Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Berhadapan dengan Tsunami, Gempa Bumi, dan Gunung Berapi

Indonesia secara geografis terletak di area yang berisiko mengalami berbagai macam bencana. Tulisan ini menceritakan bagaimana pengalaman RSUP dr. Sardjito dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dalam menangani bencana tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta kisah tentang meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta akhir tahun lalu.

Pemetaan bencana dan kondisi darurat di Indonesia.

Pemetaan bencana dan kondisi darurat di Indonesia.

Tsunami Aceh tahun 2004

Pada bulan Desember 2004, gempa tektonik 9 skala Richter (SR) yang diikuti dengan gelombang tsunami setinggi 12 meter mengguncang samudera Hindia. Salah satu negara yang terkena imbas sangat berat adalah Indonesia, khususnya Aceh. Bencana ini menyebabkan kerusakan fisik dan nonfisik. Tidak hanya kerusakan infrastruktur, tetapi juga menyebabkan ribuan orang meninggal, terluka, hilang dan tidak punya tempat tinggal.

Ed06-kesehatan-2

Salah satu masalah setelah bencana tsunami adalah tidak berfungsinya fasilitas pelayanan kesehatan di Aceh karena kerusakan sarana dan banyaknya tenaga kesehatan yang hilang. Orang dewasa dan anak-anak yang selamat dari bencana terancam kehidupannya karena kurangnya pelayanan kesehatan saat itu. Bencana ini juga menyebabkan trauma psikologis yang berat untuk korban-korban yang selamat.

Tak lama setelah tsunami melanda Aceh, RSUP dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran bekerjasama dengan Fakultas Psikologi UGM, mengirimkan tim medis untuk Aceh. Saat itu hampir semua tindakan medis dilakukan oleh tenaga sukarela dari luar Aceh. Selanjutnya staf dari RSUP dr. Sardjito dan ahli dari the University of Melbourne, Australia melakukan pengidentifikasian di Aceh. Tidak hanya mengidentifikasi hal-hal yang diperlukan segera dan menilai kecukupan respon yang sudah ada, tetapi juga merancang perencanaan jangka panjang untuk membantu masyarakat Aceh. Oleh karena itu, akhirnya dibentuk kerjasama antara UGM, the Royal Children’s Hospital Melbourne, dan World Vision Australia untuk membantu pemulihan kesehatan masyarakat Aceh.

Pada fase pemulihan, kegiatan-kegiatan pelayanan tim medis dilanjutkan. Kualitas tenaga kesehatan dan rumah sakit di Aceh ditingkatkan, membuat manajemen bencana dan sistem respon cepat, memberikan pelatihan dan mentoring, membangun budaya kerja, dan memperkuat akses kesehatan untuk masyarakat. Divisi kesehatan mental melakukan pelayanan kesehatan mental yang terpadu dan meningkatkan kemampuan daerah untuk memberikan pelayanan dalam menangani permasalahan kesehatan mental. Fakultas Psikologi UGM juga mengembangkan posko krisis sebagai pusat koordinasi untuk bantuan psikologi di Aceh. Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di pusat pelayanan primer dan rumah sakit dalam mengelola anak sakit terutama anak dibawah usia lima tahun.  Selain itu, divisi kesehatan masyarakat juga memfasilitasi rumah sakit dan dinas kesehatan di Aceh dalam memperkuat sistem informasi, perencanaan, dan surveilans kesehatan.

Gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006

Bencana lain yang terjadi adalah gempa bumi pada bulan Mei 2006 di Yogyakarta dan Jawa Tengah sebesar 6,2 SR. Bencana ini juga menyebabkan banyak orang meninggal, kehilangan tempat tinggal, dan terluka. Lebih dari 70.000 rumah rusak total dan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal, akibatnya mereka harus tinggal di tenda-tenda. Lebih dari 55.000 orang terluka dan sekitar sepertiganya memerlukan bantuan rehabilitasi. Bantul dan Klaten adalah dua wilayah yang sangat berat terkena dampak bencana ini. Sebagian besar Puskesmas di wilayah tersebut mengalami kerusakan berat.

Pada fase akut, terjadi kekurangan triase dan tenaga kesehatan karena sebagian dari mereka juga menjadi korban. Selain itu, karena adanya isu tsunami menyebabkan situasi menjadi ramai dan tidak terkendali. Hal ini mengakibatkan korban terlambat mendapatkan penanganan awal di rumah sakit. Terdapat masalah juga dalam pengerahan bantuan. Terdapat banyak relawan tetapi kurang koordinasi. Di tingkat rumah sakit, terlambatnya triase, kurangnya bantuan tenaga kesehatan dan logistik juga menjadi masalah.  Saat bencana terjadi, banyak korban yang dirujuk ke RSUP dr. Sardjito. Karena bangsal-bangsal di RSUP dr Sardjito sudah penuh dengan korban, maka banyak dari mereka dirawat di koridor rumah sakit. Bahkan tempat parkir juga digunakan sebagai bangsal perawatan sementara.

Suasana di RSUP dr. Sardjito pada saat bencana gempa bumi Yogyakarta.

Suasana di RSUP dr. Sardjito pada saat bencana gempa bumi Yogyakarta.

Pada fase pemulihan, RSUP dr. Sardjito bekerjasama dengan Project HOPE (Health Opportunities for People Everywhere) dan Dinas kesehatan Bantul menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan keliling (mobile clinic). Kegiatan ini melayani pelayanan kesehatan terutama untuk anak, wanita dan orang tua di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh Puskesmas. Staf kesehatan dalam pelayanan ini diambil dari RSUP dr. Sardjito dan puskesmas setempat. Bersamaan dengan proyek pelayanan kesehatan keliling ini, juga dilakukan pelatihan tenaga kesehatan Puskesmas menggunakan buku WHO Pocketbook of hospital care for children in limited resources setting, untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola pasien anak secara komprehensif. Selain itu, juga dilakukan penelitian dalam hal kesehatan anak di daerah bencana tersebut. Beberapa hasil penelitian sudah dipublikasi dalam jurnal kedokteran nasional dan internasional.

RSUP dr Sardjito bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) juga melakukan pelayanan rehabilitasi medis dan pelatihan kader kesehatan untuk memberikan pelayanan rehabilitasi yang terpadu. Pelayanan rehabilitasi dan pelatihan ini dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat setempat. Pelatihan kader ini meliputi pemberian materi di dalam kelas, demonstrasi dan praktek dibawah pengawasan tenaga kesehatan.

Aktivitas untuk penyembuhan trauma di komunitas dan bantuan rumah oleh IDAI Yogyakarta.

Aktivitas untuk penyembuhan trauma di komunitas dan bantuan rumah oleh IDAI Yogyakarta.

RSUP dr. Sardjito juga bekerjasama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Yogyakarta untuk upaya penyembuhan trauma pascabencana di masyarakat, khususnya untuk anak-anak. Selain itu, IDAI membangun rumah-rumah bagi korban bencana yang rumahnya rusak berat tetapi tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Bencana gunung Merapi tahun 2010

Bencana lain yang terjadi di akhir tahun 2010 adalah meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta. Indonesia mempunyai banyak gunung api tipe A yang terdistribusi di seluruh wilayah tanah air. Tipe A artinya gunung api tersebut pernah meletus minimal sekali dan saat ini masih aktif.  Letusan gunung Merapi mulai pada akhir Oktober 2010 dan semakin meningkat kekuatan letusannya yang berlanjut sampai bulan November. Pada saat erupsi pertama, RSUP dr. Sardjito yang terletak pada jarak 20 kilometer dari Merapi, dinyatakan aman. Tetapi pada letusan selanjutnya, awan panas dan longsoran material gunung Merapi lebih besar dibandingkan letusan pertama. Awan panas menyebar ke segala arah. Pemerintah kemudian menetapkan bahwa area tidak aman diperluas, yaitu mencapai 20 kilometer dari puncak Merapi.

Ed06-kesehatan-5

Pada saat sebelum bencana, sistem rujukan pasien untuk bencana Merapi telah dipersiapkan dengan lebih baik dibandingkan sistem rujukan saat gempa bumi pada tahun 2006. RSUP dr Sardjito berperan sebagai rumah sakit rujukan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Terdapat koordinasi yang baik antar barak, Puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta. Titik-titik  evakuasi diletakkan di empat distrik dan dikoordinasi dengan baik oleh Dinas Kesehatan Yogyakarta. Namun demikian pada saat bencana Merapi terjadi, tiga distrik (Turi, Pakem, dan Cangkringan) tidak berfungsi dan dinyatakan sebagai daerah yang tidak aman, sehingga sistem rujukan ini menjadi tidak terkoordinasi.

Di lingkungan RSUP dr. Sardjito sendiri, sistem manajemen bencana mengalami perbaikan dibandingkan bencana gempa bumi pada tahun 2006.  Hal ini sebagai akibat dari membaiknya sistem peringatan bencana. Saat terjadi bencana, terjadi ekskalasi di Instalasi Rawat Darurat (IRD) dan triase siap. Koordinator tim bencana kemudian mengaktifkan tim bencana dengan menghubungi koordinator medis, keperawatan, dan manajemen. Korban Merapi yang dikirim ke RSUP dr Sardjito tidak sebanyak korban gempa tahun 2006. Namun saat gunung Merapi meletus, tetap saja terdapat kekurangan koordinasi antar tenaga kesehatan. Banyak tenaga kesehatan datang di IRD, namun hanya sedikit dari mereka yang benar-benar terlibat dalam pengelolaan korban bencana.

Sebanyak 43 pasien dirawat di RSUP dr Sardjito dengan luka bakar. Sekitar 77% pasien mengalami trauma inhalasi (trauma di saluran pernapasan dari derajat sedang sampai berat). Sebanyak 61% pasien meninggal, sebagian besar terjadi pada pasien dengan trauma inhalasi dan luka bakar derajat berat. Dalam mengelola pasien luka bakar secara komprehensif dilakukan kolaborasi yang baik dengan berbagai departemen antara lain dengan bagian perawatan intensif, bedah plastik, rehabilitasi medis dan psikososial.

Ed06-kesehatan-6

Korban merapi juga banyak yang meninggal akibat kecelakaan saat terjadi kepanikan dan eksodus besar-besaran dari gunung Merapi. Debu vulkanik yang berulang menyebabkan masalah pernapasan lain, seperti asma dan infeksi saluran pernapasan. Saat dan setelah bencana, kami mendapatkan banyak bantuan tenaga kesehatan dan logistik baik medis ataupun non-medis dari institusi dalam dan luar negeri. Semua bantuan ini dikoordinasi dengan baik di lingkungan rumah sakit.

Pelajaran berharga yang bisa kami petik dari ketiga bencana tersebut antara lain adalah masih diperlukannya pelatihan dalam pelayanan dan respon cepat baik di lingkungan rumah sakit dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan dalam hal bencana. Masih diperlukannya persiapan dan perencanaan penanggulangan bencana yang baik, tidak hanya dikoordinasikan secara internal tapi juga dengan pihak luar. Selain itu, perlunya “whole-of-hospital approach” yang meliputi respon cepat di rumah sakit dan daerah bencana, rehabilitasi jangka panjang korban bencana dan masyarakat termasuk perlunya pelayanan psikologis yang terpadu. Kami juga bisa berkontribusi pada masa transisi dari fase akut menuju ke fase pemulihan dan fase pengembangan masyarakat.

Sistem penanganan bencana ini dapat berjalan dengan segala kekurangan dan kelebihannya karena kerjasama yang baik dari semua pihak. Kami menyadari masih diperlukan perbaikan sistem ini dalam berbagai aspek, namun makin hari kami berusaha makin siap dan membaik. Penghargaan yang besar kami sampaikan untuk RSUP dr. Sardjito, SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran dan Psikologi UGM, Tim Bencana RSUP dr Sardjito, IDAI, Dinas Kesehatan Yogyakarta, Tim Aceh, Tim Mobile Clinic, Tim Rehabilitasi Medik Terpadu, Program Sarjana Ilmu Keperawatan (PSIK) UGM, dr Agus Barmawi SpB Digestif, dr Ida Safitri SpA, Prof Trevor Duke, the Royal Children’s Hospital Melbourne, World Vision Australia, Project HOPE, dan JICA.

Penulis:
Indah Kartika Murni, staf kesehatan di RSUP dr Sardjito dan dosen Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Kontak: ita_kartika(at)yahoo(dot)com.