Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Apakah antibiotik sudah dipakai dengan tepat?

Penyakit infeksi bisa disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit. Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Jika digunakan secara tepat, obat antibiotik dapat menyelamatkan banyak nyawa. Namun, jika digunakan secara tidak tepat (tidak rasional), antibiotik akan menyebabkan bakteri menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik tersebut. Akibatnya, hal tersebut akan memperlama waktu sakit, meningkatkan biaya kesehatan, angka kesakitan, dan angka kematian.

Bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah bakteri yang bermutasi atau berubah menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga antibiotik tidak mampu lagi menghambat pertumbuhan bakteri ataupun mematikannya. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten ini lebih sulit disembuhkan karena bakteri ini menghasilkan enzim atau protein yang bisa menghancurkan antibotik.

Proses resistensi antibiotik sebenarnya merupakan proses normal. Artinya, jika antibiotik digunakan secara terus menerus, bakteri akan melakukan upaya untuk mempertahankan diri sehingga lama kelamaan mempunyai kemampuan untuk kebal terhadap antibiotik tersebut. Namun, proses resistensi ini bisa dipercepat apabila antibiotik digunakan secara tidak tepat alias berlebihan.

Ed10-kesehatan-1

Contoh penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah antibiotik digunakan pada kondisi yang seharusnya tidak memerlukan antibiotik. Hal ini sering terjadi pada penyakit infeksi yang disebabkan virus. Harap diingat kembali bahwa antibiotik adalah obat untuk mengobati infeksi karena bakteri. Virus berbeda dengan bakteri. Penyakit infeksi virus adalah self-limited disease, yakni infeksi ini bisa sembuh sendiri dan tidak memerlukan antibiotik.

Contoh lain penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah saat antibiotik memang diperlukan, tetapi dipakai secara tidak tepat. Misalnya, kita menghentikan pemakaian antibiotik saat merasa penyakit sudah membaik tanpa menghabiskannya sesuai anjuran dokter. Bisa juga kita membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter (over the counter/otc), meminum antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, menyimpan antibiotik untuk persediaan bila sakit, atau memakai resep orang lain untuk membeli antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter.

Mengapa penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah?

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menyebabkan antibiotik menjadi kurang efektif dan mungkin tidak akan bekerja saat Anda menggunakannya lagi. Selain itu, apabila tidak digunakan dengan tepat, antibiotik dapat memperbanyak munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Bakteri yang resisten ini bisa menyebar dari satu orang ke orang yang lain yang pada akhirnya menyebar ke masyarakat.

Bakteri yang resisten ini lebih sulit dimatikan dan biasanya memerlukan antibiotik yang lebih kuat untuk membunuhnya. Bahkan pada kasus yang ekstrem akan terjadi bakteri yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotik (bakteri yang multiresisten terhadap antibiotik), yang menyebabkan semakin sulitnya mengatasi penyakit infeksi akibat bakteri ini. Infeksi akibat bakteri yang resisten ini bisa menyerang siapa saja dan fenomena ini umum terjadi.

Apa penyakit-penyakit di masyarakat yang umumnya diobati dengan antibiotik?

1. Infeksi saluran pernapasan akut bagian atas (selanjutnya disingkat ISPA)

Contoh ISPA adalah flu atau infeksi batuk pilek biasa yang disertai demam (sering disebut radang tenggorokan). Infeksi ini sering sekali diberikan antibiotik. Banyak yang beranggapan setiap ada gejala demam harus meminum antibiotik. Padahal dikatakan dalam penelitian bahwa penyebab terbanyak ISPA adalah akibat virus. Terutama pada anak-anak di bawah usia 8 tahun, dikatakan 80% penyebabnya adalah virus.

Jika infeksi ini ditandai dengan gejala demam, batuk, pilek dengan ingus yang encer, dan di sekitar orang sakit tersebut banyak yang menderita sakit serupa, sangat mungkin infeksi ini adalah akibat virus yang bisa sembuh sendiri sehingga tidak memerlukan pengobatan antibiotik. Pada infeksi saluran napas akibat virus, antibiotik tidak mengurangi lama sakit dan tidak mengurangi gejala. Gejala akan sembuh sendiri apabila kekebalan tubuh sudah membunuh virus tersebut.

Orang yang sakit ISPA memerlukan lebih banyak minum dan istirahat, bukan antibiotik. Minum perlu diperbanyak karena pada saat demam (suhu tubuh lebih dari {\rm 37,5}^\circ{\rm C}) banyak cairan tubuh yang menguap. Selain itu, dengan banyak minum, lendir di saluran napas menjadi lebih encer sehingga mudah diserap oleh tubuh. Akhirnya, batuk akan lebih cepat reda.

Pengobatan simptomatis (mengobati gejala yang muncul) bisa cukup membantu, seperti memberikan obat penurun demam bila suhu badan lebih dari {\rm 38,5}^\circ{\rm C} (demam tinggi). Demam merupakan respon alamiah tubuh. Apabila ada kuman masuk, tubuh akan mematikan kuman tersebut dengan cara meningkatkan suhu tubuh. Oleh karena itu, jika anak masih nyaman, masih bisa bermain, dan makan minum masih mau, obat penurun demam tidak perlu diberikan dulu. Kecuali pada kondisi khusus, misalnya pasien demam yang diikuti kejang,  obat turun demam diberikan lebih awal pada saat anak mulai demam.

Berdasarkan hal tersebut, hal yang paling penting adalah biarkan dokter yang memutuskan apakah infeksi saluran napas yang diderita disebabkan oleh virus atau bakteri, serta kapan orang sakit memerlukan antibiotik untuk penyakitnya. Antibiotik juga tidak berguna untuk mencegah penularan penyakit karena infeksi virus biasanya menyebar dari satu orang ke orang yang lain mulai sejak belum munculnya gejala, yaitu sebelum orang tersebut merasa bahwa dirinya sakit.

2. Diare

Virus adalah penyebab diare karena infeksi yang paling sering. Infeksi tersebut ditandai dengan adanya berak atau feses yang konsistensinya lebih encer dan lebih sering dari biasanya serta berak tanpa disertai darah. Lagi-lagi, antibiotik tidak diperlukan pada kasus ini. Pemberian antibiotik malah bisa menyebabkan matinya kuman baik atau flora normal di usus sehingga kuman yang tidak baik akan bisa berkembang biak dengan leluasa. Ini akan membuat diare makin parah dan lama sembuh.

Hal-hal yang perlu dilakukan pada diare adalah minum yang cukup untuk mencegah terjadinya dehidrasi atau kurangnya cairan, makan diteruskan untuk mengganti sel mukosa usus yang rusak, pemberian mikronutrien seng (zink), dan menjaga kehigienisan (harus mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir atau alkohol sebelum dan setelah berhubungan dengan feses penderita). Antibiotik hanya diperlukan pada kasus diare yang disertai dengan darah.

Bagaimana cara mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak tepat?

  • Jangan meminta antibiotik kepada dokter, biarkan dokter yang memutuskan kapan Anda memerlukan antibiotik.
  • Apabila antibiotik memang diperlukan, minumlah sesuai dengan anjuran. Sebagai contoh, Anda diminta meminum antibiotik 3 kali sehari, maka obat tersebut harus diminum setiap 8 jam (24 jam dibagi 3).
  • Habiskan antibiotik, jangan hentikan hanya karena Anda merasa penyakit sudah membaik.
  • Jangan pernah membeli dan menyimpan antibiotik untuk persediaan, atau menggunakan resep orang lain untuk diri Anda.

Antibiotik merupakan obat yang sangat kuat dan bermanfaat, tetapi antibiotik bukan selalu merupakan jawaban untuk penyakit infeksi. Apabila menggunakan antibiotik secara berlebihan dan tidak tepat, hal tersebut akan memungkinkan nantinya antibiotik tidak bisa bekerja dengan baik untuk melawan infeksi bakteri. Untuk meningkatkan penggunaan antibiotik dengan tepat memerlukan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat.

Kita semua mempunyai peran untuk menjaga agar antibiotik tetap bisa digunakan dan bermanfaat. Mulai dari dokter, agar selalu berpedoman pada acuan untuk menentukan apakah antibiotik benar-benar perlu diberikan kepada pasien. Pasien pun tidak membeli sendiri antibiotik tanpa anjuran dokter, serta meminum antibiotik sesuai dengan aturan apabila memang diperlukan. Pihak distributor dan penjual obat resmi agar tidak melayani pembelian antibiotik tanpa resep dokter. Pemerintah seharusnya memberikan sanksi yang tegas untuk pemakaian antibiotik yang tidak tepat. Apabila semua ini bisa berjalan beriringan, niscaya penggunaan antibiotik akan menjadi tepat di jalannya. Dengan demikian, penggunaan antibiotik akan sesuai dengan tujuan semula saat antibiotik pertama kali ditemukan bahwa antibiotik mampu menyelamatkan banyak nyawa.

Bahan bacaan:

Penulis:
Indah Kartika Murni, staf kesehatan di RSUP dr Sardjito dan dosen Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Kontak: ita_kartika(at)yahoo(dot)com.