Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Bipolar: Di Antara Dua Kutub

“Saya sekarang tidak tahu untuk apa saya hidup, semua rasanya percuma, Dok. Saya mau mati saja!” demikian keluh seorang pemudi di ruang praktik. Sudah beberapa minggu dia menjalani hari-hari dengan tidak semangat, tidak lagi dapat merasakan kesenangan, padahal satu bulan yang lalu dia terlihat sangat bahagia, supel, ringan tangan dan loyal ke teman-temannya. Untuk alasan yang tidak jelas tiba-tiba dia merasa sangat terpuruk.

Pemudi itu memang telah merasakan ada yang aneh pada dirinya. Ada hari-hari ketika dia merasa sangat senang, namun ada kalanya dia merasa sangat sedih tanpa alasan. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Adakah masalah yang tidak diceritakan? Atau adakah hal lain? “Bipolar”, begitulah diagnosis dokter kepadanya. Apa itu bipolar? Bagaimana tanda terkena bipolar? Apakah bipolar dapat sembuh? Bagaimana cara mengatasinya?

Bipolar merupakan sebuah kondisi berulang, sekurang-kurangnya dua episode, ketika keadaan suasana hati (mood) seseorang dan tingkat aktivitasnya menjadi terganggu. Pada waktu tertentu terjadi peningkatan mood disertai peningkatan energi dan aktivitas (dikenal dengan istilah mania), dan pada waktu lain berupa penurunan mood disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Ciri yang khas adalah biasanya ada fase sembuh sempurna  di antara  episode mania dan depresi.

Gejala dan tanda

Kondisi mania berbeda dengan keadaan senang dan demikian pula depresi berbeda dengan kesedihan. Oleh karenanya, gangguan bipolar berbeda dengan perubahan mood emosi biasa. Pada mania, peningkatan mood sampai menyebabkan gangguan yang berarti pada aktivitas pekerjaan dan sosial sehari hari. Dapat terjadi aktivitas berlebihan tetapi tidak produktif, banyak bicara, hasrat seks yang meninggi, kebutuhan tidur berkurang, terlalu optimis dan memandang diri sendiri sangat tinggi. Di sisi lain, harga diri yang membumbung pada mania juga bisa berkembang mengakibatkan sensitif, mudah tersinggung, dan mudah curiga. Sering pada fase mania yang lebih ringan, seseorang malah dianggap supel, murah senyum, ringan tangan, suka berbagi, dan jarang disadari sebagai gangguan. Padahal pada tahap ini sudah perlu diwaspadai sebagai awal gangguan.

Sebaliknya, penderita bipolar juga dapat mengalami depresi. Pada depresi terjadi kehilangan minat untuk kesenangan pada hal-hal yang sebelumnya dianggap menyenangkan, kehilangan tenaga pada keseluruhan aktivitasdan terlihat sekali pada wajah seseorang yang bisa terlihat murung atau bisa saja kosong. Depresi juga bisa disertai dengan kurangnya konsentrasi, merasa tidak berharga, perasaan bersalah atau berdosa, tidak punya pandangan terhadap masa depan, tidur terganggu, nafsu makan berkurang, dan ide untuk  mengakhiri hidupnya sendiri.

Penyebab

Lalu, apakah penyebab bipolar? Selama ini masyarakat menganggap bahwa hal tersebut disebabkan karena kurang beriman, kurang ibadah, kurang beragama, atau dikarenakan hukuman. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Bipolar terjadi karena berbagai macam zat kimia di otak atau bagian saraf neurotransmitter yang tidak seimbang. Gangguan keseimbangan neurotransmitter ini menyebabkan perubahan mood yang drastis dan berlebihan. Kadang kondisi bipolar dicetuskan oleh masalah berat, namun hal tersebut tidak terjadi pada  semua kondisi bipolar.

Beberapa kondisi bipolar ada juga yang diakibatkan faktor genetik (gen ANK3, CAACNA1C, CLOCK) yang didukung oleh faktor lingkungan dan stres tertentu. Seseorang dengan riwayat orang tua menderita bipolar akan memiliki risiko 7 kali mengalami gangguan ini jika dibandingkan dengan populasi umum. Pada kembar identik, kemungkinan seseorang mengalami bipolar jika saudaranya terdiagnosis bipolar berkisar antara 33-90%.

Prognosis

Bipolar berada di kedua kutub mania dan depresi secara berganti-ganti, dan di antara keduanya terdapat fase normal. Pada fase sembuh ini seseorang dapat beraktivitas seperti biasa, berinteraksi sosial tanpa kendala meskipun gejala-gejala selanjutnya mengintip di ujung pintu menunggu untuk kembali mengganggu. Gangguan bipolar ini berlangsung seumur hidup dan memerlukan obat rutin.

Mengapa obat rutin dibutuhkan? Dapat dibayangkan jika dalam keseharian para penderita bipolar terganggu dengan mood swing yang ekstrem, pekerjaan terbengkalai, sekolah terganggu, hubungan dengan orang tua dan teman pun terganggu. Dan yang lebih buruk lagi, sekitar 30% dari penderita bipolar melakukan percobaan bunuh diri. Oleh karena itu, siapapun yang mengalami bipolar perlu untuk berobat secara rutin dan menjalani konseling untuk mengontrol gejalanya dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Penanganan

Pasien bipolar membutuhkan obat untuk mengontrol gejalanya, dan mungkin obat-obatan tersebut diminum seumur hidup. Perlu diperhatikan, minum obat secara rutin pada bipolar tidak berarti kecanduan. Minum obat di sini berfungsi untuk mencegah kekambuhan. Berbeda dengan kecanduan yang berarti minum obat untuk senang-senang. Jangan hanya karena kata orang yang tidak mengerti, para penderita menghentikan obat yang rutin diminum. Jika gangguan bipolar muncul kembali tentu saja penderitanya sendiri yang rugi.

Oleh karena itu,  setelah kita tahu fakta mengenai bipolar ada baiknya jika selalu memberikan dukungan kepada penderita bipolar untuk meminum obat secara rutin. Ejekan dan pemberian stigma tertentu bukanlah hal yang dibenarkan. Sebaliknya, dukungan dan semangat diperlukan hingga kondisinya benar-benar baik. Mari kita bantu para penderita bipolar keluar dari rasa sakitnya dengan dukungan dari keluarga, sehabat, teman dekat dan kita semuanya. Salam sadar!

Bahan bacaan:

  • Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi ke-2. Surabaya: Pusat penerbitan dan percetakan.
  • Maslim, R. (2001), Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari PPGDJ-III, Jakarta.
  • Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III), Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993.
  • Sadock, Benjamin James., Sadock, Virginia Alcott., Ruiz, Pedro. (2015). Kapplan and Saddock’s sypnosis of Psychiatry. Edisi ke-11.
  • Stahl, Stephen M. (2013).  Stahl’s Essential Psychopharmacology. Edisi ke-4.

 Penulis:

Jiemi Ardian, Residen Psikiatri, Hipnoterapis, dan Blogger.
Kontak: jiemi.ardian(at)gmail.com, twitter @neotransmitter, blog: http://katanyadokter.blogspot.com/