Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Seijin dan Shakaijin dalam Budaya Jepang

Dalam kebudayaan Jepang, ada dua konsep menarik tentang “kedewasaan” seorang anak manusia, yaitu “seijin” dan “shakaijin”. Pada tulisan ini akan dibahas sekilas mengenai kedua konsep tersebut.

Seijin (成人)

Seijin (成人)artinya adalah orang dewasa. Dalam kultur dan hukum positif Jepang, seseorang dianggap dewasa bila ia telah berumur 20 tahun. Umur 20 tahun disebut dengan kosa kata khas, yaitu hatachi. Dalam huruf kanji, umur 20 tahun tetap ditulis dengan padanan harfiahnya, nijyuusai (二十歳), yang artinya dua puluh tahun. Namun, kanji tersebut diberi cara pembacaan khusus, yaitu hatachi tadi.

Ketika seseorang memasuki usia 20 tahun, ia dianggap menjadi orang dewasa. Oleh karenanya, setiap awal tahun sekitar tanggal 14 Januari di Jepang dirayakan sebagai seijin no hi (成人の日), harinya “orang dewasa”. Pada hari itu, orang-orang yang memasuki usia 20 tahun pada tahun tersebut berkumpul melakukan perayaan “Hari Kedewasaan”. Peringatan “Hari Kedewasaan” dimulai di Jepang sejak tahun 714, tetapi dimulai sebagai hari libur nasional sejak tahun 1948.

Apa sajakah keunikan-keunikan yang terkait konsep seijin maupun perayaannya tersebut?

1.       Minum sake dan merokok

Undang-undang Jepang melarang orang di bawah usia 20 tahun minum sake (serta minuman beralkohol lainnya) dan merokok. Sake dalam budaya Jepang bukan termasuk barang haram. Memasuki usia 20 tahun berarti seseorang sudah berhak memasuki pergaulan orang dewasa, dengan sake sebagai salah satu aksesorisnya. Para orang tua akan merayakan kedewasaan anaknya dengan minum sake bersamanya. Di balik berbagai perilaku serta kebudayaan orang Jepang yang mengagumkan, budaya minuman beralkohol ini sebaiknya tidak ditiru Indonesia.

2.       Mempunyai hak pilih

Makna lain dari fase seijin adalah dengan memasuki usia 20 tahun ini seseorang mulai memiliki hak pilih dalam pemilihan umum.

3.       Pengecualian saat melakukan tindak kriminal

Di Jepang, orang dewasa yang melakukan tindak kriminal, namanya sudah boleh disebut secara lengkap pada pemberitaan. Sementara itu, pelaku kriminal di bawah usia 20 tahun hanya akan ditulis inisialnya saja. Ini agak unik. Hukum Jepang sendiri membatasi batas umur kriminal remaja (di bawah umur) pada usia 18 tahun, bukan 20 tahun. Ini menyiratkan bahwa pada usia 20 tahun seseorang sudah menyandang status sebagai orang dewasa secara penuh, berikut tanggung jawab yang melekat padanya. Seperti yang dijelaskan dalam UU No.78 ayat 2 yang menuliskan dengan jelas adanya “Hari Kedewasaan”, seseorang perlu berjanji, apabila menjadi dewasa pada usia 20 tahun, ia akan berusaha mandiri dan tidak lagi tergantung kepada orang tua.

4.       Mengenakan pakaian adat Jepang

Biasanya pada perayaan “Hari Kedewasaan” semua laki-laki dan perempuan yang berusia 20 tahun akan mengenakan pakaian adat Jepang (wanita dengan furisode semacam kimono dan laki-laki juga kimono gelap dengan hakama, terlihat seperti rok). Mereka pergi ke tempat pertemuan seperti Convention Hall di sekolahnya atau di kantor walikota dan juga ke kuil untuk berdoa berterima kasih, berjanji akan menjadi orang dewasa yang baik dan berguna. Namun akhir-akhir ini pada perayaan “Hari Kedewasaan” laki-laki banyak berubah dengan mengenakan pakaian formal jas hitam saja seperti pegawai kantor.

5.       Final kejuaraan sepakbola

Tanda unik lainnya dari perayaan “Hari Kedewasaan” adalah sejak tahun 2002 hingga kini biasanya final kejuaraan sepakbola antarperguruan tinggi di Jepang diselenggarakan tepat pada saat peringatan hari tersebut.

Shakaijin (社会人)

Dalam konteks yang berbeda dengan seijin, ada penggolongan lain yang menandakan “kedewasaan” seorang warga Jepang, yaitu shakaijin (社会人). Shakai artinya masyarakat sehingga shakaijin berarti anggota masyarakat. Istilah ini biasanya dipakai untuk orang yang sudah bekerja. Dengan bekerja itu artinya seseorang masuk ke komunitas di luar lingkup rumahnya (uchi). Ia telah memasuki wilayah yang di dalamnya berlaku aturan-aturan tertentu (shakai). Dengan demikian, ia akan terikat pada norma-norma sosial.

Di Jepang pada umumnya orang-orang mulai bekerja setamatnya dia dari SMA, dalam usia sekitar 18 tahun jika tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pada titik itulah seseorang akan dianggap sebagai shakaijin. Bagi yang menjalani kuliah, ia baru akan menjadi shakaijin kalau nanti sudah tamat kuliah. Jadi dalam hal shakaijin ini faktor usia tidak terlalu ditekankan.

***

Terlepas dari perbedaaan antara keduanya, maupun beberapa hal yang tidak perlu ditiru di Indonesia, baik seijin maupun shakaijin mengandung makna kedewasaan. Seseorang yang melakukan hal yang tak patut kadang ditegur dengan mengingatkan ia pada statusnya, apakah sebagai seijin maupun shakaijin. “Kamu sudah seijin/shakaijin, tak patut berperilaku begitu,” begitu contoh teguran yang biasa diucapkan dalam masyarakat Jepang. Pemberian istilah tersebut menyiratkan perlunya kesadaran terhadap batas bahwa seseorang telah menjadi dewasa dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya.

Lantas, sudah pantaskah kita menjadi orang dewasa saat ini?

Beberapa anak muda Jepang pada salah satu perayaan seijin no hi atau Hari Kedewasaan.

Beberapa anak muda Jepang pada salah satu perayaan seijin no hi atau Hari Kedewasaan.

Penulis:
Hasanudin Abdurakhman, alumnus Tohoku University, General Manager di PT. Toray Industries Indonesia.
Kontak: kang_hasan(at)yahoo(dot)com.