Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Teknologi Kloning: Saya adalah Saya

‘Saya adalah saya’, kalimat yang terdengar egois. Yup! Itulah yang terjadi saat para peneliti melakukan apa yang disebut dengan kloning. Sebagian dari kita mungkin menentangnya dan sebagian lainnya tertarik untuk memahaminya karena topik kloning selalu menarik untuk dibahas. Bagaimana perkembangan teknologi kloning hingga saat ini? Apakah teknologi ini sudah begitu maju sehingga manusia sekarang dapat memanipulasi kehidupan di dalam laboratorium menuju “a Brave New World”?

Klon berasal dari bahasa Yunani, KLÓÓN, yang artinya tunas. Kloning itu sendiri ialah suatu tindakan untuk memperoleh keturunan jasad hidup tanpa proses fertilisasi. Jasad hidup itu berasal dari induk yang sama dengan susunan dan jumlah gen yang sama. Sekitar lebih dari satu abad yang lalu, Gregor Mendel merumuskan aturan-aturan yang menjelaskan pewarisan sifat-sifat biologis. Sifat-sifat organisme yang dapat diwariskan ini dikendalikan oleh gen.

Gen menjadi dasar dalam perkembangan penelitian genetika meliputi pemetaan gen untuk menganalisis posisi gen pada kromosom. Hasil penelitian ini semakin berkembang baik hingga ditemukannya DNA (Deoxyribonucleic acid) pertama kali oleh Friedrich Miescher (1869) yang pada saat itu masih disebut nuclein. DNA merupakan material genetik beserta strukturnya, kode-kode genetik yang disertai dengan proses transkripsi dan translasi yang dapat dijabarkan.

Penelitian mengenai DNA, yaitu rekayasa genetika, intinya ialah kloning gen untuk memperoleh suatu replika gen yang tepat sama dari sel atau organisme tunggal.

Berdasarkan pengertian tersebut, ada beberapa jenis kloning yang diketahui, antara lain:

  1. Kloning DNA rekombinan

Kloning ini merupakan pemindahan sebagian rantai DNA yang diinginkan dari suatu organisme pada satu elemen replikasi genetik, misalnya dalam teknik menyisipkan DNA dalam plasmid bakteri untuk mengklon satu gen.

  1. Kloning reproduktif

Kloning ini merupakan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan gen yang sama, disebut dengan SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer).

  1. Kloning terapeutik

Kloning ini adalah suatu kloning untuk menghasilkan embrio manusia sebagai bahan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh sel batang (stem cell, lihat majalah 1000guru edisi 21) yang dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan manusia dan menyembuhkan penyakit keturunan.

Domba Dolly hasil proses kloning (http://i.telegraph.co.uk/).

Domba Dolly hasil proses kloning (http://i.telegraph.co.uk/).

Kloning hewan sudah banyak dilakukan hingga saat ini, misalnya pada hewan domba Dolly yang terkenal di seluruh dunia. Dengan berkembangnya teknologi kloning pada hewan, para peneliti mulai melihat kemungkinan teknologi kloning manusia. Joshua Lederberg pertama kali mengemukakan ide tersebut dalam tulisannya tentang prospek kloning manusia. Ia menyatakan bahwa dengan kloning manusia dapat mengendalikan reproduksi dan menghasilkan gen superior disertai dengan keunggulan-keunggulan lainnya.

Konsep dasar proses kloning manusia (kloning reproduktif) dapat dilihat pada ilustrasi. Seorang wanita mendonorkan sel telurnya untuk digunakan dalam proses kloning. Inti sel telur ini kemudian dikeluarkan sehingga menjadi telur tanpa inti (enucleated ovum).

Ilustrasi proses kloning manusia (http://s.hswstatic.com/)

Ilustrasi proses kloning manusia (http://s.hswstatic.com/)

Sel tubuh manusia yang akan diklon kemudian dimasukkan (fuse) ke dalam sel telur tanpa inti tadi dengan bantuan arus listrik. Ketika sel klon itu sudah bersatu dengan sel telur, terbentuklah embrio yang kemudian ditumbuhkan dalam rahim wanita dan dilahirkan seperti manusia biasa. Sel dalam embrio ini mengandung informasi genetika yang sama persis dengan sel yang diklon sehingga saat manusia itu tumbuh besar, penampilannya dan juga suaranya sama persis.

Konsep kloning sel (kloning terapeutik) kurang lebih hampir sama dengan kloning reproduktif. Perbedaannya terletak saat embrio terbentuk, sel-selnya dikeluarkan dari embrio yang selanjutnya ditumbuhkan untuk membentuk berbagai sel tubuh seperti, sel darah, sel saraf, sel otot jantung, dan lainnya. Inilah yang kita sebut dengan sel punca (stem cell).

Sel-sel punca disuntikkan kembali pada tubuh sehingga membentuk berbagai jaringan tubuh. Sel-sel ini dapat diinduksi menjadi berbagai sel yang memiliki fungsi khusus sehingga sangat bermanfaat saat ada sel-sel tubuh organ yang mengalami kerusakkan. Misalnya, saat proses transplantasi organ diperlukan organ yang sesuai untuk meminimalkan risiko terjadinya penolakan oleh tubuh karena tubuh akan mengenali sel atau organ tersebut sebagai organ yang sama.

Proses kloning sel dan organ melibatkan berbagai tahap, mulai dari rekayasa, mutasi dan rekombinasi DNA. Teknologi-teknologi inilah yang menjadi tumpuan harapan para pasien dalam mendapatkan organ dan sel tubuh baru dan sehat. Sebagai contoh, penyakit Parkinson yang banyak menyerang tokoh dunia seperti, Mohammad Ali dan Michael J. Fox, merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan si pasien kehilangan sel-sel saraf yang memproduksi dopamine. Kloning terapeutik terbukti berhasil mengembalikan harapan para penderita penyakit yang menyerang 2% penduduk dunia yang berusia di atas 65 tahun ini.

Kloning terapeutik juga dapat dilakukan untuk penderita Alzheimer. Dengan aplikasi teknologi dan konsep kloning sel tubuhnya sendiri, sang pasien dapat dapat menyelamatkan dirinya karena stem cell yang digunakan berasal dari dirinya sendiri. Masa depan dunia kesehatan menjadi semakin cerah dengan adanya teknologi rekayasa genetika ini. Inilah tujuan utama penelitian-penelitian kloning manusia.

Kendati demikian masih terdapat berbagai kontroversi dan perdebatan masalah kloning pada manusia. Akan tetapi, tampaknya ilmu pengetahuan biomolekuler dan rekayasa genetika akan tetap melaju seiring dengan berjalannya waktu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bahan bacaan:

 

Penulis:
Fran Kurnia, mahasiswa S3 di University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.

Kontak: fran.kurnia(at)yahoo(dot)com.