Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Jebakan Identitas Kelompok Geng Remaja

Ilustrasi tawuran pelajar. Sumber: okezone.com

Penghujung Juli 2018 adalah bulan yang menyedihkan atas meninggalnya seorang siswa karena kecelakaan tunggal. Kecelakaan yang merenggut nyawa Arga, bukan nama sebenarnya, jelas sangat menyedihkan sang ibu. Sebenarnya sang ibu telah merasa kehilangan Arga sebelum peristiwa tragis tersebut. Arga masuk ke sebuah sekolah swasta favorit di Yogyakarta karena harapan orangtua yang sangat besar, mengharapkan Arga menjadi anak yang mandiri dan sukses. Orang tua Arga akhirnya mampu meyakinkan panitia Seleksi Peserta Didik Baru (PPDB). Hal tersebut membuat Arga yang tadinya sudah punya pilihan sekolah yang tidak dipilih orang tuanya, akhirnya dapat membuat anak kesayangannya ini masuk ke sekolah favorit tersebut. Namun, orang tua Arga belum dapat bernafas lega dengan masuknya putra mereka ke sekolah yang mereka inginkan. Persoalan demi persoalan masih mewarnai kehidupan Arga dan orang tuanya yang menguras banyak energi dan air mata.

Persoalan intinya adalah pada bagaimana Arga tidak dapat melepaskan diri dari teman-teman kelompoknya yang sudah terbentuk dan mengeras sejak dia duduk di bangku SMP. Kedua orang tuanya merasakan kehilangan jiwa anaknya saat memasuki bangku SMP. Hal ini terbukti bahwa Arga sudah memiliki pilihan sekolah (SMA) mana yang ingin dimasukinya. Dia memilih SMA tempat bersekolah teman-teman gengnya. Pengentalan ini yang berusaha diurai oleh orang tuanya. Upaya memindahkan keinginan sang anak dari sekolah pilihan anaknya adalah upaya minimal yang diambil oleh orang tua Arga.  Masalahnya adalah seberapa usaha ini mampu mengembalikan Arga kecil yang tadinya lucu dan manis yang sangat membanggakan orang tuanya. Fakta bahwa Arga lebih memilih teman gengnya menyakitkan bagi orang tuanya. Hal ini sungguh menyakitkan bagi ibunya, sampai diksi yang keluar dari tangisan ibu Arga saat Arga meninggal adalah, “Aku benci teman Arga, mereka telah mengambil anakku”.

Bagi ibu Arga, sikap yang diambil anaknya yang lahir dari keluarga bahagia dan mendapat perhatian dengan baik adalah tidak masuk akal. Bagaimana anak berbakat di bidang olah raga bela diri hingga tingkat nasional ini dapat membuat pilihan mengentalkan sikap solidaritas yang begitu kuat pada kelompok geng yang memiliki kegiatan perusakan atau kegiatan lain yang melanggar hukum dan membahayakan dirinya. Bukannya memarahi Arga, sang ibu dan ayah justru semakin menyayangi, memperhatikan dan mendoakan Arga. Semua usaha dilakukan untuk memisahkan Arga dari aksi solidaritas yang tidak masuk akal ini. Meskipun Arga tidak memasuki sekolah tempat gengnya berkumpul, persoalan demi persoalan yang diakibatkan oleh kegiatan destruktif geng Arga selalu melibatkan dirinya, memberi ujian bertubi-tubi bagi keluarga Arga.

Persoalan Arga ini hanyalah secuil dari gunung es. Masalah sebenarnya adalah ketidaksadaran tentang bagaimana pola asuh seharusnya dilakukan oleh orang tua. Tri Santoso Raharjo dkk dalam risetnya berjudul Faktor Keluarga Dalam Kenakalan Remaja (Studi Deskriptif Mengenai  Geng Motor di Kota Bandung) menemukan fakta bahwa gejala menyimpang dimulai saat seorang remaja memasuki pola pertemanan hingga mencapai pembentukan teman sebaya yang akhirnya mencapai masa stabil. Teman sebaya, memiliki pengaruh lebih besar pada cara dia membuat keputusan dibanding orang tuanya. Persoalan kemudian muncul pada nilai apa yang dikembangkan oleh kelompok tersebut. Kegiatan geng klithih yang muncul semakin marak di Yogyakarta adalah salah satu bukti bahwa nilai yang dikembangkan dalam sebuah kelompok geng remaja adalah nilai yang bersifat anti sosial yang berbeda dengan nilai masyarakat secara umum. Penentuan nilai ini adalah  salah satu cara mereka mengidentifikasi nilai-nilai dalam kelompok yang bersifat antisosial atau destruktif.

Dalam sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh Pandu Yuanjaya pada kelompok geng remaja di Yogyakarta menyimpulkan bahwa setidaknya ada 8 jabatan yang ditetapkan oleh sebuah geng di Yogyakarta. Jabatan ini meliputi (1) penggerak, (2) koordinator, (3) bendahara, (4) juru bicara, (5) garis keras, (6) jago sparing, (7) alumni dan (8) tukang vandal. Penggerak adalah leader kelompok. Seseorang yang memiliki karakter memimpin dan ditunjuk oleh angkatan sebelumnya. Koordinator adalah orang yang mengurusi perintah sang leader. Bendahara adalah pemegang keuangan untuk menjamin jalannya kegiatan kelompok. Sementara juru bicara adalah sebuah peran yang diperlukan ketika kelompok ini menghadapi masalah, baik di sekolah maupun dengan pihak berwajib dan pihak lain yang bersentuhan dengan kelompok mereka. Pada sebuah kasus tawuran dengan kelompok lain, peran garis keras adalah anak yang akan berada di garis depan atau paling belakang yang akan melindungi kelompoknya. Bagian ini diisi oleh anak-anak yang memiki kenekatan yang tinggi. Sementara, sparing adalah anggota yang memiliki keahlian tertentu dan akan menjadi andalan kelompok jika ada kesepakatan duel dengan kelompok lain. Posisi ini akan diisi oleh anggota yang memiliki keahlian khusus dan biasanya bidang bela diri tertentu. Posisi terakhir adalah tukang vandal yang bertugas mensosialisasikan identitas kelompok melalui coretan-coretan simbol identitas mereka pada fasilitas publik. Dari gambaran ini kita tahu dan sadar mengapa ibunda Arga tidak mampu melepas anaknya dari kelompok gengnya. Sebagai atlet taekwondo yang sangat potensial, Arga adalah aset kelompok. Dia memiliki peran penting di dalam kelompoknya. Identitas kelompok adalah ideologi bagi mind para anggota kelompok ini.

Dalam konsep sosiologi, situasi Arga digambarkan oleh Max Weber dengan istilah bahasa Jerman “stahlhartes Gehäuse” yang dipopulerkan oleh Talcot Parson sebagai Iron Cage. Yaitu sebuah situasi di mana seseorang terjebak dalam sistem berdasarkan pertimbangan rasionalisasi, efisiensi teologis, dan kontrol. Arga yang sudah terlanjur masuk pada kelompok geng yang terbangun identitas kelompoknya hingga akhirnya mengeras menjadi ideologi yang menginternalisasi dalam dirinya dan membentuk sebuah identitas diri yang tidak mudah dilepas bahkan oleh ibunya sekalipun. Sebagaimana Weber yang prihatin dengan tindakan sosial dan makna subjektif bahwa manusia melekat pada tindakan dan interaksi mereka pada konteks sosial tertentu, para remaja yang sudah terlanjur berproses menemukan teman sebayanya   dan bersama-sama menemukan jati dirinya memilih identitas nilai negatif dan destruktif ini akhirnya terjebak dalam sebuah “Kandang besi” (iron cage) yang membuat mereka sulit melepaskan diri, bahkan tidak ada jalan keluar. Selalu ada kontrol dari kelompok geng ini yang akan menjadi hantu yang tidak terlihat yang sudah masuk dalam mindset Arga melebihi kepentingan apapun. Akan terjadi tarik menarik antara kepentingan kelompok atas peran mereka di satu sisi dan pihak orangtua di pihak lain yang berusaha menyelamatkan anak kesayangan mereka dari jalan yang menyimpang dari norma masyarakat.

Persoalan keterjebakan ini perlu mendapat perhatian agar ketidaktahuan oleh orangtua maupun remaja sebagai korban dapat diantisipasi lebih awal. Bahwa proses pencarian identitas diri dalam satu waktu yang bersamaan dengan proses menemukan teman sebaya di sisi lain perlu disadari oleh para orangtua dan pihak sekolah dalam hal ini unit pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sesuai dengan usia awal perkembangan proses menemukan teman sebaya. Pemilihan nilai negatif yang mengarah pada munculnya tindakan destruktif ini akan menjadi cikal bakal orientasi yang akan membahayakan masa depan anak. Hal ini kemungkinan terjadi atas penemuan yang berkembang bahwa remaja yang berkelompok dengan remaja yang berperilaku menyimpang cenderung terlibat dalam perilaku anti sosial dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang bahkan mengarah pada prostitusi. Jika tidak beruntung, ini akan menghantui masa depan mereka.

Bahan bacaan:

Penulis:

Rohmatunnazilah, guru dan Waka Urusan Humas SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.

Kontak: r(dot)nazilah(at)gmail(dot)com.