Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Beban Ganda Akibat Transisi Kesehatan di Indonesia

Indonesia kini mengalami beban berlipat. Angka kematian akibat penyakit tidak menular terus bertambah, sedangkan penyakit menular masih belum terberantas. Kita juga sering mendengar di layar kaca perihal new emerging disease, seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan flu burung yang mulai bermunculan. Dibutuhkan lebih dari sekedar usaha kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) untuk mengatasi masalah ini.

Fenomena transisi kesehatan kini menjadi tantangan di dunia kesehatan Indonesia. Di negara kita juga terjadi kesenjangan sosial yang mencolok. Pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah, penyakit infeksi seperti tuberkulosis (TBC), kusta, dan diare masih tetap tinggi. Penyakit menular lainnya, new emerging disease, juga semakin bertambah sedangkan “penyakit lama” di antaranya malaria, kolera, dan difteri timbul kembali dan dikenal dengan re-emerging disease.

Transisi kesehatan disebabkan oleh dua hal, yaitu transisi demografi dan transisi epidemiologi. Transisi demografi diakibatkan oleh perubahan-perubahan seperti urbanisasi, industrialisasi, meningkatnya pendapatan dan tingkat pendidikan, serta berkembangnya teknologi kesehatan dan kedokteran di masyarakat. Sementara itu, transisi epidemiologi muncul karena perubahan pola kematian, terutama akibat infeksi, angka harapan hidup penduduk yang semakin tinggi, dan meningkatnya penyakit tidak menular atau yang disebut juga sebagai penyakit kronik.

Menurut dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH, Menkes RI 2009-2012, pembangunan kesehatan Indonesia telah diarahkan pada peningkatan upaya promotif dan preventif, selain dari peningkatan atas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama penduduk miskin. Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik lagi, sedangkan preventif merupakan usaha pencegahan agar masyarakat tidak jatuh sakit atau terhindar dari penyakit. Upaya promotif dan preventif tersebut meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular, dengan cara memperbaiki kesehatan lingkungan, gizi, perilaku, dan kewaspadaan dini.

Penyakit menular (communicable disease) merupakan penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit menular menjadi masalah hampir di semua negara berkembang karena menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan angka kematian dalam waktu yang relatif singkat. Jenis penyakit ini timbul akut (mendadak) dan menyerang semua lapisan masyarakat. Disebabkan oleh sifatnya yang menular, penyakit-penyakit tersebut dapat menyebabkan wabah dan menimbulkan kerugian besar di berbagai bidang, seperti ekonomi dan parawisata.

Trias epidemiologi pada penyakit menular.

Trias epidemiologi pada penyakit menular.

Penyakit menular merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yaitu faktor lingkungan (environment), faktor agen penyebab penyakit (agent), dan faktor penjamu (host). Hubungan ketiga faktor tersebut digambarkan secara sederhana sebagai timbangan. Bila agen penyebab penyakit dan penjamu berada dalam keadaan seimbang, seseorang berada dalam keadaan sehat. Perubahan keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau sakit.

Penurunan daya tahan tubuh akan menyebabkan ‘bobot’ agen penyebab penyakit menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi sakit. Demikian pula bila agen penyakit lebih banyak atau lebih ganas, sedangkan faktor penjamu tetap, bobot agen penyebab menjadi lebih berat. Apabila faktor lingkungan berubah menjadi cenderung menguntungkan agen penyakit, seseorang akan menjadi sakit.

Cara pencegahan terhadap penyakit menular adalah dengan memutus rantai penularan, yaitu dengan menghentikan kontak agen penyebab penyakit dengan penjamu. Usaha tersebut lebih dititikberatkan pada penanggulangan faktor risiko penyakit, terutama lingkungan dan perilaku. Perilaku merupakan akumulasi dari pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan.

Untuk mengubah perilaku masyarakat yang tidak sehat, masyarakat harus dibekali dengan pengetahuan tentang cara-cara hidup sehat, sehingga masyarakat lebih sadar, mau, dan mampu untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Perubahan perilaku tersebut sangat menentukan untuk tercapainya pencegahan terhadap penyakit menular, sebagai contoh, meskipun sumber air minum, peralatan, dan tangan sudah bersih, perilaku untuk memasak air minum sampai mendidih tetap diperlukan untuk menjamin kesterilan.

Perilaku hidup bersih dan sehat. Gambar dari: https://phbsrw20.files.wordpress.com/

Perilaku hidup bersih dan sehat. Gambar dari: https://phbsrw20.files.wordpress.com/

Penyakit tidak menular (non-communicable disease) ternyata telah menjadi penyumbang kematian terbesar di Asia Tenggara. Penyakit jantung, stroke, serta penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah contoh penyakit tidak menular yang menjadi tren gaya hidup saat ini. Berdasarkan data dari WHO di Asia Tenggara pada tahun 2008, sebanyak 55% kematian disebabkan oleh penyakit tidak menular, 35% disebabkan oleh penyakit menular, dan sisanya 10,7% disebabkan luka.

Begitu juga di Indonesia, penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian terbanyak. Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia, proporsi angka kematian akibat penyakit tidak menular meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan PPOK.

Penyakit tidak menular (non-communicable disease). Gambar dari: https://witnewyork.wordpress.com/2014/07/14/prevention-and-control-of-non-communicable-diseases/

Penyakit tidak menular (non-communicable disease). Gambar dari: https://witnewyork.wordpress.com/2014/07/14/prevention-and-control-of-non-communicable-diseases/

Penyakit tidak menular dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup tidak sehat. Peningkatan penyakit tidak menular berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa. Pengobatan penyakit tidak menular seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar. Beberapa jenis penyakit tidak menular adalah penyakit kronik yang dapat mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak komplikasi yang dapat terjadi adalah kecacatan termasuk kecacatan permanen.

Dampak dari penyakit tidak menular. Gambar dari: http://failproof.axa.com.ph/

Dampak dari penyakit tidak menular. Gambar dari: http://failproof.axa.com.ph/

Dalam usaha pencegahan penyakit tidak menular, penting untuk mengetahui perilaku berisiko dan faktor risiko perantara penyakit. Tiga perilaku berisiko yang merupakan penyebab penyakit tidak menular utama adalah merokok, gaya hidup tak sehat, dan kurang berolahraga.

Pencegahan terhadap penyakit tidak menular dapat dilakukan dengan mengendalikan perilaku berisiko. Hentikan merokok, berikan tubuh asupan nutrisi yang cukup, dan berolahraga teratur minimal dua hingga tiga kali seminggu dengan durasi minimal 30 menit dapat menurunkan resiko terkena penyakit tidak menular. Deteksi dini seperti rutin periksa tekanan darah, kadar gula darah, dan lainnya penting untuk dilakukan, karena faktor risiko yang ditemukan saat ini, merupakan gambaran penyakit di masa yang akan datang.

Penanganan penyakit tidak menular tidak hanya cukup pada tindakan kuratif dan rehabilitatif. Sebagai contoh, kepada setiap penderita diabetes, selain pemberian obat-obatan dan bimbingan diet yang sesuai dengan kebutuhan, para penderita dan keluarga juga berhak mendapatkan edukasi. Sebagai tindakan preventif dan promotif, seorang dokter harus bersedia meluangkan waktu untuk menerangkan kepada keluarga bahwa risiko keluarga untuk terkena penyakit diabetes juga lebih tinggi, oleh karena itu harus menjaga pola makan sehat dan seimbang dan olahraga teratur.

Tindakan tersebut tidak akan berdampak cepat di masa kini, tapi akan membantu untuk tidak bertambahnya penderita penyakit tersebut di masa depan. Masyarakat juga akan lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya, dan tentunya cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera akan lebih dekat untuk diwujudkan seiring dengan meningkatnya kualitas hidup setiap individu.

Faktor risiko penyakit tidak menular. Sumber: http://wellnesssrilanka.com/ncd.html

Faktor risiko penyakit tidak menular. Sumber: http://wellnesssrilanka.com/ncd.html

Oleh karena itu, transisi kesehatan bukanlah menjadi masalah yang mustahil untuk diatasi bangsa ini jika semua pihak yang terkait dapat peduli. Bahwa yang dibutuhkan masyarakat tidak cukup hanya kata “sembuh”, tetapi juga “jauh” dari penyakit-penyakit tersebut. Penatalaksanaan yang komprehensif meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, akan membantu mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan sejahtera.

Bahan bacaan:

  • http://www.who.int/hac/techguidance/pht/comdisease/en/
  • http://www.who.int/chp/ncd_global_status_report/en/
  • http://www.depkes.go.id/folder/view/01/structure-laporan-kinerja-kemenkes.html

Penulis:
Doni Andika Putra, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Padang.
Kontak: danpa2121(at)gmail(dot)com.