Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Mengenal Kecerdasan Buatan

Pernahkah teman-teman kalah melawan komputer ketika bermain sebuah game permainan catur? Jika pernah, bukankah manusia memiliki kecerdasan sedangkan komputer hanyalah sebuah sistem. Bagaimana ini bisa terjadi?

Kasus di atas adalah contoh sederhana dari kecerdasan buatan yang ada pada permainan catur di dalam sistem komputer. Kecerdasan buatan (artificial Intelligence) merupakan salah satu bagian ilmu yang membuat agar sistem (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan manusia.

Ilustrasi kecerdasan buatan.

Ilustrasi kecerdasan buatan.

Awal mula kecerdasan buatan

Ribuan tahun yang lalu, para ilmuwan mencoba memahami pertanyaan mendasar berikut, “Bagaimana pikiran manusia itu bekerja?” Pernyataan cerdas yang pada dasarnya digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir manusia selalu menjadi perbincangan menarik karena cerdas atau tidaknya manusia bersifat subjektif. Sementara itu, manusia bercita-cita untuk menularkan “kecerdasan manusia” kepada sistem.

Orang pertama yang mengembangkan mesin cerdas (intelligence machine) adalah Alan Turing, seorang matematikawan asal Inggris yang pernah memublikasikan konsep tentang mesin universal. Ia dikenal juga sebagai pencipta pertama program komputer untuk bermain catur, yang dikembangkan di University of Manchester.

Istilah kecerdasan buatan, yang selanjutnya kita singkat saja sebagai AI (artificial Intelligence), mulai dikenal sekitar tahun 1943. Teori tentang jaringan saraf tiruan (artificial neuron network, ANN) menyatakan bahwa setiap neuron dapat dimisalkan dalam keadaan biner, yaitu ON dan OFF. Dari setiap percobaan, setiap fungsi perhitungan dapat diselesaikan melalui jaringan neuron yang dimodelkan ini.

Sementara itu, metode lain dalam AI yang sama terkenalnya dengan ANN adalah fuzzy Logic (FL). ANN didesain berdasarkan cara kerja otak manusia dari dalam, sedangkan FL justru merepresentasikan cara berpikir manusia yang tampak dari sisi luar.

Pada tahun 1965, Lotfi Zadeh, seorang professor teknik elektro di University of California, memublikasikan konsepnya yang disebut dengan “fuzzy sets”. Beliau mampu menjabarkan FL dengan pernyataan matematis dan visual yang relatif mudah dipahami. Karena kajian ini berkaitan dengan sistem kontrol, konsep tersebut banyak dikembangkan dalam konteks pemrograman komputer hingga saat ini.

Seiring dengan perkembangan pemrograman komputer, kecerdasan buatan mulai banyak diterapkan pada kontrol robotik. Aplikasi AI dalam kontrol robotik dapat diilustrasikan dalam diagram.

Kontrol robot loop tertutup berbasis AI.

Kontrol robot loop tertutup berbasis AI.

Penggunaan AI dalam kontroler digunakan untuk mendapatkan sifat dinamis kontroler secara otomatis. Dalam aplikasi lainnya, kecerdasan buatan juga digunakan untuk membantu proses identifikasi model dari sistem robot, model lingkungan atau gangguan, model dari tugas robot, dan sebagainya.

Kecerdasan buatan diterapkan pada robot.

Kecerdasan buatan diterapkan pada robot.

Berbagai macam penerapan kecerdasan buatan / AI

Pada implementasinya, AI diterapkan dalam bentuk algoritma, yang kemudian algoritma tersebut direalisasikan dalam bentuk program komputer. Berikut ini penerapan AI dalam beberapa sistem.

1. Pengenalan Suara (Speech Recognition)

Komputer yang mampu mengenali suara manusia mulai dapat direalisasikan. Perintah tidak lagi di-input dengan cara mengetik, tetapi melalui perintah suara user. Realisasi nyata dari kecerdasan buatan ini kini dapat ditemui secara luas pada smartphone.

2. Sistem Pakar (Expert System)

Ini memungkinkan sistem untuk mengambil keputusan atau melakukan pekerjaan berdasarkan pengetahuan (knowledge) yang sudah ditanamkan sebelumnya. Misalnya, komputer dapat mendiagnosis penyakit dengan memasukkan gejala-gejala yang dialami pasien.

3. Visualisasi Komputer (Computer Vision)

Sama halnya dengan mengenali suara, kecerdasan buatan pada visualisasi ini memungkinkan mesin untuk mengenali input visual. Pada praktiknya, robot yang dibekali kecerdasan visual sekalipun masih belum mampu mengungguli kecerdasan manusia dalam mengenali gambar.

4. Permainan (Game Play)

Pada permainan yang memiliki fasilitas user melawan komputer, sebagai mesin hitung komputer mampu melakukan kalkulasi sangat cepat. Oleh karena itu, dalam permainan, komputer dapat mengetahui berbagai kemungkinan peristiwa dan memutuskan langkah yang paling efektif untuk memenangkan permainan.

5. Klasifikasi Heuristik (Heuristic Classification)

Kecerdasan ini memungkinkan komputer untuk menganalisis informasi yang kemudian mengklasifikasikannya ke dalam kategori-kategori yang sudah ditanamkan sebelumnya.

Otak manusia vs prosesor komputer.

Otak manusia vs prosesor komputer.

Dengan semakin berkembangnya AI, mulai timbul pertanyaan, mungkinkah kecerdasan mesin mampu bekerja sebaik kecerdasan manusia. Mari kita lihat perbandingan seperti pada tabel.

Ed44-tekno-4

Melihat data sederhana tersebut bukan tidak mungkin mesin, dalam hal ini komputer, akan mampu bekerja seperti otak manusia, atau bahkan melampauinya. Namun, ini bukan berarti manusia dapat menyerahkan semua pekerjaannya pada komputer.

Kemampuan manusia untuk belajar dan menggabungkan faktor emosi adalah hal yang belum bisa diterapkan pada sistem yang hanya bekerja sesuai program atau perintah yang sudah ditanamkan. Justru dengan berkembangnya kecerdasan buatan manusia dapat bekerja lebih efektif dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu.

Bahan bacaan:

Penulis:
Rahmat Hadi Saputro, Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Sendai National College of Technology, Jepang.