Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Antroposen: Saat Manusia Begitu Digdaya

Saat ini terdapat satu spesies yang mendominasi planet Bumi. Spesies tersebut tak lain adalah Homo sapiens, alias manusia. Spesies ini secara fisik jauh lebih lemah daripada banyak spesies besar lainnya, namun dapat dikatakan memiliki posisi puncak pada rantai makanan.

Paul J. Crutzen, seorang ahli kimia atmosfer yang mempopulerkan istilah ‘Anthropocene’ (ditransliterasi sebagai antroposen) mungkin melihat hal ini sebagai suatu hal yang akan mengancam keberadaan manusia itu sendiri. Crutzen pada tahun 2000 silam menyebutkan bahwa antroposen adalah pengaruh yang disebabkan oleh perilaku yang dilakukan manusia kepada atmosfer Bumi pada abad ke-21 ini.

Definisi dari Crutzen apabila dihubungkan dengan keadaan sekarang dapat diinterpretasikan sebagai masa ketika aktivitas manusia memiliki pengaruh yang signifikan secara global terhadap kondisi ekosistem dan geologi bumi. Masa ini kemungkinan besar diawali sejak abad ke-18 pasca Revolusi Industri.

Ilustrasi Antroposen. Periode antroposen berada di masa paling kini.

Kemampuan Prediksi

Untuk memahami makna antroposen lebih jauh, kita mungkin harus mengingat perkataan Albert Einstein, “As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain, and as far as they are certain, they do not refer to reality.” Kurang lebih artinya adalah “Selama hukum-hukum dari matematika merujuk kepada realitas, hukum tersebut tidaklah pasti, dan sejauh hukum tersebut pasti, itu berarti ia tidaklah merujuk pada realitas yang sebenarnya”.

Einstein mungkin ingin menyampaikan bahwa tidak ada pemodelan matematika yang mampu menggambarkan seluruh variabel dalam kehidupan manusia yang kompleks ini secara sempurna. Oleh karena itu, yang saat ini mampu kita mampu lakukan hanyalah membuat estimasi belaka. Di sisi lain, sains dipahami dan dipelajari dengan cara mencandrakan alam serta melakukan penarikan kesimpulan dari data yang telah diperoleh.

Sains juga memiliki kelemahan karena ia mengizinkan pengamatan dengan indra manusia. Padahal, hasil observasi yang diperoleh bisa saja memiliki kemungkinan untuk salah dan tidak merepresentasikan keadaan alam yang sebenarnya. Namun, perbaikan yang dilakukan terus-menerus membuat pengetahuan manusia tentang alam menjadi semakin baik.

Ketika matematika dipadukan dengan sains, sedikit-banyak manusia memiliki kemampuan untuk melakukan prediksi, merekayasa apa yang tidak terjadi secara alami, dan mungkin memiliki sedikit kemampuan untuk memegang kendali atas sumber daya alam yang terdapat pada alam. Manusia dengan menggunakan akalnya, dibantu sains dan matematika, perlahan menjadi spesies yang memiliki kesintasan (kemampuan bertahan hidup) yang lebih baik dibandingkan dengan spesies lain sehingga manusia dapat menjadi spesies dominan di Bumi.

Namun, pada manusia sebagai antroposen juga mulai muncul beragam masalah yang dituai akibat perilaku yang dilakukannya. Peningkatan kadar karbon dioksida yang disebabkan oleh aktivitas manusia (antropogenik) di atmosfer menyebabkan terjadinya banyak dampak terhadap lingkungan seperti pemanasan global, kenaikan kadar keasaman pada air laut, transformasi lahan dengan cara deforestasi, penumpukan nitrogen dan fosfor yang terdapat di daratan yang disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Hal tersebut hanyalah dari sedikit contoh dari beragam masalah lainnya. Apabila masalah-masalah ini tidak ditangani dengan tepat dan secepat mungkin, manusia harus bersiap menanggung segala dampak buruk yang akan dialami tersebut.

Diamond (2005) menyatakan bahwa terdapat hal yang menarik untuk dipelajari bagaimana masyarakat sebelumnya seperti di Angkor Wat mengalami kepunahan. Ini termasuk pada peradaban-peradaban Old Norse yang disebabkan oleh adanya transformasi lahan yang berlebihan serta konflik dengan suku-suku lainnya. Apabila dihubungkan dengan yang terjadi di masa kini, sekalipun terdapat beberapa perbedaan seperti tingkat pencapaian penguasaan dan pengembangan teknologi yang mampu dicapai, namun tetap terdapat beberapa persamaan yang menjadi faktor kepunahan suatu masyarakat seperti yang dilakukan oleh manusia terhadap alam.

Tindakan yang Menjadi Pilihan Kita

Manusia dapat menentukan pilihannya untuk menyadari perilaku dirinya terhadap alam dan kemudian berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut atau memilih untuk mengabaikannya dan menunggu malapetaka yang akan tiba sebagai akibat dari perilakunya terhadap alam. Terdapat kemungkinan beberapa spesies yang dapat memiliki kemampuan dalam bertahan melewati beragam dampak yang akan ditimbulkan tersebut (tanpa manusia mengambil tindakan).

Manusia mungkin masih memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ekstrem yang akan terjadi, tetapi akan banyak spesies lain (yang termasuk supporting-system yang merupakan bagian penting dari ekosistem kehidupan di alam) akan punah. Alam memang memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri. Namun, alam membutuhkan waktu dan sikap manusia yang kooperatif. Ia membutuhkan kesempatan. Pertanyaannya, apakah kita bersedia berkomitmen untuk memberikan kesempatan tersebut?

Bahan bacaan:

Penulis:
Viny Alfiyah, Mahasiswi S1 Prodi Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Kontak: alfiyahviny(at)gmail(dot)com.