Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Kenali Anemia, Singkirkan 4L

Banyak orang datang ke dokter dengan mengeluh lemah,letih, lesu, lelah, dan tak bergairah. Kebanyakan dari mereka bertanya pada dokter, “Dok, saya merasa seperti ga bertenaga, lemes, gampang cape,” Apakah saya kurang darah dok?”. Perkiraan dari sang pasien memang ada benarnya, seringkali semua gejala 4L (lemah, letih , lesu, lelah) merupakan tanda-tanda dari kurang darah. Kurang darah di masyarakat umum sering disamakan dengan anemia.

Bagian darah yang mana yang berkurang?

Darah terdiri dari 2 bagian, yaitu plasma darah (cairan darah) dan sel-sel darah seperti sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Perlu kita ketahui bahwa masing-masing sel tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Eritrosit berperan dalam mengangkut oksigen yang didapat dari proses bernapas. Dalam perannya sebagai pengangkut oksigen, eritrosit menggunakan zat hemoglobin untuk mengikat oksigen di paru-paru. Hemoglobin atau disingkat Hb inilah yang menyebabkan mengapa darah berwarna merah. Leukosit merupakan sel-sel darah yang berperan dalam pertahanan tubuh, sel-sel ini akan menyerang benda-benda asing seperti bakteri, virus, juga kuman-kuman lain yang menyerang tubuh kita (infeksi). Sementara itu, trombosit berperan dalam penutupan luka apabila terjadi dengan cara pembekuan darah.

Anemia sendiri merupakan berkurangnya kadar hemoglobin di bawah normal. Bila kadar hemoglobin berkurang, otomatis kemampuan eritrosit dalam mengangkut oksigen akan berkurang sehingga suplai oksigen ke jaringan menurun. Oksigen merupakan salah satu komponen yang penting dalam metabolisme sel-sel semua organ tubuh kita termasuk otak, jantung, dan otot. Apabila asupan oksigen menurun akibat anemia, seorang penderita anemia dapat menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Badan lemah, letih, lesu, lelah dan tak bersemangat
  • Daya tahan tubuh terhadap penyakit berkurang
  • Sering mengantuk pada waktu bukan saatnya tidur
  • Sulit konsentrasi
  • Sakit kepala
  • Pucat, disebabkan kurangnya kadar Hb dalam darah.

ed30-kesehatan-1

Apa saja yang dapat menyebabkan anemia?

Secara umum, penyebab anemia terdiri dari dua hal, yaitu:

  1. Gangguan dalam proses produksi sel darah merah dan hemoglobin sebagai pengangkut oksigen.
  2. Meningkatnya kehilangan sel-sel darah merah dalam darah.

Penyebab pertama, yaitu gangguan dalam produksi sel-sel darah merah, dapat terjadi apabila ada kekurangan bahan dasar pembentuk sel-sel darah merah itu sendiri, seperti pada orang-orang yang kekurangan asupan vitamin B12, dan asam folat. Sementara itu, kekurangan bahan pembentuk hemoglobin yang berperan dalam pengikatan O2 pada sel darah merah dapat terjadi pada orang-orang yang kekurangan asupan zat besi dan protein.

Selain karena kurangnya asupan zat gizi pembentuk, gangguan produksi dapat disebabkan kelainan genetik yang menyebabkan sel-darah atau Hb yang dibentuk tidak normal sehingga fungsi pengangkut oksigen tidak dapat terlaksana dengan baik seperti yang terjadi pada kelainan Hb pada penderita thalassemia (kelainan hemoglobin sel darah merah). Kekurangan hormon pembentuk sel-sel darah merah (eritropoietin) juga dapat terjadi pada penderita gagal ginjal.

Penyebab kedua, yaitu meningkatnya kehilangan sel-sel darah merah dapat disebabkan oleh pendarahan yang mengakibatkan banyak kehilangan darah maupun rusaknya sel-sel darah sebelum waktunya. Untuk kasus pendarahan yang mengkibatkan banyak kehilangan darah, hal ini dapat jelas terlihat pada korban kecelakaan, atau juga pada pasien-pasien yang mengalami tindakan operasi besar. Hal yang tidak kalah berbahaya yaitu pendarahan yang tidak kelihatan seperti pendarahan pada saluran pencernaan pada pasien-pasien tukak lambung dan usus. Para penderita mungkin tidak merasa sakit, tapi dapat mengeluh buang air besar yang berwarna kehitaman seperti kopi. Pendarahan seperti ini juga dapat terjadi pada beberapa pasien yang terinfeksi beberapa jenis cacing yang menghisap darah (cacingan). Pada penderita cacingan, dapat terjadi anemia perlahan-lahan tanpa disadari oleh penderitanya. Gejala-gejala anemia biasanya baru akan terlihat pada tingkat cacingan yang berat.

Sementara itu, anemia yang disebabkan oleh rusaknya sel-sel darah merah sebelum pada waktunya biasanya masuk dalam kategori anemia hemolitik, yaitu anemia yang diakibatkan oleh pecahnya sel-sel darah merah oleh karena kelainan genetik seperti pada sperositosis (sel darah merah berbentuk bulat seperti bola) dan thalassemia. Anemia hemolitik juga dapat disebabkan oleh zat-zat yang merusak sel-sel darah seperti pada gigitan ular berbisa.

Pemeriksaan praktis untuk mengetahui kadar Hb dapat dilakukan dengan memeriksa konjungtiva mata. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menekan kelopak mata bawah ke arah bawah sehingga terlihat jaringan yang berwarna merah di bawah bola mata. Merah atau pucatnya bagian ini menggambarkan perkiraan kadar Hb darah. Bila warna pucat berarti kadar Hb mungkin di bawah normal. Selain itu dapat juga dilihat dari tampilan warna pucat atau tidaknya telapak tangan dan wajah, tetapi hasilnya kurang akurat bila dibandingkan dengan pemeriksaan konjungtiva mata.

Contoh pemeriksaan konjungtiva mata.

Contoh pemeriksaan konjungtiva mata.

Bila memiliki waktu luang dan dana, kita dapat memeriksakan darah di laboratorium. Kadar Hb yang normal berbeda pada anak-anak, pria dan wanita. Jika kadar Hb kita di bawah normal, berarti kita menderita anemia. Berikut ini merupakan kadar Hb yang normal:

  1. Kanak-kanak: 11-13 gm/dl
  2. Lelaki dewasa: 14-18 gm/dl
  3. Wanita dewasa: 12-16 gm/dl

Bagaimana mencegah anemia?

Anemia dapat dicegah dengan berbagai usaha, antara lain:

1. Makan-makanan yang cukup kandungan gizinya. Untuk mencegah anemia, kita harus memakan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang berguna dalam pembentukan sel-sel darah merah. Makanan yang dimaksud diantaranya yang banyak mengandung vitamin B12, asam folat, zat besi, dan protein.

a) Sumber makanan yang mengandung vitamin B12 antara lain: makanan-makanan yang berasal dari hewan, antara lain daging, telur, ikan, dan unggas seperti ayam. Vitamin B12 juga ditemukan dalam tempe.

b) Asam folat bisa didapatkan dari berbagai sumber hewani maupun nabati seperti hati, kuning telur, ginjal, ragi, sayuran hijau seperti bayam dan brokoli susu, dan juga roti.

c) Zat besi yang berasal dari sumber nabati tidak dapat diserap tubuh sebaik yang berasal dari daging. Inilah alasan atau kekhawatiran kaum vegetarian akan kekurangan zat besi dalam dietnya. Penyerapan zat besi akan terbantu oleh vitamin C, asam nitrat, dan asam malat. Buah-buahan dan sayuran hijau merupakan sumber vitamin C. Banyak buah yang mengandung asam nitrat dan asam malat, misalnya apel, labu kuning, mangga, tomat, dan sitrus.

d) Sumber protein nabati dapat bersumber dari kacang-kacangan termasuk tempe dan tahu. Sedangkan sumber protein hewani dapat berasal dari daging, telur dan susu.

2. Seandainya kita tidak dapat mencukupi kebutuhan zat-zat gizi tersebut dari makanan, kita dapat memperolehnya dari suplemen di toko-toko obat. Saat ini banyak tersedia tablet atau kapsul multivitamin penambah darah dalam berbagai merek.

Hal-hal yang perlu kita ketahui

1. Penyerapan zat besi dapat dihambat oleh teh, sehingga sebaiknya kita tidak menyertakan minuman teh sebagai pendamping makanan-makanan yang kaya akan zat besi. Sebaliknya penyerapan zat besi dapat ditingkatkan oleh vitamin C, sehingga penting juga bagi kita untuk mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C dalam jumlah yang cukup setelah selesai makan.

2. Protein merupakan zat gizi yang sangat penting untuk mencegah anemia, selain berperan sebagai bahan pembentuk hemoglobin, protein juga berperan sebagai pembentuk sel-sel darah merah, transportasi zat besi setelah diserap di usus, dan berperan dalam berbagai metabolisme dalam tubuh sebagai enzim. Oleh karena itu, kurangnya konsumsi makanan yang mengandung protein dapat mengganggu pembentukan sel-sel darah.

Dengan mengetahui sekilas tentang penyakit kurang darah atau anemia ini, mudah-mudahan kita dapat meningkatkan kualitas kesehatan kita dan menjadikan kita lebih produktif.

Bahan bacaan:

Penulis:
Afiat Berbudi, mahasiswa S3 di Institute of Medical Microbiology, Immunology, and Parasitology University of Bonn serta Dosen FK Unpad. Kontak: berbudi(at)uni-bonn(dot)de.