Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Selenium dan Peranannya bagi Kesehatan

Zat gizi (nutrisi) di dalam makanan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua golongan besar, yaitu nutrisi makro (macronutrition) dan nutrisi mikro (micronutrition). Karbohidrat, lemak dan protein termasuk ke dalam kelompok nutrisi makro karena memiliki kandungan kalori sebagai sumber energi dalam jumlah besar, sedangkan mineral dan vitamin termasuk ke dalam kelompok nutrisi mikro, yang sedikit atau bahkan tidak memiliki kandungan kalori. Meskipun nutrisi mikro dibutuhkan hanya dalam jumlah sedikit, namun keberadaannya dalam tubuh mutlak diperlukan karena nutrisi mikro berperan dalam berbagai proses fisiologis tubuh, seperti menjadi kofaktor dalam reaksi enzimatik di dalam tubuh atau menjadi antioksidan.

Bila dibandingkan dengan mineral lain seperti zat besi (Fe) ataupun kalsium (Ca), nama selenium (Se) relatif kurang dikenal oleh masyarakat. Selenium merupakan mineral yang banyak dijumpai di dalam tanah. Di dalam tubuh kita sendiri selenium termasuk nutrisi yang esensial dan hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit, yaitu maksimal 55 mikrogram per hari menurut rekomendasi Food and Nutrition Board Institute of Medicine of the National Academic United States.

Selenium dapat dijumpai dalam bentuk inorganik (selenate dan selenite) yang selanjutnya dapat diubah menjadi bentuk organik (selenometionin dan selenosistein) yang memiliki peran penting di dalam tubuh. Makanan yang kaya selenium adalah kacang-kacangan, terutama kacang brazil, ikan tuna dan makanan laut lain, gandum-ganduman termasuk beras dan daging merah.

Selenium termasuk ke dalam nutrisi yang penting karena selenium adalah bagian dari enzim glutathione peroxidase (GPx) yang berperan sebagai antioksidan. Setiap hari, manusia terpapar oleh zat-zat bersifat oksidatif yang dapat merusak sel-sel tubuh. Oleh karena itu, zat antioksidan seperti GPx sangat diperlukan.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, tidak perlu khawatir kekurangan selenium. Sebagai negara tropis, tanah di Indonesia kaya akan selenium sehingga produk pertanian seperti beras memiliki cukup kandungan selenium. Penyakit yang disebabkan kekurangan ataupun kelebihan selenium pun hampir tidak terdengar di Indonesia. Akan tetapi, asupan selenium dalam jumlah yang berlebihan dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan masalah bagi tubuh.

Kacang Brazil

Kacang Brazil

Bila Anda penggemar drama seri barat House MD, di dalam salah satu episodenya ditampilkan pasien yang terkena penyakit akibat terlalu banyak mengkonsumsi kacang Brazil, makanan yang kaya dengan selenium. Kacang Brazil mengandung lebih dari 500 mikrogram selenium per 6-8 biji. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain nafas berbau bawang putih (garlic odor), sensasi aneh seperti logam di daerah mulut, dan gangguan pencernaan.

Dalam keadaan sehat, asupan selenium dapat terpenuhi dari makanan yang biasa dikonsumsi. Namun pada beberapa keadaan khusus, suplementasi (asupan tambahan) selenium diperlukan untuk proses penyembuhan. Pada penderita kanker, suplementasi selenium diperlukan pada proses terapi yang menggunakan radiasi ataupun kemoterapi. Sifat antioksidan selenium dapat melindungi sel-sel normal dari efek samping terapi kanker. Di sisi lain, selenium sendiri dapat membantu proses perusakan sel kanker.

Para peneliti saat ini mulai melihat prospek suplementasi selenium sebagai bagian dari terapi penderita kardiovaskular. Penelitian awal di Public health Department Gunma University tempat penulis menimba ilmu saat ini dan di beberapa tempat lain menunjukkan selenium dapat meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL), atau yang lebih dikenal sebagai lemak baik. Hal ini dapat menurunkan penumpukan lemak pada pembuluh darah (aterosklerosis). Oleh karena itu, diharapkan ke depannya suplementasi selenium dapat digunakan pada orang sehat yang termasuk risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular, seperti orang-orang yang bekerja dalam tingkat stres yang tinggi dan orang-orang lanjut usia.

Bahan bacaan:

Penulis:
Mirasari Putri, mahasiswi S3 di Public Health Department, Graduate School of Medicine, Gunma University, Jepang.