Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Efek Misinformasi: Efek Ilusi Sebuah Informasi

Tidak terasa sudah hampir sebulan yang lalu persidangan perkara sidang kasus Kopi Vietnam yang disiarkan secara langsung di televisi menyita sebagian besar waktu bagi publik. Bagaimana tidak, persidangan kasus ini memakan 32 kali sidang sehingga di beberapa media sosial seperti Facebook dan Twitter kasus ini masih menjadi trending topic. Berbagai cuitan dan status dimunculkan hingga pro dan kontra atas saksi mata yang memberikan sebuah informasi yang di luar akal sehat.

Tahukah teman-teman, di dalam bidang ilmu psikologi forensik terdapat bidang yang meneliti mengenai informasi yang diberikan oleh seorang saksi dan bagaimanakah sebuah informasi tersebut dapat dikatakan valid dan dapat digunakan untuk dijadikan pertimbangan. Akan tetapi, apabila teman-teman mengatakan bahwa suatu informasi yang berasal dari seorang saksi dapat dikatakan 100% benar, teman-teman siap-siap saja merasa kecewa. Sebabnya, terkait informasi suatu kejadian yang disimpan di dalam memori seseorang, ternyata dalam melakukan proses pengambilan informasi tersebut, seseorang menjalani beberapa proses kognitif yang membuatnya sangat rentan untuk terjadi kesalahan pengambilan informasi. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Yuk, kita simak sedikit pembahasan berikut ini.

Usia psikologi forensik dapat dikatakan masih muda apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain, namun kasus forensik sendiri sebenarnya sudah ada sejak sebelum Masehi. Kita dapat mengingat kembali dalam sebuah buku klasik yang sangat terkenal ditulis oleh Plato, seorang filsuf dari Yunani. Plato menulis sebuah buku yang berjudul The Republic, didasari perasaan duka atas hal yang menimpa guru tercintanya Socrates yang dijatuhi hukuman mati akibat sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan. Pada suatu bab Plato menjelaskan tentang pembelaan atas gurunya Socrates yang saat itu diadili karena dituduh telah merusak moral anak muda Athena, Yunani kuno saat itu.

Setiap kejadian manusia tidak dapat terlepas dari peristiwa forensik, tetapi psikologi forensik sendiri baru dikenal dan mulai dikaji beberapa abad kemudian karena dirasa bidang forensik sangat penting. Dahulu para pemberi saksi memberikan setiap informasi kesaksian yang mereka berikan, dan tidak ada yang dapat meragukan atas informasi kesaksian yang diberikan. Namun, beberapa abad kemudian terdapat sebuah temuan yang mengejutkan. Ternyata informasi yang selama ini kita ingat dan yakini bahwa informasi yang kita simpan adalah sesuatu yang ada sebagaimana mestinya (objektif), itu bisa menjadi sebuah informasi yang justru selama ini adalah sebuah ilusi.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian masyarakat dunia ketika sebuah informasi benar-benar bertolak belakang dengan kejadian sebenarnya adalah kasus pelecehan Jennifer di Amerika Serikat Pada tahun 1984, ketika pulang larut malam dari tempat kerjanya, Jennifer dihadang oleh seorang pria. Laki-laki itu kemudian memperkosa Jennifer. Dalam keadaan tidak berdaya, Jennifer berusaha mengingat setiap detail wajah dan suara pelaku. Tak lama setelah kejadian, Jennifer segera melaporkan kepada polisi dan menjelaskan setiap detail ciri-ciri dari pelaku tersebut. Beberapa bulan kemudian, Ronald Cotton menjadi pelaku dan ditahan di penjara atas informasi sesuai yang diberikan oleh Jennifer.

Jennifer dan Ronald Cotton. Gambar dari Wall Street Journal.

Jennifer dan Ronald Cotton. Gambar dari Wall Street Journal.

Jennifer sangat yakin bahwa Cotton adalah pria yang melakukan perbuatan tersebut. Namun, setelah mendekam hingga 11 tahun di penjara dan akhirnya dilakukan tes DNA, Ronald Cotton menjadi orang pertama di negara bagian North Carolina yang dibebaskan karena suatu perbuatan yang sama sekali tidak pernah ia lakukannya. Polisi kemudian menemukan bahwa pemerkosa yang benar adalah seseorang bernama Booby Poole. Ia ditangkap setelah tes DNA menunjukkan bukti jelas bahwa dirinya yang melakukan perbuatan tersebut kepada Jennifer. Hal yang sangat mengherankan di sini, Jennifer sama sekali tidak mengenali Booby Poole dan merasa dia tidak sama dengan orang yang diingatnya pada saat kejadian tersebut.

Munculnya sebuah informasi yang sama sekali tidak pernah terjadi dalam sebuah kejadian secara kronologis ini menjadi pelopor penelitian tentang efek distorsi informasi dalam memori seseorang. Sejak saat itu, para ahli forensik menyadari rentannya sebuah informasi yang diberikan dalam kesaksian oleh seseorang. Selain kasus Jennifer yang telah disebutkan, kasus distorsi memori ini juga dialami sebuah keluarga Paul Ingram di Amerika Serikat. Paul Ingram ditangkap atas tuduhan pemerkosaan terhadap putri-putrinya sendiri. Atas tuduhan tersebut polisi melakukan interogasi. Paul Ingram awalnya tidak mengingat begitu detail bahwa ia telah melakukannya. Namun, setelah menjalani beberapa kali interogasi Paul Ingram mulai membentuk detail peristiwa mengenai bagaimana peristiwa sebenarnya yang telah ia lakukan terhadap putri-putrinya.

Keluarga Paul Ingram. Gambar dari Wall Street Journal.

Keluarga Paul Ingram. Gambar dari Wall Street Journal.

Bagaimana sebuah informasi yang sama sekali awal mulanya tidak diingat secara jelas kemudian muncul dan memberikan gambaran secara detail tentang kejadian? Efek kesalahan informasi ini terjadi pada saat seseorang melakukan pengambilan informasi mengenai sebuah kejadian. Pada saat kejadian seseorang tidak sangat detail memperhatikan secara keseluruhan karena proses mental yang dimilikinya hanya mengarahkan perhatiannya sebatas pada hal-hal tertentu saja yang dirasa menarik bagi perhatian dirinya. Dapat dikatakan bahwa pada kejadian ini informasi yang disimpan oleh seseorang hanya menjadi bagian-bagian kecil potongan informasi pada kronologi kejadian.

Lantas bagaimana bila seseorang dimintai kesaksian mengenai informasi pada kejadian tersebut? Seseorang akan berusaha menyusun sebuah narasi kembali secara kronologis akan kejadian tersebut atas informasi bagian-bagian kecil yang telah disimpan dalam kapasitas memori yang dimilikinya. Saat melakukan penyusunan narasi ini, seseorang akan berusaha melakukan pengambilan potongan-potongan informasi dan melakukan asosiasi terhadap informasi apa saja yang memiliki hubungan dengan kejadian tersebut.

Inilah yang kemudian menjadi sebuah kerentanan untuk memunculkan informasi ilusi yang menyebabkan sebuah kejadian yang sama sekali tidak terjadi secara kronologis menjadi muncul. Informasi ilusi ini dinamakan sebagai efek misinformasi (misinformation effect). Dari kepingan informasi yang digunakan untuk menjembatani penghubung kepingan informasi lain inilah kemudian menjadi suatu memori yang keliru (false memory).

Ilustrasi efek misinformasi (misinformation effect). Gambar dari Wikipedia.

Ilustrasi efek misinformasi (misinformation effect). Gambar dari Wikipedia.

Menurut Elizabeth Loftus, seorang profesor yang intens melakukan penelitian efek misinformasi di School of Psychology di Universitas California, Irvine, hal yang menyebabkan munculnya kesalahan informasi ini adalah sebuah konten kejadian yang pada di awal mulanya mengalami distorsi. Distorsi tersebut disebabkan oleh imajinasi yang dimiliki oleh seseorang.

Imajinasi merupakan kegiatan visualisasi terhadap fakta dengan manipulasi-manipulasi tertentu sehingga pada saat seseorang diminta untuk memutar kembali informasi atas sebuah kejadian yang telah dialaminya, ia seolah-olah menjadi orang yang sedang melakukan dan melihat kejadian secara keseluruhan dengan menggabungkan beberapa fakta yang diingatnya. Akan tetapi, hal ini hanya merupakan persepsi subjektif dirinya karena dirinya hanya menjadi pengamat terhadap suatu informasi-informasi bagian-bagian tertentu saja (Loftus, 2010).

Hal lain yang menyebabkan munculnya efek misinformasi adalah keberadaan perilaku yang cenderung untuk konformitas pada kelompok sehingga tidak berani dalam mengambil keputusan secara independen yang berbeda dengan kelompok mayoritas yang dijadikan sebagai rujukan mayoritas (Szpitalak dalam Akbar, 2016). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh English dan Nielson (2010) menemukan bahwa seseorang yang cenderung mengalami misinformasi disebabkan kurangnya pengetahuan bahwa informasi yang diterima berasal dari orang lain, memiliki kerentanan karena informasi yang diberikan tersebut adalah hasil dari interpretasi dirinya dari suatu peristiwa kejadian sehingga memiliki kemungkinan memiliki kemungkinan untuk membawa informasi yang salah dan informasi kejadian tersebut menjadi terdistorsi akibat dari dari interpretasi orang tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Saunders (2012) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami misinformasi disebabkan kurang adanya kekuatan dalam melakukan reorganisasi dan konfigurasi masing-masing susunan informasi pada seseorang. Akibatnya, hanya bagian-bagian tertentu saja yang dapat diambil kembali informasi tersebut dari memori sehingga menyebabkan terjadinya false memory. Hal inilah yang kemudian menjadikan informasi yang diambil tersebut bukanlah sesuatu informasi utuh atas kejadian tersebut, melainkan informasi yang sangat sama sekali baru dan berbeda dari informasi yang diperoleh atas suatu kejadian yang sebelumnya telah dialami oleh seseorang.

Informasi merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi manusia. Apabila sebuah informasi yang disampaikan kepada pihak lain berbeda jauh dengan informasi yang sebenarnya terjadi itu tentu membuat masalah bagi semua yang terlibat. Kewaspadaan seseorang terhadap informasi yang diterima dari orang lain serta independensi agar tidak tergantung dari interpretasi kelompok mayoritas dalam melakukan interpretasi suatu kejadian dapat meningkatkan resistensi seseorang terhadap efek misinformasi (Akbar, 2016). Dengan demikian, sebagai bangsa yang cerdas dan berbudaya luhur akan lebih baiknya apabila sebelum kita menerima sebuah berita informasi untuk kembali memeriksa dan tidak terburu-buru untuk meyakini akan informasi yang telah kita terima.

Daftar Bacaan:

  • Brainern, C. J., & Reynac V. F. (2005). The Science of False Memory. Oxford: Oxford University Press.
  • English, S. & Nielson, K. (2010). Reduction of the misinformation effect by arousal induced after learning. Cognition, Vol. 117, pp 237-242.
  • Loftus, E. F. (2010). Planting misinformation in the human mind: A 30-year investigation of the malleability of memory. Learning & Memory, 12: 720-725.
  • Saunders, J. (2012). The role of self-esteem in the misinformation effect. Memory, 20, 20-99.
  • Utomo, Akbar. P. (2016). Warning – Arousal – Reinforced Self-Afirmation untuk Mengurangi Kecenderungan Misinformation Effect Pada Citizen Journalist. Malang: UMM (Undergraduate thesis).

Penulis:
Akbar Prasetyo Utomo, Alumnus Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Kontak: prasetyakbar(at)gmail(dot)com.