Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Bersahabat dengan Musim Hujan

Musim hujan telah tiba di Indonesia. Bahaya banjir pun menghadang aktivitas sehari-hari warga, baik di Jakarta maupun daerah lainnya. Banjir merupakan suatu fenomena alam yang erat kaitannya dengan musim hujan. Dampak negatif yang ditimbulkan banjir itu tidak bisa dianggap remeh.

Musim hujan yang sangat erat kaitannya dengan bahaya banjir (gambar dari: http://www.deviantart.com).

Musim hujan yang sangat erat kaitannya dengan bahaya banjir
(gambar dari: http://www.deviantart.com).

Beberapa dampak negatif banjir di antaranya:

  1. Melonjaknya inflasi. Bank Indonesia memperkirakan banjir yang terjadi di Jakarta telah menyebabkan sedikit lonjakan inflasi yang nilainya meningkat di atas nilai ekspektasi semula. Meskipun tidak berskala nasional, inflasi yang terjadi akibat banjir tentu berpengaruh pada beberapa daerah.
  2. Kerugian perusahaan angkutan. Pendapatan angkutan umum dicatat mengalami penurunan sekitar 40-50 % serta kerusakan kendaraan akibat banjir yang nilai total kerugiannya hingga mencapai miliaran rupiah sejak dua pekan yang lalu di Jakarta.
  3. Kerugian perusahaan listrik. PT. PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang tercatat mengalami kerugian hingga 20 miliar rupiah akibat banjir besar yang melumpuhkan Ibukota Jakarta sejak beberapa pekan yang lalu. Kerugian ini terutama disebabkan oleh puluhan ribu mini circuit breaker (atau biasa disebut meteran) rumah yang rusak karena terendam banjir sehingga menyebabkan PLN harus mengganti sekitar 50.000 kwh meter yang rusak.
Siklus hidrologi air. Hujan diperlukan untuk menjaga keseimbangan alam (gambar dari: http://www.markmaking.com.au).

Siklus hidrologi air. Hujan diperlukan untuk menjaga keseimbangan alam (gambar dari: http://www.markmaking.com.au).

Seperti yang telah disebutkan, hujan merupakan fenomena alam yang dapat menyebabkan terjadinya timbulnya banjir. Akan tetapi, di sisi lain, air merupakan salah satu kebutuhan utama untuk kebutuhan manusia dan pertumbuhan tanaman yang optimal dalam siklus hidrologi. Jumlah air di bumi ini sangat banyak, tetapi jumlah air bersih yang tersedia hanya sekitar 30%. Sisanya adalah air laut yang belum dapat digunakan sehingga masih banyak orang yang menderita kekurangan air.

Kekurangan air dipicu oleh beberapa faktor, antara lain: meningkatnya jumlah populasi manusia, tidak meratanya distribusi air bersih, meningkatnya polusi air, pemakaian air yang tidak efisien, serta penebangan hutan liar dan pengalihan fungsi hutan sebagai perkebunan sehingga hutan tidak berfungsi sebagai penyimpan air bersih. Hal ini juga semakin diperburuk oleh pola pemakaian perangkat rumah tangga yang boros air, ketiadaan pengolahan limbah air yang efisien, baik dari rumah tangga maupun industri serta minimnya pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif.

Pada artikel kali ini kita akan sedikit mengulas tentang bagaimana memanfaatkan teknologi sederhana untuk mengatasi kekurangan air dan terutama untuk mengatasi banjir yang kerap kali terjadi di beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami musim hujan dan beberapa kendala yang dihadapi.

***

Teknologi rain harvesting

Panen air hujan (rain harvesting) merupakan teknik sederhana yang memanfaatkan air hujan yang jatuh ke permukaan tanah (runoff). Runoff  ini apabila dibiarkan begitu saja sejatinya akan mengakibatkan terjadinya erosi tanah. Panen air hujan ini ditujukan untuk memanfaatkan runoff dan menyimpan air hujan di dalam tanah sebanyak mungkin. Air hujan hasil panen kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam tujuan seperti menyiram tanaman, mencuci, mandi, dan berbagai aktivitas lainnya. Oleh karena itu, teknologi ini sangat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan di daerah lahan budidaya pertanian dengan rataan curah hujan tahunan yang tinggi (300 – 700  mm).

Berdasarkan kondisi alamiahnya, terdapat dua kriteria utama untuk mengaplikasikan teknologi ini:

  1. Tanah. Kondisi tanah di zona budidaya harus cukup tebal sehingga memiliki kapasitas simpanan air yang cukup besar dan tanahnya subur. Selain itu, untuk kebanyakan sistem pemanenan air, tanah perlu memiliki laju infiltrasi yang rendah dan tingkat kesuburan tanah harus dipertahankan agar lahannya tetap produktif. Peningkatan ketersediaan lengas tanah dan peningkatan produktivitas tanaman yang dihasilkan dari kegiatan penangkapan air hujan akan berdampak pada eksploitasi unsur hara yang lebih besar.
  2. Tanaman. Jenis tanaman harus disesuaikan dengan struktur bangunan pemanen air hujan. Misalnya, tanaman tahunan memiliki konsentrasi air hanya pada titik-titik tertentu, sedangkan tanaman semusim akan lebih diuntungkan saat distribusi air lebih merata ke seluruh areal lahan. Distribusi air yang merata dapat diperoleh dengan meratakan tanah garapan.

Di samping itu, setidaknya terdapat 3 komponen dasar yang diperlukan untuk membuat sistem pemanenan air hujan, antara lain: (1) catchment: penampung air hujan berbentuk permukaan atap; (2) delivery system: sistem penyaluran air hujan dari atap ke tempat penampungan melalui talang; (3) storage reservoir: tempat menyimpan air hujan seperti tong, bak, atau kolam. Sistem pemanenan air hujan juga perlu dilengkapi dengan komponen pendukung lainnya seperti pompa air dari bak atau kolam penampung.

Bagian-bagian dalam teknologi rain harvesting (gambar dari: http://www.watercache.com).

Bagian-bagian dalam teknologi rain harvesting (gambar dari: http://www.watercache.com).

Beberapa kendala dalam rain harvesting

Dalam proses memanen air hujan, terdapat beberapa kendala yang kerap kali dihadapi, di antaranya adalah frekuensi dan kuantitas hujan yang cenderung fluktuatif. Selain itu, kualitas air hujan yang belum memenuhi pedoman standar air bersih World Health Organization (WHO), yang terdiri dari:

  1. Bacteriological water quality. Air hujan dapat terkontaminasi oleh debu atau partikel lain yang terdapat di catchment area. Oleh karenanya, disarankan agar kita sellau menjaga kebersihan catchment area. Penampung air juga lebih baik jika dilengkapi dengan penutup agar terhindar dari kotoran atau partikel kontaminan. Tong penampung air hujan sebaiknya dibiarkan gelap dan diletakkan di tempat teduh agar lumut tidak dapat tumbuh.
  2. Insect vector. Serangga dapat berkembang biak dengan cepat dengan meletakkan telurnya di dalam air. Oleh karena itu, tong penampung air sebaiknya ditutup rapat untuk menghindari masuknya serangga seperti nyamuk. Ada beberapa metode sederhana dalam pemakaian air hujan, antara lain: merebus air, menambahkan klorin (atau disinfeksi air), dan filtrasi pasir (biosand) yang dapat menghilangkan organisme berbahaya. Salah satu teknik yang sedang dikembangkan saat ini adalah solar water disinfection (SODIS), yaitu berupa botol plastik hitam yang diisi air dan dijemur beberapa jam dengan tujuan untuk mematikan bakteria dan mikroorganisme dalam air hujan.

Praktik memanen air hujan atau rain harvesting ini perlu banyak dilakukan di daerah yang memiliki persediaan sumber air permukaan atau air bawah tanah yang terbatas. Rain harvesting ini merupakan teknik yang sederhana, murah, dan tidak membutuhkan keahlian atau pengetahuan khusus. Namun, kegiatan ini belum banyak dilakukan di Indonesia.

Meskipun secara umum air melimpah di Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia belum menyadari pentingnya memanen air hujan sebagai salah satu upaya menghemat air. Kurangnya kesadaran itu terutama disebabkan kurangnya pengetahuan dan informasi. Dengan demikian, pemerintah sebaiknya perlu melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi publik agar sebagian besar masyarakat dapat memahami, menyadari dan melakukannya di rumah masing-masing.

Kita sendiri sebagai orang yang sudah mengetahui konsep dan teknologi rain harvesting pun sebaiknya mulai menerapkan dari lingkungan terdekat kita masing-masing. Jika teknologi rain harvesting ini dilakukan secara luas, mudah-mudahan kita dapat semakin bersahabat dengan musim hujan.

Catatan: Artikel ini disadur dari beberapa sumber (lihat bahan bacaan).

Bahan bacaan:

  • Purwanti A. Anna, Memanen Air Hujan (Rain Water Harvesting) Sebagai Alternatif Sumber Air, Artikel Kompasiana: http://goo.gl/97j2S7
  • Prof. Dr. Ir. Soemarno, Bahan Kajian Mata Kuliah Pengelolaan Sumberdaya Alam, 2010.
  • Terry Thomas, Rainwater Harvesting: Practical Action, School of Engineering, University of Warwick, Coventry, UK.

Penulis:
Fran Kurnia, mahasiswa S3 di The University of New South Wales, Australia.
Kontak: fran.kurnia(at)yahoo(dot)com.