Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Mengembangkan Respectful Mind pada Peserta Didik

Respectful mind merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kurangnya sikap peduli terhadap orang lain atau respek akan mengakibatkan ketidakharmonisan dalam berhubungan sosial. Hal tersebut diperkuat dengan penjelasan dari Gardner (2006) bahwasanya untuk menghadapi tantangan global yang kuat harus dipenuhi oleh lima kemampuan pribadi, “Five Minds for the Future”:

  1. Disciplined Mind, yakni kerangka dasar atau kerangka utama kecerdasan yang di dalamnya individu memiliki paling tidak satu disiplin ilmu atau kerangka berpikir yang sangat dikuasai untuk memecahkan masalah di segala hal.
  2. Synthesizing Mind, yakni kemampuan individu menyinergikan ide dan pemikiran dari disiplin ilmu yang berbeda, individu memiliki kemampuan menggabungkan berbagai pola pemikiran dan disiplin ilmu agar dapat mengumpulkan informasi dan pengetahuan seluasnya dari berbagai macam sumber serta melahirkan berbagai macam ide dan ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat.
  3. Creative Mind, yakni kemampuan memecahkan masalah melalui kreativitas dan ide inovatif.
  4. Respectful Mind, yakni kemampuan memberikan penghargaan terhadap perbedaan dengan orang lain.
  5. Ethical Mind, yakni kemampuan berpikir untuk orang lain demi kepentingan bersama.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa respectful mind merupakan pikiran yang mampu menerima perbedaan, belajar hidup bersama perbedaan dan pemikiran yang mampu menghargai orang-orang dari kelompok, mampu bekerjasama dengan baik serta mengabaikan segala perbedaan dan menumpaskannya dengan cinta. Respectful mind dibutuhkan oleh setiap individu di mana pun berada, termasuk di sekolah. Peserta didik yang beraneka ragam berarti memiliki pola perilaku yang berbeda dan semua perbedaan ini bukan hal yang mudah untuk bisa diterima. Banyaknya perbedaan yang terdapat di antara peserta didik, telah menciptakan berbagai masalah.

Kecenderungan ketertarikan peserta didik untuk berhubungan dengan teman yang memiliki kesamaan telah menyebabkan munculnya kelompok-kelompok yang bertanda khas seperti golongan anak pintar, anak-anak yang memiliki persamaan tertentu seperti minat, agama, suku, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan mudahnya terjadi diskriminasi dan sikap bermusuhan antar kelompok.

Santoso (2006) mengatakan bahwa adanya kelompok teman sebaya di sekolah membawa pengaruh negatif antara lain: (1) sulit menerima seseorang yang tidak mempunyai kesamaan; (2) tertutup bagi individu lain yang tidak termasuk anggota; (3) menimbulkan rasa iri dan curiga pada anggota yang tidak memiliki kesamaan dengan dirinya; (4) timbulnya persaingan antar kelompok; (5) timbulnya pertentangan atau gap-gap antar kelompok. Akibat lain yang muncul dari rendahnya respectful mind adalah permusuhan, saling membenci, saling menghina, saling menjatuhkan bahkan yang lebih parah adanya perkelahian dan tawuran.

Pencegahan dari perilaku negatif yang timbul dari gesekan antar kelompok dapat dilakukan oleh teman sebaya, guru, orang tua, dan lingkungan. Di sisi lain peserta didik belajar untuk memahami perbedaan yang dimiliki oleh kelompok dan belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sekolah dapat menimbulkan respectful mind pada peserta didik dengan mendukung serta memantau organisasi kesiswaan. Peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler pun perlu diberi penghargaan. Ketika peserta didik belajar bersosialisasi mereka belajar respectful mind.

Program sekolah seperti bakti sosial membersihkan sampah di sekitar lingkungan, mengadakan acara-acara keagamaan untuk membangun rasa spritualitas peserta didik, dan pemberian materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum 2013 sekiranya dapat mencegah kesenjangan dan kekosongan yang terjadi antarkelompok peserta didik. Wali kelas dapat bekerja sama dengan guru BK dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang berisikan nilai-nilai respectful mind.

Ketika ada peserta didik yang memiliki respectful mind yang tinggi, guru dapat memberikan penghargaan baginya. Terkadang kita sebagai orang tua dan guru lebih cenderung mengutamakan nilai akademik dan memperhatikan mereka yang cenderung memiliki masalah. Sayangnya mereka jarang peduli pada peserta didik yang terlihat biasa dalam akademik padahal populer di antara teman-temannya karena kepeduliannya. Seperti yang dikatakan oleh Gardener, respectful mind menjadi salah satu poin penting dalam menghadapi globalisasi.

Respectful mind adalah kebutuhan dasar yang harus dikembangkan pada diri siswa dengan membuat lingkungan sekolah yang kondusif, peduli terhadap masyarakat yang ada di sekitar sekolah, memberikan tempat yang nyaman dengan keramahan dari komponen sekolah dan pembelajaran yang saling bekerjasama atau kolaborasi, bukan menitikberatkan pada persaingan akademik semata. Menurut pendekatan behavioristic, apa yang dilihat, didengar dan dirasakan apabila terjadi secara terus-menerus akan menjadi kebiasaan yang cenderung menetap. Semoga demikian pula respectful mind akan ada pada perilaku peserta didik.

Bahan bacaan:

  • Gardner, H. 2006. Five minds for the future. USA: Harvard Bussiness school press.
  • Santoso, S. 2006. Dinamika Kelompok. Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara
  • Santrock, J.W. 2002. Life-Spam Development: Perkembangan Masa Hidup (edisi kelima). Terjemahan oleh Achmad Chusairi, Juda Damanik; ED, Herman Sinaga, Yati Sumuharti. Jakarta: Erlangga
  • Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme Tantangan-Tantangan Global Masa Depan Dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo

Penulis:
Hikmah Ilmiyana,
Mahasiswa Pascasarjana Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang.
Email: ilmiyanah(at)gmail(dot)com.