Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Variasi Grazer pada Pantai Berbatu

Tahukah kalian apa yang disebut dengan grazer? Kalau kalian berpikir tentang binatang herbivora, ya, kalian benar. Namun, dalam artikel ini, pembahasan sederhana akan difokuskan terhadap herbivora pada pantai berbatu.

Pada dasarnya, herbivora pantai berbatu disebut grazer karena mereka memakan tumbuhan dan detritus (partikel-partikel organik yang merupakan hasil produksi dari penguraian organisme).  Mereka tidak seperti grazer yang ditemukan di daratan seperti domba dan sapi. Para herbivora pantai berbatu ini memakan apa yang biasa disebut alga laut atau tumbuhan laut lainnya, yang terkadang tidak bisa terlihat oleh mata manusia karena ukuran mereka yang begitu tipis. Berbagai variasi dalam jenis makanan membuat banyak variasi jenis herbivora pada pantai berbatu. Hal ini bisa bertambah menarik bila jenis-jenis pantai berbatu yang ada di seluruh dunia disebutkan.

Dipandang dari jenis herbivora, jenis makanan, serta jenis pantai, variasi herbivora pantai berbatu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pengonsumsi umum dan khusus. Pengkonsumsi umum adalah herbivora yang mengonsumsi segala jenis makanan yang ada di habitatnya untuk pemenuhan nutrisinya. Biasanya, herbivora tipe pengonsumsi umum ini memakan lebih dari dua jenis alga serta detritus. Sebagai contoh adalah bulu babi atau landak laut, siput laut, dan limpet.

Pengonsumsi khusus adalah herbivora yang hanya mengonsumsi satu jenis alga biasanya pada bagian-bagian tertentu karena mulut mereka hanya bisa mengonsumsi alga tersebut. Contohnya adalah siput (tanpa cangkang) penyedot getah, yang memiliki sebuah gigi di setiap baris pada radula (organ seperti lidah dengan banyak gigi di atasnya untuk mengais permukaan alga) dengan fungsi untuk menyedot isi sel alga. Gigi-gigi tersebut berguna bagi siput untuk mengambil kloroplas pada sel dan menjadikannya sebagai sumber makanan darurat (untuk berfotosintesis). Variasi lain terhadap kedua tipe pengonsumsi ini sangat banyak, apalagi di negara dengan garis pantai yang panjang seperti Indonesia, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Dua jenis pengonsumsi. Gambar kiri: Whitecap Limpet (Acmaea mitra) sebagai salah satu pengonsumsi umum. Gambar kanan: Sheep Sea Slug (Costasiella kuroshimae) sebagai Sacoglossan gastropod atau pengonsumsi khusus. Sebagian besar warna dari Sheep Sea Slug berwarna hijau dipengaruhi oleh kloroplas yang mereka konsumsi. Gambar dari Google Search.

Para grazer memang terbagi-bagi dalam jenisnya seperti limpet, keong laut, dan landak laut, tetapi mereka memiliki satu kesamaan, yaitu aktif dalam mencari makanan. Pada umumnya, mereka tidak berada di wilayah yang tetap dan selalu mencari alga dan tumbuhan laut sebagai bahan makanan walaupun secara fisik hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena tekanan dari lingkungan pantai berbatu.

Secara spesifik, beberapa grazer mencari makanan dengan menggunakan karakteristik morfologi dan kimia dari target alga dan tumbuhan laut. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat menarik dalam lingkup ekologi karena beberapa grazer menunjukkan bahwa mereka mencari dan mengonsumsi makanan yang secara nutrisi tidak bagus untuk tubuh mereka.

Sebagai contoh, Landak laut (Strongylocentrotus droebachiensis) di Spitsbergen (sebuah pulau di Artik) memilih untuk mengonsumsi Laminaria, kelompok yang tergolong keras untuk dimakan. Hal ini karena wilayah pulau tersebut yang sebagian besar hanya dapat menumbuhkan alga dalam jenis Laminaria. Adapun cara-cara lain yang mempengaruhi grazer dalam mencari makan adalah lokasi habitat (iklim), pasang-surutnya air laut, posisi habitatnya apabila grazer tinggal dengan macrophyte (alga atau tumbuhan laut yang tergolong besar), pengalaman (dari saat menetas), serta keadaan psikologis sang grazer (ternyata mereka juga memiliki perasaan, ya).

Bahan bacaan:

  • Little, C., Williams, G. A., Trowbridge, C. D. The Biology of Rocky Shores; Second edition. Oxford University Press. 2009. Hal: 102-109.
  • Poore, A.G.B. and Hill, N.A. (2006). Sources of variation in herbivore preference: among-individual and past diet effects on amphipod host choice. Marine Biology, 149, 1403-10.
  • Taylor, R.B., Lindquist, N., Kubanek, J., and Hay, M.E. (2003). Intraspecific variation in palatability and defensive chemistry of brown seaweed: effects on herbivore fitness. Oecologia (Berlin), 136, 412-23.
  • Van Alstyne, K.L., Ehlig, J.M., and Whitman, S.L. (1999). Feeding preferences for juvenile and adult algae depend on algal stage and herbivore species. Marine ecology Progress Series, 180, 179-85.

Penulis:

Delta Putra, Mahasiswa S-1 di Lab. of Marine Plant & Ecology, Applied Marine Biology, Tohoku University, Jepang. Kontak: deltaputra37(at)gmail(dot)com.