Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Sejarah dan Eksistensi Wayang Palembang

Kesenian tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya dan perlu dipelihara serta dilestarikan. Wayang kulit merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional di Indonesia, yakni sebuah seni pertunjukan yang menggunakan media tiruan orang (boneka) yang terbuat dari kulit.

Wayang kulit sebagai karya seni mengandung nilai-nilai budaya yang universal. Hal tersebut dikarenakan wayang kulit berbicara tentang kehidupan manusia pada umumnya. Wayang kulit adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di pulau Jawa dan Bali. Wayang kulit juga berkembang di beberapa daerah seperti di Sumatera, di antaranya wayang Palembang.

Ilustrasi Wayang Palembang. Sumber: www.sriwijayaradio.com

Wayang Palembang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang memiliki fungsi sebagai hiburan maupun untuk ruwatan. Dalam perkembangannya di Jawa, wayang kulit pernah dijadikan sebagai media untuk berdakwah oleh para Wali Songo dengan tujuan agar ajaran Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat setempat.

Pertunjukan wayang Palembang tidak jauh berbeda dengan wayang lain. Wayang Palembang punya tokoh-tokoh pewayangan yang sama dengan wayang Jawa, cerita wayang merupakan lakon yang disadur dari kisah Ramayana dan Mahabrata dari India. Khasnya, wayang Palembang terkesan jauh dari sumber aslinya, tetapi ketika diikuti, lakon atau motif ceritanya tetap saja sama dengan wayang Jawa. Wayang Palembang diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras pelog dengan caturan atau gendhing yang memiliki bentuk dan harmoni yang telah diolah sesuai budaya Palembang.

Wayang kulit termasuk kategori kesenian berupa pertunjukan bayangan yang dihasilkan oleh boneka. Wayang kulit memiliki gaya tutur dan keunikan tersendiri, yang merupakan kekayaan luhur asli asal Indonesia. Tidak heran UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) yang merupakan sebuah lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang kulit sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia dan merupakan sebuah warisan dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur.

Wayang Palembang dikembangkan dan diwariskan turun temurun secara terbatas di lingkungan keluarga, terutama oleh nenek moyang dari Dalang Kgs Rusdi Rasyid. Adapun perbedaan antara wayang Jawa dengan wayang Palembang dapat dilihat dari penggunaan bahasa. Wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, yang merupakan bahasa asli Palembang dan memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa serta perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas.

Dahulu seorang dalang menggunakan bahasa halus, tetapi pada masa kini telah dicampur dengan menggunakan bahasa Palembang yang umum digunakan sehari-hari. Sementara itu, wayang Purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya menggunakan aturan-aturan klasik yang harus diikuti, warna yang dimiliki wayang Palembang kuning tembaga, bukan seperti di wayang Jawa yang berwarna keemasan.

Pertunjukan kesenian tradisional wayang Palembang hanya dilakukan selama kurang lebih 1 hingga 3 jam, sementara wayang Jawa bisa memiliki durasi hingga semalam suntuk. Musik pengiring wayang Palembang berbeda dengan bunyi-bunyi yang dikeluarkan gamelan Jawa. Pukulannya bergerak berbeda dengan gamelan Jawa.

Wayang Palembang tidak melibatkan penyanyi sinden (penyanyi tradisional) saat pementasan. Tokoh dalam pewayangan Palembang mendapat gelar sesuai nama daerah seperti Wak (paman dalam bahasa Indonesia) atau Raden, contohnya, Gareng dipanggil Wak. Sementara tokoh Bagong dalam cerita Mahabarata ditiadakan dalam wayang Palembang. Tokoh khas Palembang lainnya, adanya tokoh Bambang Tuk Seno, anaknya dari Arjuna.

Wayang Palembang mengalami kemunduran mulai dari tahun 1930. Pada tahun 1978, Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Sumatera Selatan (Sumsel) berusaha membangunkan dan menampilkan kembali kesenian tradisional wayang Palembang yang kondisinya sangat memprihatinkan dengan cara membentuk organisasi seni wayang yang bernama “Sri Palembang”. Sri Palembang diketuai oleh Kgs Abdul Rasyid Bin Abdul Roni (dalang wayang Palembang yang terkenal pada era 1960-an) pada saat itu.

Kiprah pertama organisasi Sri Palembang adalah mengikuti Pekan Wayang Indonesia III di Teater Tertutup TIM pada tahun 1978 dengan menggelar lakon Bambang Tukseno. Setelah mengikuti Pekan Wayang Indonesia di Jakarta, pagelaran kesenian tradisional wayang Palembang rutin disiarkan sebulan sekali di RRI Palembang dengan dalang H. Ahmad Sukri Ahkab (yang bekerja sebagai penyiar RRI Palembang).

Pada tahun 1983, putera dari Kgs Abdul Rasyid Bin Abdul Roni, Kgs Rusdi Rasyid menampilkan kembali kesenian tradisional wayang Palembang pada Pekan Wayang Nasional IV. Pasca tahun 1983 nyaris tidak ada lagi kegiatan seni pedalangan wayang Palembang. Pada tahun 1988 kesenian tradisional wayang Palembang tampil lagi dalam rangka promosi wisata daerah Sumatera Selatan.

Kini eksistensi wayang Palembang telah mengalami krisis dan tidak sempurna, tetapi masih belum mati dan masih ada wujudnya. Upaya untuk menghidupkan kembali wayang Palembang butuh kerja keras dan perjuangan yang panjang. Tantangan yang terbesar adalah meninggalnya dalang-dalang senior yang belum sempat mewariskan wayang Palembang sepenuhnya ke generasi berikutnya.

Pada masa kejayaannya, banyak dalang wayang Palembang yang terkenal, seperti Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim Dalang Agus dan Dalang Ali. Wayang-wayang Palembang yang tersisa banyak yang sudah lapuk dimakan usia dan banyak peralatan wayang yang tercecer dan hilang. Pada akhirnya di tahun 1985, pemerintah kota (pemkot) Palembang menduplikasi 20 tokoh wayang Palembang yang telah rusak. Namun, pada tahun 1986, duplikasi 20 tokoh wayang Palembang mengalami nasib tragis, seluruhnya habis terbakar.

Pada tahun 2004, Kgs Wirawan Rusdi yang merupakan putra pertama Kgs Rusdi Rasyid, cucu dari Kgs A Rasyid Bin Abdul Roni sebagai ahli waris, sekaligus sebagai salah satu penyelamat kesenian tradisional wayang Palembang, mendapat sumbangan dari UNESCO berupa seperangkat wayang Palembang. Wayang ini merupakan hasil duplikasi wayang Palembang yang berada di Museum Wayang Indonesia. Kehadiran Kgs Wirawan Rusdi telah menemukan kembali  keberadaan wayang Palembang yang telah lama hilang. Dengan adanya wujud wayang Palembang, Sumsel dapat mengikuti Festival Wayang Kulit se-Indonesia di Jakarta pada tahun 2012.

Salah seorang budayawan Palembang, Johan Hanafiah menilai bahwa kesenian tradisional wayang Palembang merupakan kebudayaan yang memiliki karakter khas dibanding dengan wayang kulit purwa asal Jawa. Seiring perkembangan zaman, wayang Palembang saat ini mengalami kondisi yang kritis, semakin terpinggirkan dan menuju kepunahan. Selain Kgs Wirawan Rusdi saat ini tidak ada generasi penerus yang menguasai wayang Palembang.

Dengan masuknya budaya asing ke Palembang, dampak bagi generasi muda Palembang di antaranya adalah tidak lagi mengenali, bahkan tidak menyukai lagi wayang Palembang karena dinilai tidak memiliki daya jual yang menarik. Wayang Palembang dianggap kuno oleh generasi muda Palembang. Masyarakat umum pun menganggap menggelar wayang lebih merepotkan, sedikit sekali masyarakat yang mengapresiasi wayang Palembang.

Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan perlu memiliki agenda konkret untuk melestarikan kesenian tradisional seperti wayang Palembang. Harapan kita adalah nantinya pegiat seni dan budaya Palembang dapat untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah atau pihak ketiga untuk menumbuhkan kepedulian terhadap wayang Palembang dengan cara mengadakan berbagai kegiatan pelatihan, pertunjukan dan lomba kesenian tradisional wayang Palembang.

Salah satu upaya yang patut diapresiasi adalah yang dilakukan oleh R. Dalyono (budayawan Palembang) yang saat ini sedang berusana untuk mewujudkan mimpinya menghidupkan kembali wayang Palembang. Bantuan yang diperoleh dari UNESCO berupa seperangkat wayang Palembang merupakan salah satu hasil bentuk dari usaha beliau. Mari kita bersama selamatkan kesenian tradisional wayang Palembang, jangan sampai sisa-sisa wayang hanya tersimpan dalam peti semata-mata sebagai warisan leluhur dan bukti sejarah wayang di Palembang hingga menjadi kusam, kotor, rusak dan punah.

Kita tunggu saja kembalinya suara aksi ‘sabetan’ yang dilakukan oleh dalang-dalang wayang Palembang dalam memainkan wayangnya bersama dengan lakon-lakon wayang Palembang seperti Bambang Tuk Seno, Prabu Indropura, Bambang Gandawijaya, Pandawa Lebur, Petruk Mungga Ratu, Arjuno Duo dan Semar Kembar. Lakon Bambang Tuk Seno sendiri merupakan asli cerita dalam wayang Palembang dan tidak ditemukan di wayang Jawa.

Bahan bacaan:

Penulis:
Noperman Subhi,
Guru PPKn SMA PGRI 5 Palembang & Dosen luar biasa di Akademi Bina Bahari.
Kontak: nopermansubhi(at)gmail(dot)com.