Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Asyiknya Curhat pada Guru BK

“Curhat” adalah suatu istilah populer tidak baku untuk kegiatan bercerita tentang apapun yang dialami oleh individu. Perasaan akan pengalaman, kesulitan yang dihadapi, atau kesuksesan yang dicapai, dan apapun biasanya ingin diceritakan pada seseorang yang dapat dipercaya. Ketika seorang bercerita kadang bukan hanya ingin mendapatkan jalan keluar dari permasalahan namun sering kali hanya ingin ada orang yang mendengarkan. Namun, bagaimana jika bercerita kepada orang yang tidak tepat?

ed68-pendidikan-1

Bercerita yang selanjutnya disebut curhat tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan individu. Siswa merupakan indvidu yang akan dibahas di sini. Siswa yang pada umumnya berada di usia remaja membutuhkan seorang kawan untuk curhat. Kembali pada pertanyaan di awal, tidak semua orang tepat dijadikan teman curhat. Ada kategori tertentu yang dapat dijadikan acuan apakah orang tersebut layak mendengar curhat seorang siswa, diantaranya sebagai berikut:

  • Dapat dipercaya, siswa harus berhati-hati ketika dia mencurahkan cerita-ceritanya seorang tersebut harus sesuai perbuatan dan perkataannya.
  • Dapat memegang rahasia, apa yang dicurhatkan terkadang mengandung rahasia yang harus dijaga.
  • Memberikan kenyamanan, maksudnya penerima curhat dirasa aman, memberi respon yang baik, dan tidak memotong pembicaraan.
  • Membantu mencarikan solusi ketika curhat itu mengenai masalah yang dirasa berat dan mengganggu efektivitas kegiatan sehari-hari.

Ketika teman curhat bukanlah orang yang tepat dapat menimbulkan masalah lain. Contoh: merasa kecewa dan dikhianati apabila kisah siswa tersebut diceritakan oleh temannya kepada yang lain. Dari situ muncul ketidakcocokan dan permusuhan antara keduanya. Siswa di sekolah bisa curhat ke guru BK. Di sana akan ada guru BK yang bersedia mendengarkan keluh dan kesahmu. Kategori-kategori orang yang layak mendengarkan curhat seharusnya sudah menjadi kepribadian guru BK.

Siswa mungkin belum memahami dan segan terhadap gurunya. Namun, guru BK memiliki fungsi untuk memberi layanan konseling. Salah satunya adalah konseling individu untuk siswa yang ingin berkonsultasi secara pribadi. Siswa pun dapat datang secara kelompok apabila ingin curhat berkaitan dengan mimpi, cita-cita, perguruan tinggi, dan karir. Siswa dapat bercerita apapun yang sekiranya dirasa membebani pikiran dan perasaan. Guru BK akan menyambut hangat kedatangan siswa.

Terkadang ada stigma bahwa datang ke ruang BK hanyalah untuk orang yang bermasalah. Demikianlah yang biasa terpikir oleh siswa, padahal kenyataannya tidak. Ruang BK juga tempat untuk mengembangkan potensi. Siswa dapat curhat tentang kebingungan program studi di perguruan tinggi atau ingin menjamin waktu dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Topik yang umum sampai dengan yang amat rahasia dapat dicurhatkan kepada guru BK.

Guru BK selain memiliki empat kategori di atas juga dibekali teknik-teknik konseling untuk membantu siswa mengembangkan potensinya. Teknik konseling yang paling cocok akan dipilih oleh guru BK untuk membantu siswanya. Bukan hanya teknik namun ada asas-asas dan kode etik yang harus ditaati oleh guru BK. Kekhawatiran siswa bahwa curhatannya akan diceritakan pada yang lainnya bisa dihindari. Guru BK memiliki kewajiban dalam melayani konseling siswa dengan optimal dan maksimal sesuai kompetensi dasar. Jadi, guru BK di sekolah seharusnya sudah memiliki kualifikasi tersebut minimal lulusan S1 jurusan Bimbingan dan Konseling.

Perasaan asyik dan nyaman ketika siswa curhat bisa ditemukan dalam ruangan BK bersama guru BK. Ketakutan dan kehawatiran dari teman akan sangkaan bahwa siswa yang datang ke ruang BK adalah siswa bermasalah tidak selalu benar. Hal ini dapat dibuktikan oleh siswa itu sendiri agar mengetahui apakah benar di ruang BK hanya untuk siswa-siswa yang bermasalah. Mulailah curhat pada guru BK, datangi dan konsultasi. Teman curhat yang asyik dan juga bertanggungjawab adalah guru BK. Kapan siswa akan ke ruang BK? Hari Ini “saya” akan ke ruang BK untuk curhat.

Bahan bacaan:

Penulis:
Pepi Nuroniah, mahasiswi pascasarjana Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang.
Kontak: pepinuroniah(at)gmail(dot)com.