Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Rasa Nyeri dan Bahagia

Rasa nyeri (pain) bisa didefinisikan sebagai pengalaman sensasi dan emosional yang tidak menyenangkan yang merupakan sistem pertahanan tubuh untuk meminimalkan kerusakan fisik yang terjadi. Dari definisi nyeri yang disebutkan oleh The International Association for the Study of Pain (IASP), kita bisa mengambil beberapa kata kunci dari nyeri.

Kata kunci pertama, nyeri adalah pengalaman, baik itu sensasi (seperti sentuhan, tusukan, goresan, dan lain-lain) juga emosional. Karena nyeri didapat dari pengalaman sebelumnya, maka pembentukan ingatan terhadap pencetus nyeri adalah menjadi bagian yang penting dalam proses pembentukan rasa nyeri.

Nah, karena sistem nyeri ini merupakan pengalaman pribadi orang, hal ini menjadikan nyeri bersifat sangat subjektif dan masing-masing orang memiliki ambang batas (treshold) rasa nyeri yang berbeda-beda. Dalam dunia kedokteran sendiri, tidak ada alat ukur yang benar-benar valid untuk mengukur rasa nyeri ini.

Kata kunci kedua adalah nyeri merupakan sistem pertahanan tubuh untuk meminimalkan kerusakan fisik yang terjadi. Oleh karena itu, sekalipun nyeri adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, tapi ternyata ia adalah suatu sistem proteksi tubuh. Rasa nyeri didapat jika ada salah satu jaringan atau organ tubuh yang rusak. Rasa nyeri timbul untuk memberi tahu kita bahwa, “Ini lho, ada bagian tubuh yang rusak”, sehingga tubuh segera mengompensasi kerusakan yang terjadi, entah itu dari sistem regenerasi tubuh sendiri atau dengan mengonsumsi obat.

Nyeri sendi, salah satu contoh nyeri.

Nyeri sendi, salah satu contoh nyeri.

Jika dieksplorasi lebih jauh, rasa nyeri itu juga ada bermacam-macam wujud dan penyebabnya. Mulai dari digigit nyamuk, dicubit, peradangan pada tenggorokan, peradangan pada organ dalam, kerusakan syaraf, sampai stres, semuanya dapat menimbulkan rasa nyeri. Namun, manifestasi nyeri akan berbeda-beda untuk setiap kasus.

Pada kasus digigit nyamuk, dicubit, luka tergores, dan radang organ internal nyerinya bisa terasa seperti ditusuk-tusuk pada organ atau area yang luka. Sementara pada kasus kerusakan saraf, manifestasi nyerinya seperti munculnya rasa terbakar atau rasa panas pada organ yang berada pada jalur sel sarafnya, dan tidak hanya terbatas pada area yang terluka.

Nyeri yang didapat dari digigit nyamuk, dicubit, luka tergores, peradangan organ disebut sebagai nyeri nociceptive-inflammatory. Nyeri ini nantinya dapat diklasifikasikan lagi menjadi nyeri somatis yang nyerinya berasal dari kerusakan jaringan pada otot, tulang, dan gigi; serta nyeri visceral yang berasal dari organ-organ dalam, seperti jantung, lambung (gastritis), hati (hepatitis), dan lain-lain. Sementara itu, nyeri yang asalnya dari kerusakan saaraf disebut sebagai neuropathic pain.

Adapun nyeri yang dihasilkan akibat stres disebut sebagai psychogenic pain. Nyeri akibat stres seperti ini biasanya tidak berasal dari kerusakan jaringan atau kerusakan saraf apapun, melainkan murni karena pikiran. Misalnya saat seseorang akan ujian, ia bisa merasa lambungnya sakit atau otot-ototnya terasa sakit.

Rangsangan nyeri diterima oleh tubuh melalui reseptor rasa nyeri yang disebut nociceptor. Nociceptor atau ujung syaraf bebas ini tersebar di seluruh tubuh, kecuali otak, dan dirangsang oleh faktor termal (suhu yang terlalu dingin atau yang terlalu panas), biologis, kimiawi, listrik, dan mekanik.

Selain reseptor, neurotransmiter (zat kimia yang dikeluarkan akibat rangsang luar) juga berperan dalam penghantaran impuls rasa nyeri ini. Neurotransmiter yang terlibat dalam hantaran nyeri antara lain histamin, prostaglandin, substansi P, leukotriens, bradikinin, dan asetilkolin. Penghantaran impuls nyeri sendiri terdiri dari empat langkah utama, yaitu: transduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi.

Penghantaran rangsangan nyeri. Sumber: http://seberkas-cahaya-langit.blogspot.jp/

Penghantaran rangsangan nyeri. Sumber: http://seberkas-cahaya-langit.blogspot.jp/

Transduksi adalah proses terjadinya potensial aksi pada ujung saraf bebas atau nociceptor. Potensial aksi ini terjadi akibat adanya neurotransmiter pada jaringan yang luka. Transmisi adalah penghantaran potensial aksi atau impuls nyeri dari reseptor (nociceptor) ke sistem syaraf pusat. Proses selanjutnya dari penghantaran impuls syaraf adalah modulasi. Modulasi ini terjadi di sumsum tulang belakang (medulla spinalis), lebih tepatnya di area bernama cornu dorsalismedulla spinalis. Di sini, terjadi pengaturan impuls nyeri yang masuk.

Modulasi terbagi menjadi dua jalur, yakni modulasi asendan dan desendan. Pada jalur modulasi asendan, impuls nyeri diamplifikasi (atau dinaikkan rasa sakitnya) beberapa kali lipat agar pembacaannya pada proses presepsi di otak cukup dan mampu diterjemahkan. Sementara itu, modulasi desendan berfungsi untuk mengurangi amplifikasi tadi sebelum impuls kembali dari otak ke efektor. Pada proses persepsi, impuls nyeri dibawa ke otak di bagian korteks serebri untuk diinterpretasikan setelah sebelumnya melewati thalamus. Sistem limbik yang merupakan pusat kontrol emosi juga terlibat sehingga seringkali orang yang merasakan nyeri bisa sedih atau bahkan menangis.

Nah, yang perlu diperhatikan dari penghantaran impuls saraf tadi adalah modulasi desendan–yang bertugas untuk mengurangi amplifikasi rasa nyeri ini, terdiri atas sistem yang melibatkan hormon-hormon yang disekresi tubuh saat kita merasa bahagia, misalnya serotonin, endorfin, dan dopamin. Semakin banyak hormon-hormon ini disekresi tubuh, semakin berkurang pula rasa nyerinya, itulah mengapa semakin bahagia kita, rasa nyeri akan semakin tidak terasa.

Jika sedang sedih atau stres, sekresi hormon-hormon tersebut tidak sebanyak saat normal atau saat bahagia, maka fungsi desendan modulasi juga akan berkurang, sehingga rasa sakit yang tadinya diamplifikasi pada saat melewati asendan modulasi masih akan terasa berkali-kali lipat lebih nyeri saat sampai ke efektor jika dibandingkan saat kita sedang kondisi normal ataupun saat sedang senang. Kesimpulannya, berbahagialah, sehingga rasa sakit seperti apapun akan berkurang.

Bahan bacaan:

Penulis:
Setyani Nurul Chotimah, Mahasiswi Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kontak: setyani(dot)chotimah(at)gmail(dot)com.