Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila dengan Pendekatan Ilmiah

Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Salah satu upaya dalam pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah dengan belajar. Melalui pembelajaran siswa mengalami perubahan perilaku yang positif. Menurut Susanto, pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses memperoleh ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, tabiat dan pembentukan sikap. Pengembangan pembelajaran untuk meningkatkan pendidikan dimulai dari guru sebagai pendidik. Guru bertanggung jawab untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran supaya dapat mengatasi permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran. Melalui pendidikan ini akan dihasilkan manusia Indonesia yang sesuai dengan tujuan Sistem Pendidikan Nasional dalam UU No. 20 tahun 2003 yaitu menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tujuan Sistem Pendidikan Nasional yang pertama sangat penting untuk mendidik siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.

Pancasila adalah bagian dari empat pilar kebangsaan yang memiliki fungsi sebagai falsafah pandangan hidup dan dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara tentunya sangat penting untuk dipelajari oleh siswa. Melihat serta menimbang pentingnya Pancasila maka terdapat mata pelajaran PPKn yang menjadi wadah bagi materi Pancasila. PPKn pada kurikulum 2013 merupakan bagian dari tematik dan terintegrasi pada setiap mata pelajaran lain terutama pada KI satu yang memiliki muatan religi dan berkaitan dengan sila pertama Pancasila. Pembelajaran PPKn tentang nilai-nilai Pancasila sila pertama bisa menjadi salah satu cara untuk mendidik siswa menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta bisa mengembangkan potensi baik sikap, pengetahuan maupun keterampilan siswa.

Penyampaian pembelajaran PPKn dapat menggunakan pendekatan saintifik. Musfiqon dan Nurdyansyah menjelaskan pendekatan saintifik merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah di dalam pembelajaran terutama untuk meningkatkan keaktifan siswa. Tahun ajar 2017-2018 mewajibkan sekolah untuk menerapkan kurikulum 2013 terutama untuk kelas 1, 2, 4, dan 5. Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik, dimana pendekatan saintifik adalah pendekatan dengan menggunakan metode ilmiah yang merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.

Teknik investigasi pada pendekatan saintifik dapat digunakan sebagai solusi untuk membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik memiliki sintak dan memiliki lima langkah yaitu: (1) mengamati, (2) menanya, (3) menalar, (4) mencoba, dan (5) mengkomunikasikan. Berdasarkan serangkaian sintak saintifik tersebut, siswa dapat belajar lebih aktif. Siswa dapat bereksplorasi untuk menemukan pengetahuan baru berupa perilaku-perilaku sesuai Pancasila sila pertama yang ada di sekitarnya melalui kegiatan mengamati. Ketika siswa diberi kesempatan untuk mengamati maka siswa juga aktif bertanya saat menemukan hal baru yang kurang dipahami.

Upaya untuk mengetahui efektifitas pembelajaran nilai-nilai Pancasila sila pertama menggunakan pendekatan saintifik berbasis Lesson Study. Fernandez dan Yoshida menjelaskan bahwa Lesson Study berasal dari Jepang dan telah dilaksanakan sejak 100 tahun yang lalu. Istilah Lesson study dalam bahasa Jepang disebut  jugyokenkyu. Menurut Syamsuri dan Ibrohim Lesson Study adalah salah satu pelatihan dalam masa jabatan yang dikenal dengan nama in-service training (INSET). Tujuan umum INSET adalah membantu guru memperbaiki kualitas mengajar untuk meningkatkan karir profesionalitasnya.

 Lesson Study dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu: (1) plan (perencanaan), (2) do (pelaksanaan), dan (3) see (refleksi). Sebelum memulai tahap plan, guru model ditentukan terlebih dahulu. Tahap plan (perencanaan) guru model beserta guru-guru lain menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dapat meningkatkan aktifitas siswa saat belajar. Plan dilaksanakan secara kolaboratif, semua guru saling berbagi ide untuk menyempurnakan RPP, selain itu guru-guru juga menetapkan waktu untuk pelaksanaan.

Tahap do (pelaksanaan) adalah waktu dimana guru model menerapkan RPP yang telah disepakati. Selama kegiatan pelaksanaan siswa adalah fokus pengamatan dari guru lain yang bertindak sebagai observer. Observer mengamati dengan berpedoman pada instrumen pengamatan yang sudah disepakati saat plan. Observer harus mengamati dengan objektif serta memastikan bahwa kehadirannya di dalam kelas tidak mengganggu atau mempengaruhi konsentrasi siswa selama belajar.

Tahap see (refleksi) dilakukan untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Kegiatan see dipimpin oleh moderator dan hasil diskusi dicatat oleh notulis. Pada kegiatan refleksi guru model menyampaikan kesan serta masalah yang ditemui selama pembelajaran. Observer menyampaiakan hasil pengamatan tentang berbagai perilaku siswa selama pembelajaran serta saran-saran untuk pembelajaran berikutnya. Berikut ini adalah siklus pembelajaran lesson study.

Gambar diadaptasi dari Saito (dalam Syamsuri dan Ibrohim).

Berdasarkan penjelasan di atas pembelajaran nilai-nilai Pancasila sila dapat menggunakan pendekatan saintifik berbasis Lesson Study mampu meningkatkan keaktifan siswa saat belajar. Siswa menjadi aktif untuk berkesplorasi dan menemukan informasi-informasi penting melalui usaha mandiri yang dibimbing oleh guru. Hasil temauan penulis yang menerapkan pendekatan ini dalam pembelajaran Pancasila yakni:

  1. Siswa bisa menyebutkan contoh nilai-nilai Pancasila sila pertama yang ada di kehidupan sehari-hari,
  2. Melalui pendekatan saintifik siswa lebih banyak mencoba dan menalar atau menghubungkan informasi secara mandiri sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa,
  3. Siswa lebih percaya diri dan termotivasi melalui kegiatan menanya dan mengkomunikasikan sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna,
  4. Guru mendapatkan pengalaman bermakna tentang pembelajaran berbasis Lesson Study sebagai upaya untuk mengembangkan kompetensi.

Bahan bacaan:

  • Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta: Depdiknas.
  • Fernandez, C & Yoshida, M. 2004. Lesson Study: A Japanese Approach To Improving Mathematics. New Jersey: Lawrence Publisher. E-book online. Dari https://books.google.co.id.
  • Musfiqon, H.M. & Nurdyansyah. 2015. Pendekatan Pembelajaran Saintifik. Sidoarjo: Nizamia Learning Center.
  • Syamsuri, I. & Ibrohim. 2008. Lesson Study (Studi Pembelajaran). Malang: FMIPA UM.
  • Susanto, A. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group
  • Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Penulis:
Alivi Lutfil Karimah, mahasiswi pascasarjana Jurusan Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Malang
Kontak: alivikarimah21(at)gmail(dot)com