Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Lenong Betawi: Dulu dan Kini

“Oi penonton,” sapa seorang pemain di atas panggung kepada penonton.
“Oi…” balas para penonton.

Bila kita pernah mendengar penggalan dialog di atas di sebuah acara televisi, di benak kita mungkin akan segera terlintas sebuah kesenian bernama Lenong yang berasal dari budaya Betawi. Lenong dikenal sebagai drama penuh banyolan (lelucon) yang khas disertai kostum para pemain mengenakan pakaian Betawi. Dalam pementasan sesekali terselip sebuah pantun, mungkin begitulah bayangan benak kita tentang Lenong.

Ilustrasi pementasan lenong.

 Ape sih Lenong entu?

Lenong merupakan pertunjukan teater tradisional yang berasal dari Betawi, yang merupakan suku asli ibu kota Jakarta. Cerita-cerita yang dimainkan dalam kesenian Lenong biasanya berisi kisah kepahlawanan, seperti Si Pitung, Jampang, ataupun cerita tentang kehidupan sehari-hari. Selama pementasan, Lenong akan diiringi dengan Gambang Kromong, yang merupakan orkes khas Betawi. Pada umumnya Lenong juga dimainkan di atas panggung sama seperti kesenian teater lainnya.

Perlu teman-teman ketahui bahwa kesenian Lenong ini muncul akibat adanya pengaruh dari budaya Tionghoa yang kira-kira muncul pada sekitar abad ke-19. Awal mulanya kesenian Lenong merupakan hasil adaptasi dari seni Gambang Kromong ke dalam bentuk teater. Tidak lama kemudian, kesenian ini berkembang menjadi sebuah kesenian tersendiri yang kemudian hari dikenal sebagai Lenong.

Keberadaan Lenong ini dimaksudkan sebagai media untuk menyampaikan pesan nilai dan moral secara langsung melalui cerita yang dimainkan oleh para pemeran pada kesenian Lenong. Hal ini karena pada kesenian lainnya seperti Tari ataupun Silat, meski memiliki pesan nilai dan moral yang baik, akan tetapi pesan-pesan sulit tersampaikan secara langsung karena tidak melalui ucapan. Meskipun begitu, Lenong tetap mengedepankan unsur hiburannya sehingga penonton lebih menikmati dan pesan yang disampaikan tersebut tidak terasa kaku.

Pementasan Lenong

Terdapat beberapa hal yang membedakan Lenong dengan kesenian teater lainnnya, baik sebelum cerita mulai dimainkan maupun pada saat babak-babak cerita mulai dimainkan. Sebelum memasuki inti dari sandiwara Lenong, terdapat beberapa prosesi khusus yang dilakukan. Prosesi pertama yang dilakukan disebut sebagai ungkup. Di dalam ungkup ini biasanya berisi pembawaan doa.

Selanjutnya, pada prosesi kedua dilakukan sepik, yakni penyambutan berupa penjelasan cerita yang pada nantinya akan dimainkan. Setelah prosesi sepik selesai, baru kemudian memasuki prosesi akhir yang berfungsi untuk pengenalan masing-masing para pemain, sebelum memasuki inti cerita dari sandiwara Lenong yang kemudian benar-benar dimainkan.

Inti sandiwara cerita yang dipentaskan di panggung ini dimainkan secara babak demi babak. Selama berjalannya cerita, seringkali terselip sebuah pantun serta banyolan-banyolan (lelucon) yang menjadi ciri khas Lenong. Bahkan pantun dan banyolan tersebut menjadi sebuah trademark yang unik bagi kesenian Lenong. Selain itu, salah satu yang menjadi ciri khas Lenong adalah kebebasan untuk melakukan improvisasi di dalam dialog selama masih dalam benang merah cerita yang dimainkan karena di dalam Lenong memang sengaja tidak diciptakan naskah baku bagi pemainnya. Akibat tidak ada naskah baku, terkadang pementasan Lenong di masa lalu bisa berlangsung semalaman hingga subuh.

 Lenong Denes dan Lenong Preman

 Seperti yang telah diceritakan di awal tulisan, kebanyakan dari kita mengetahui bahwa Lenong menggunakan bahasa betawi sehari-hari dengan dialek berakhiran “e” seperti “ape”, “kagak lupe”, dsb. Namun, faktanya tidak semua lenong memakai bahasa sehari-hari. Hal ini menyesuaikan dengan jenis Lenong yang dimainkan.

Pada dasarnya, Lenong terbagi menjadi dua jenis, yakni Lenong Denes dan Lenong Preman, dengan fiturnya  masing-masing. Pada Lenong Denes (berasal dari kata denes dalam dialek betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), pertunjukan yang ditampilkan lebih formal dengan latar cerita dan kostum bertemakan kerajaan, serta dibawakan dalam bahasa Melayu. Pada Lenong Preman, bahasa serta latar yang digunakan adalah bahasa dan latar kehidupan sehari-hari. Selain itu, cerita yang dibawakan juga berkenaan dengan kehidupan sehari-hari atau tentang cerita kepahlawanan seperti Si Pitung, Jampang, Mirah Macan Marunda, dsb.

Pementasan Lenong Denes.

Lenong Kini

Pada era modern, kesenian Lenong telah mengalami berbagai perubahan bentuk apabila dibandingkan dengan awal kemunculannya. Perubahan-perubahan tersebut dimaksudkan untuk melakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman agar kesenian Lenong dapat bertahan di tengah gerusan globalisasi. Salah satunya adalah dengan cara memperpendek durasi cerita Lenong.

Saat ini, cerita yang dimainkan pada ksesenian Lenong berdurasi sekitar 1–3 jam, bahkan ada yang kurang dari itu. Pendeknya durasi cerita kesenian Lenong yang dimainkan saat ini juga menyesuaikan masyarakat saat ini yang hanya menonton kesenian Lenong apabila memiliki waktu senggang. Demi mengikuti selera masyarakat, Lenong Preman jauh lebih sering dimainkan bila dibandingkan dengan jenis Lenong Denes.

Ilustrasi penampilan kesenian Lenong di TV oleh Lenong Bocah.

Lenong pun mulai diadaptasi pada beberapa acara televisi. Meski demikian, menurut pendapat Yasmine Z. Shahab yang merupakan seorang Antropolog dari Universitas Indonesia saat diwawancarai oleh Jakarta Post, ia menjelaskan bahwa sandiwara pementasan yang dimainkan dalam acara TV itu sebenarnya bukanlah Lenong karena hanya mengubah bahasa menjadi gue, elu, kenape, dsb. Bahkan, tidak jarang digunakan banyolan yang terkesan kasar sehingga seolah mencitrakan bahwa seperti itulah ciri banyolan dalam Lenong (yang tentu saja bukan).

Atas adanya acara permainan sandiwara di dalam TV yang menyebutkan memainkan kesenian Lenong dengan beberapa perubahan tersebut, Yasmine menyampaikan keberatannya, bahwa seniman Betawi seharusnya tidak mengorbankan akar dari kesenian Lenong yang hanya demi diterimanya Lenong dalam masyarakat modern. Menurut beliau, hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang ingin menikmati identitas asli kesenian Lenong.

Pada akhirnya, di tengah masuknya berbagai kesenian dan budaya baru akibat pengaruh globalisasi, kita sebagai pemuda-pemudi harapan bangsa diharapkan dapat berperan aktif menjaga dan melestarikan kesenian dan kebudayaan asli Indonesia. Salah satu kesenian tersebut adalah Lenong yang berasal dari Betawi. Jangan sampai identitas dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam Lenong (dan kesenian tradisional lainnya) hilang tergerus oleh arus globalisasi, atau dimainkan setengah hati oleh pegiat acara TV.

Bahan bacaan:

Penulis:
Iskandar Zulkarnain, mantan pegiat Lenong di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Kontak: iiskandarz12(at)gmail(dot)com.