Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Makhluk dari Laut Dalam Atlantik

Pernahkah terbayangkan kalau di bawah Laut Atlantik yang dingin dan gelap itu terdapat kehidupan? Laut di bumi mencakup bagian 70% dengan misteri yang ada di dalamnya dan baru sedikit yang terkuak oleh manusia.

Masih sangat hangat hingga sekarang bagaimana kegigihan manusia berusaha untuk menguak dan mengungkap misteri di alam jagat raya ini. Astronaut dan kapal luar angkasa tanpa awak terus dikirim untuk menjelajah dan menemukan kemungkinan adanya kehidupan yang lain di luar angkasa. Namun, sebenarnya di Bumi sendiri masih terdapat misteri yang belum terpecahkan seperti halnya yang terdapat di laut, di bagian terdalam dan tergelap yang tidak dapat dijangkau oleh manusia.

Ilmuwan biologi kelautan dari MAR-ECO International Research Programme kemudian melakukan usaha untuk memecahkan misteri apa yang masih tersimpan di laut di Bumi ini. Penelitian yang dilakukan di patahan Mid-Atlantic, Samudera Atlantik ini terkait dengan sensus atau pendataan makhluk hidup laut yang belum terkuak dan masih menjadi misteri. Para peneliti tersebut menggunakan mesin Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk dapat menembus hingga kedalaman 3600 meter dan menjelajah patahan Mid-Atlantic antara Islandia dengan the Azores.

Penyelaman dengan menggunakan teknologi terbaru tersebut menunjukan pandangan dan pemikiran baru tentang kehidupan laut dalam. Penemuan mereka pun menguak spesies yang ‘hilang’ dalam garis evolusi yang menghubungkan antara makhluk bertulang belakang (vertebrata) dengan makhluk tidak bertulang belakang (invertebrata).

Spesies yang ditemukan kebanyakan memiliki bentuk yang aneh, berwarna cerah hingga transparan. Mereka menemukan cacing yang mampu memancarkan cahaya dalam gelap di kedalaman sekitar 2500 meter di bawah permukaan air laut dan accorn worm berwarna merah muda, ungu, dan putih di kedalaman 2700 meter. Selain itu mereka juga menemukan holothurian atau sea cucumber dengan tubuh transparan spesies Peniagone porcella dan Peniagone diphana, ctenophor, basket star atau Gorgonocephalus, dan hydromedusa.

Cacing Polychaeta yang mampu bercahaya dalam gelap (kiri) dan cacing Enteropneusta yang berwarna keunguan (kanan). Keduanya ditemukan di kedalaman sekitar 2500 meter di bawah permukaan air laut. Gambar dari dailymail.co.uk.

Mereka juga menemukan perbedaan antara spesies di sebelah selatan dengan di utara. Pada bagian utara-barat mereka menemukan accorn worm. Menurut Monty Priede, kepala  University of Aberdeen’s Oceanlab, cacing ini termasuk dalam kelompok hewan yang mampu menunjukan hubungan yang hilang di evolusi antara makhluk bertulang belakang dengan makhluk invertebrata.

Tanpa mata, organ indra yang jelas, dan otak, accorn worm memiliki kepala, ekor serta bagian primitif yang dimiliki oleh makhluk bertulang belakang atau yang biasa disebut notochord. Notochord menjadi bagian esensial yang berkembang pada embrio hewan chordata. Selanjutnya, ia berfungsi sebagai sumbu yang mengirimkan sinyal ke jaringan di sekitarnya untuk mempertahankan bentuk dan pemberi informasi atau sebagai sistem saraf utama.

Para ilmuwan juga memperdebatkan bagaimana spesies tersebut memperoleh dan memproses makanan yang suplainya sangat minim di kedalaman. Seperti pada Teripang (sea cucumber), Peniagone diaphana, bagaimana mereka mempertahankan hidup di laut dalam dengan minim sumber makanan masih menjadi misteri. Para peneliti menganggap mereka bergerak dengan merayap sangat pelan, tetapi di kedalaman Atlantik mereka dapat berenang dengan cepat untuk memperoleh makanan.

Peniagone diaphana yang ditemukan di daerah Mid-Atlantic. Gambar dari dailymail.co.uk.

Sampai sekarang, para peneliti masih terus menjelajah dan menguak misteri yang terdapat di laut dalam di seluruh permukaan Bumi. Masih banyak spesies belum terdeteksi dan terungkap. Meskipun dengan keterbatasannya manusia tidak dapat menjangkau hingga ke laut dalam, dengan teknologi yang terus berkembang mereka dapat menemukan informasi baru yang dapat menggenapi pengetahuan yang kini sudah ada.

Bahan bacaan:

Penulis:
Ida Asyari Utomo, Alumnus Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kontak:  ida.asyariutomo(at)gmail.com.