Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Belajar Menulis Sambung, Masihkah Dibutuhkan?

Belajar Menulis Sambung Di SD, Masihkah Dibutuhkan Saat Ini?

Siapa sih yang tak kenal dengan teknik menulis sambung? Generasi zaman dahulu justru lebih banyak menggunakan tulisan sambung dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap kata bisa ditulis dengan satu kali gerakan tangan, menulis sambung dianggap menghemat waktu.

Sejarah Teknik Menulis Sambung

Menulis sambung yang juga dikenal dengan istilah menulis kursif adalah teknik menulis yang sudah dikembangkan sejak abad ke-14 pada masa renaissance di kawasan Eropa. Teknik menulis sambung pada masa itu juga sempat berkembang menjadi teknik baru yang disebut copperplate handwriting. Teknik copperplate handwriting adalah teknik menulis sambung dengan bentuk huruf yang lebih kompleks dan lebih indah daripada huruf sambung biasa.

Pada awal abad ke-20, para pendidik beranggapan bahwa murid akan lebih mudah mempelajari teknik tulisan tangan, bila bentuk tulisan tangan tersebut menyerupai bentuk huruf cetak yang ada pada buku pelajaran. Namun, beberapa tahun kemudian pendidik menyadari bahwa tulisan dengan huruf cetak kurang efektif untuk mendukung tumbuh kembang murid-murid.

Akhirnya, teknik menulis di tingkat SD kembali mengacu pada teknik menulis sambung yang dipelajari sejak abad ke-19. Teknik menulis sambung yang diajarkan cukup bervariasi, mulai dari teknik konvensional hingga teknik kursif dengan bentuk huruf yang lebih miring.

Manfaat Menulis Sambung

Tidak hanya sekadar teknik menulis yang lebih kompleks dari teknik menulis huruf cetak, teknik menulis sambung ternyata memberikan banyak manfaat bagi tumbuh kembang murid-murid selama masa belajar.

Manfaat menulis sambung bagi murid antara lain adalah:

  • Mengembangkan kemampuan motorik murid
  • Memperluas wawasan murid untuk mengenal ragam jenis tulisan
  • Menjadi salah satu sarana pelajaran seni
  • Meningkatkan perbendaharaan kata
  • Membantu murid mengidentifikasi perbedaan huruf secara lebih spesifik
  • Melatih murid untuk mengontrol emosi
  • Meningkatkan kemampuan mengeja
  • Mempercepat proses menulis

Untuk penjelasan manfaat lebih detailnya, silakan perhatikan infografis.

Infografis Tentang Manfaat Teknik Menulis Sambung.

Infografis Tentang Manfaat Teknik Menulis Sambung.

Waktu yang Tepat untuk Belajar Menulis Sambung

Belajar menulis sambung bisa mulai dilakukan sejak taman kanak-kanak setelah murid sudah fasih mengenali dan menulis huruf cetak. Selanjutnya, dasar-dasar pembelajaran menulis sambung di taman kanak-kanak bisa dilanjutkan pada tingkat kelas 1 hingga kelas 6 SD. Proses belajar menulis sambung selama berada di tingkat SD bukan hanya bertujuan untuk membiasakan murid dengan teknik menulis sambung, tetapi juga untuk melatih kerapian dan kecermatan saat menulis.

Setiap goresan tangan pada teknik menulis sambung dapat meminimalkan terjadinya kesalahan penulisan jika dibandingkan dengan teknik menulis huruf cetak. Oleh sebab itu, membimbing murid untuk berpikir secara cermat, sistematis dan efektif bisa dilakukan melalui proses pembelajaran menulis sambung di kelas. Setelah murid berhasil mengidentifikasi perbedaan bentuk huruf dan cara menulis dengan benar, maka memilih untuk tetap menulis sambung atau menulis huruf cetak bukanlah hal yang patut dipermasalahkan.

Kendala yang Menghambat Proses Belajar Menulis Sambung

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan modern di Indonesia adalah kurangnya perhatian guru SD terhadap cara menulis dan bentuk tulisan para murid. Proses pendidikan saat ini hanya berorientasi pada pencapaian nilai yang memuaskan tanpa memperhatikan aspek penting lainnya seperti perkembangan psikologi dan pola pikir murid. Itulah mengapa teknik menulis sambung maupun teknik menulis huruf cetak tidak dipahami dengan baik oleh para murid SD.

Kendala mengenai teknik menulis sambung yang baik dan benar turut diperparah oleh kecanggihan teknologi. Berbeda dengan murid SD beberapa tahun yang lalu, murid SD masa kini cenderung lebih terbiasa menggunakan perangkat gadget berteknologi touch screen atau keyboard daripada menulis dengan rapi dan teliti. Hasilnya, sudah pasti murid SD lebih fasih mengetik atau menggunakan konsep touch screen daripada menulis dengan tangan. Menulis dengan tangan terasa sulit dan melelahkan karena murid-murid tidak terbiasa melakukan hal tersebut.

Pengalaman Belajar Menulis Sambung

Mempelajari teknik menulis sambung ketika penulis masih duduk di bangku SD terasa sangat sulit dan menyita waktu. Murid-murid SD, tentu sering kebingungan akan fungsi buku bergaris tiga yang harus digunakan setiap hari. Menulis kalimat-kalimat yang membosankan sudah jadi rutinitas saat belajar bahasa Indonesia.

“Pikir itu pelita hati.”

“Hendri suka makan sayur bayam.”

“Ibu pergi ke pasar membeli ikan.”

Semakin panjang kalimat yang dijadikan PR menulis sambung, akan semakin terasa sulit bagi para murid. Namun, setelah sekian tahun tamat dari SD, barulah penulis sadar bahwa kalimat-kalimat sederhana itulah yang secara tidak langsung membantu keluwesan tangan dan perkembangan pola pikir menuju tahap kematangan mental.

Penilaian dan evaluasi dari guru ketika melihat tulisan murid-muridnya mulai tampak tak beraturan adalah didikan disiplin yang membuat murid-murid menjadi lebih tekun dan teliti. Bahkan kala itu, guru memberikan konsekuensi yakni pemotongan nilai ulangan atau nilai PR jika tulisan murid-muridnya kelihatan bak sandi rumput yang sulit dibaca.

Di saat hati mulai gelisah karena bel istirahat yang tak kunjung berbunyi atau merasa sedih dan kecewa karena baru saja dikritisi sang guru, tulisan sambung tetap harus bagus dan rapi. Pelajaran sederhana ini mampu mendidik murid-murid menjaga kestabilan emosi dan mengolah rasa saat melakukan segala sesuatu. Tidak ada toleransi untuk setiap perasaan atau keluhan yang sedang dialami, karena dunia pekerjaan di masa depan hanya akan menerima pribadi yang berjiwa santun dan profesional.

Contoh perubahan tulisan tangan seseorang dari waktu Ke waktu.

Contoh perubahan tulisan tangan seseorang dari waktu Ke waktu.

Bentuk tulisan tangan memang bisa berubah seiring perubahan waktu dan perkembangan pola pikir. Akan tetapi, tujuan untuk melatih kerapian, kestabilan dan keteraturan yang ditanamkan sejak berada di tingkat SD akan selalu menjadi pedoman berharga di masa depan.

Bahan bacaan :

Penulis:
Melisa, Penulis Konten untuk Beberapa Perusahaan Digital Marketing di Indonesia.
Kontak: melisa(dot)mel24(at)gmail(dot)com.