.com).

Nah, kembali lagi ke judul artikel ini tentang selfie, senyum, dan forensik. Dari sedikit penjelasan tentang forensik di atas, mungkin sedikit banyak kita sudah dapat menerka apa kira-kira hubungan selfie, senyum, dan identifikasi forensik. Tidak sedikit kasus identifikasi forensik yang terungkap hanya menggunakan selembar foto wajah dengan kondisi tersenyum. Bagaimana bisa pose senyum dapat dijadikan sebagai bahan identifikasi?

Ada banyak metode identifikasi, salah satunya adalah dengan metode overlay foto. Sebagai contoh, ketika tim forensik mengalami kesulitan mengidentifikasi korban meninggal dalam musibah kebakaran, tim forensik dapat melakukan perbandingan antara susunan gigi korban dengan foto gigi yang ada semasa hidupnya, dengan menggunakan teknologi image processing, misalnya dengan software Adobe Photoshop.

Tim forensik dapat mengolah foto sedemikian rupa dengan software sehingga kecocokan dan ketidakcocokan antara foto gigi semasa hidup dengan kondisi gigi korban dapat diketahui. Selain Adobe Photoshop, tentu saja masih banyak software lain yang dapat digunakan dalam proses identifikasi individu. Bahkan, saat ini teknologi 3 dimensi juga sedang dikembangkan untuk keperluan bidang forensik.

Nah, untuk kita yang hobi mengabadikan aktivitas sehari-hari dalam bentuk selfie, ada baiknya kita memiliki setidaknya satu foto tersenyum yang menampakkan gigi geligi kita, karena tanpa kita sadari, kita mungkin telah melakukan sesuatu yang begitu berharga untuk diri kita di masa depan. Oleh karena pentingnya gigi dalam proses identifikasi, seorang ahli forensik mengatakan: “Show me your teeth, I will tell who you are”—tunjukkan gigimu, dan aku akan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya.

Bahan bacaan:

  • Forensic odontology identification using smile photograph analysis-case reports. Silva R.F., Pereira S. D., Prado F.B., Daruge E.
  • Interpol Disaster Victim Identification Guide. Interpol. 2014.
  • Positive Identification of Skeletal Remains Combining Smile Photographs and Forensic Anthropology a Case Report. Rhonan Ferreira Silva, Ademir Franco, Fernando Fortes Picoli, Lívia Graziele Rodrigues, Rhodolfo Ferreira Silva and João Batista de Souza
  • Forensic Dentistry – Paul G. Stimson, Curtis A. Mertz. 1997.

Penulis:
Arofi Kurniawan, drg. Mahasiswa S-3 dalam bidang Dental and Digital Forensic, Graduate School of Dentistry Tohoku University, Japan. Kontak: jurnalrofi(at)yahoo(dot)com.