Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Landak yang Serupa tapi Tak Sama: Porcupine, Echidna dan Hedgehog

Dalam bahasa Indonesia, tiga hewan berbeda, porcupine, echidna dan hedgehog sering kali disederhanakan menjadi “landak”. Porcupine bisa diterjemahkan “hanya” sebagai landak, hedgehog sebagai landak susu, dan echidna sebagai landak semut. Meskipun sama-sama berduri dan digolongkan dalam Filum Mamalia, para “landak” ini sebenarnya berasal dari tiga Ordo (bangsa) yang berbeda.

Dari kiri ke kanan: landak (porcupine), landak susu (hedgehog) dan landak semut (echidna)

Porcupine (landak) digolongkan ke dalam Ordo Rodentia, yang sering kita kenal sebagai kelompok hewan mengerat. Ordo Rodentia mencakup berbagai macam tikus dan marmut. Hedgehog (landak susu) termasuk ke dalam Ordo Eulipotyphla, sebuah ordo yang beranggotakan landak susu dan gymnures (moonrat alias landak berbulu alias tikus ambang bulan, tubuhnya mirip tikus tapi secara evolusi lebih dekat ke landak susu). Echidna (landak semut) dan platypus termasuk ke dalam Ordo Monotremata, kelompok yang beranggotakan hewan yang sangat langka, mamalia bertelur.

Dua kladogram yang menggambarkan hubungan evolusi antaranggota Filum Mamalia berdasarkan karakter morfologi (kiri) dan genetik (kanan). “Landak” yang kita kenal jauh terpisah: landak semut (Ordo Monotremata; atas), landak porcupine (Ordo Rodentia; tengah), dan landak susu (Ordo Eulipotyphla; bawah). Sumber gambar: Trends in Ecology and Evolution. 19: 430-438.

Berbagai macam mamalia berduri. Secara kasatmata tampak sama, tetapi mereka berbeda.

Semua landak ini termasuk Filum Mamalia; salah satu cirinya adalah memiliki rambut. Rambut pada mamalia, tidak hanya berbentuk seperti rambut di kepala kita, atau rambut pada permukaan tubuh kucing dan kambing, tetapi rambut mamalia juga dapat termodifikasi dalam bentuk lain, menjadi keras dan kaku seperti duri landak. Duri landak memiliki kesamaan seperti rambut kita karena sama-sama dilapisi keratin. Duri landak dapat dibagi menjadi dua, spines dan quills. Duri spines adalah sebutan umum untuk rambut yang mengeras dan kaku, sedangkan quills merujuk kepada satu jenis duri spesifik yang berbentuk tabung dengan bagian tengah yang kosong—mirip bulu burung yang dapat digunakan sebagai alat tulis.

Bagi kita orang Indonesia, porcupine inilah yang akan terbayang di kepala kita ketika mendengar kata “landak”. Duri landak porcupine tampak paling garang, panjang dan tajam; durinya berjenis quills. Quills pada landak bisa mengembang dan menegak ketika mereka didekati predator, sebagai peringatan. Quills mudah copot, menempel ke badan predator, sehingga dapat menjadi alat perlindungan diri. Anak landak dilahirkan sudah dilengkapi dengan duri. Sayangnya, quills bayi landak pendek dan masih empuk, sehingga tidak bisa digunakan untuk mengintimidasi lawan.

Duri (quills) pada landak porcupine di bawah mikroskop elektron. Permukaannya tampak tajam, berduri-duri.

Anak landak porcupine (porcupette) sudah dilengkapi dengan duri

Duri landak bisa membuat predator jera, tetapi predator yang tak kenal menyerah bisa berhasil memangsa mereka.

Duri pada landak susu (hedgehog) tidak berduri-duri secara mikroskopis, berbeda dengan duri landak porcupine. Namun, duri landak susu sangat kuat, hampir tidak pernah patah ataupun bengkok. Duri landak susu berfungsi sebagai perlindungan pasif. Landak susu bisa bergelung membentuk bola sehingga tampak tidak menggiurkan untuk dimakan oleh predator. Selain itu, duri-duri landak susu juga berguna sebagai peredam hempasan. Ketika turun dari pohon atau tempat tinggi, landak susu cukup menggelinding tanpa takut terluka. Sebagaimana landak porcupine, landak susu pun terlahir sudah dilengkapi dengan duri.

Landak susu (hedgehog) bisa membola agar tampak tidak menggoda untuk dimakan.

Dari kiri atas ke kanan bawah: anak landak susu (hoglet) yang baru lahir, tiga hari, satu minggu, dan empat minggu.

Echidna atau landak semut memiliki duri yang kuat seperti landak susu, tetapi di bagian inti mirip seperti quills landak porcupine yang berongga. Duri landak semut diperkirakan berfungsi sebagai tameng tubuh dari serangan predator, sebagaimana landak lainnya. Ketika baru menetas dari telur, bayi landak semut tidak dilengkapi dengan duri-duri ini; duri baru tumbuh ketika berumur sekitar delapan minggu. Sayangnya, penelitian tentang duri landak semut ini belum begitu banyak, sehingga fungsi lainnya belum dapat ditentukan.

Seperti mamalia pada umumnya, landak porcupine dan landak susu bereproduksi dengan cara melahirkan. Namun, landak semut yang merupakan anggota monotremata, sebuah ordo dalam Filum Mamalia, bereproduksi dengan cara bertelur. Monotremata yang masih hidup di zaman ini, platipus dan landak semut hanya dapat ditemukan di Papua New Guinea dan Australia. Setelah bertelur, landak semut akan mengerami telurnya, yang kemudian menetas di hari ke-9. Setelah itu, bayi landak semut akan hidup di dalam kantung tubuh ibunya selama 12 minggu. Landak semut baru membuka matanya pada usia 12 minggu, kemudian keluar dari kantung induknya untuk membuat lubang di tanah. Namun, baru minggu ke-20 anak landak susu benar-benar disapih dari ibunya.

Telur landak semut yang sangat kecil (kiri) dan anak landak semut yang baru menetas (kanan). Video penetasan dapat dilihat di: https://www.australiangeographic.com.au/topics/wildlife/2017/07/video-echidna-hatching/

Anak landak semut yang durinya baru tumbuh pada usia sekitar 8 minggu (kiri) dan landak semut dengan duri yang sudah lengkap (kanan).

Semoga dengan tulisan ini, kita dapat membedakan bermacam landak yang ada. Apabila durinya kelihatan menakutkan, kemungkinan besar itu adalah landak porcupine. Apabila tampak bulat dan lucu, bisa jadi itu adalah landak susu. Terakhir, landak semut kelihatan dari moncongnya dan merupakan satu-satunya landak yang bisa bertelur, hanya ditemukan di Papua New Guinea dan Australia.

Bahan bacaan:

Penulis:

Ajeng K. Pramono, alumnus  Tokyo Institute of Technology, Jepang.
Kontak: ajengpramono(at)gmail(dot)com

Mari sebarkan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •