Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Suasana Ramadhan di Negeri Sakura: Tantangan dan Trik Menjalankannya

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu oleh penduduk di Indonesia karena suasananya yang sangat spesial. Di saat sahur di daerah pedesaan terdengar banyak pemuda masjid berkeliling membangunkan warga dengan bedugnya dan berteriak, “Sahur… sahur,” diikuti pula speaker masjid yang begitu menggema mengajak untuk bangun sahur. Kemudian saat berbuka akan ramai bazar makanan, suasana masjid pun menjadi lebih semarak untuk melakukan sholat tarawih bersama. Puncaknya saat lebaran semua sanak saudara yang mungkin lama tidak pulang kampung dan lama tidak bertemu akan beramai-ramai “mudik” merayakan lebaran. Akan tetapi, semua hal ini sama sekali berbeda dengan suasana Ramadhan di luar negeri, salah satunya di Negeri Sakura, Jepang.

Dengan mayoritas penduduknya yang berkeyakinan Shinto dan Buddha, umat Islam merupakan minoritas di Jepang. Menariknya, dengan toleransi yang sangat tinggi, baik dari dari institusi negara dan maupun penduduknya Jepang sendiri, masyarakat Jepang sangat menghargai dan memberikan kebebasan untuk menjalankan puasa Ramadhan bagi setiap muslim. Hanya sedikit saja hambatan yang biasanya dihadapi dalam menjalankan puasa Ramadhan di Jepang, yang terutama disebabkan kondisi cuaca dan lingkungan sehingga nuansanya sangat berbeda dengan di Indonesia dan (mungkin) membuat kita merasa lebih berat melakukannya.

Hikmah dan makna puasa Ramadhan sebenarnya tidak hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga menahan diri dan hati dari emosi dan segala sesuatu yang membatalkan puasa,  dengan waktu yang khusus yaitu dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Oleh karena itu, walaupun suasana Ramadhan terasa berbeda di negeri yang berbeda, namun hikmah dan makna puasa Ramadhan di Jepang pada dasarnya sama dengan di tempat manapun di muka bumi ini. Berhubung penulis saat ini tinggal di Osaka, Jepang, mari kita tengok bersama suasana Ramadhan tahun ini di Kota Osaka, sebagai salah satu gambaran suasana Ramadhan di negeri sakura ini.

Kondisi cuaca di Jepang

Berbeda dengan Indonesia, Jepang adalah negara yang mempunyai empat musim yaitu musim semi (spring), panas, (summer), gugur (fall) dan dingin (winter). Pada musim dingin, siang lebih pendek dibandingkan malam, sedangkan pada musim panas sebaliknya siang akan lebih lama dibandingkan malam hari. Seperti kita ketahui bersama, kalender Islam berbasiskan pada pergerakan bulan yang memiliki siklus bulanan sedikit berbeda dengan total jumlah hari pada kalender Masehi. Oleh karena itu, bulan Ramadhan setiap tahunnya bergeser terus sekitar 10-11 hari jika dinyatakan dalam kalender Masehi sehingga bulan Ramadhan dapat terjadi di musim semi, panas, gugur, ataupun dingin, tergantung pada tahun saat itu.

Bulan Ramadhan 1434 atau tahun 2013 ini dimulai pada minggu pertama bulan Juli sampai Agustus awal. Bulan-bulan ini merupakan puncaknya musim panas di Jepang. Selain panasnya, yang unik dari musim panas di Jepang adalah rasa gerah karena tingkat kelembapannya yang sangat tinggi. Kota Osaka merupakan salah satu dari kota terbesar di Jepang selain Tokyo dan Yokohama dengan jumlah penduduknya yang tinggi sehingga menambah pula rasa “panas” dari musim panas ini.

Gambaran kondisi Kota Osaka. Sumber gambar: http://klearbooktours.blogspot.jp/2013/04/osaka-beautiful-city-of-japan.html, http://hdnaturepictures.com/osaka-city-view.html

Gambaran kondisi Kota Osaka. Sumber gambar: http://klearbooktours.blogspot.jp/2013/04/osaka-beautiful-city-of-japan.html, http://hdnaturepictures.com/osaka-city-view.html

Barangkali musim panas inilah tantangan terberat yang sering dikeluhkan oleh teman-teman Indonesia yang sedang berpuasa. Mengapa? Setidaknya dua alasan utama. Alasan pertama adalah suhu musim panas bisa jadi lebih rendah dibandingkan Indonesia, yaitu berkisar 33-36oC pada siang hari, tetapi musim panas di Jepang terasa lebih panas dan badan sering lengket disebabkan kelembapan yang tinggi. Untuk membayangkan kondisi cuaca yang menyebabkan badan lengket ini mirip seperti di Indonesia pada situasi saat akan turun hujan, hujannya tidak turun-turun tetapi temperatur sudah sangat tinggi. Alasan kedua, waktu siang lebih panjang sehingga akan semakin melengkapi tantangan untuk melakukan puasa ramadhan. Sahur dilakukan sebelum jam 3 pagi, sedangkan buka puasa (Maghrib) dilakukan lebih dari jam 7 malam, jadi setidaknya kita berpuasa selama 16-17 jam. Sementara itu, waktu Isya baru masuk sekitar setengah 9 malam sehingga tarawih dimulai jam 9 malam dan selesai sekitar jam 10 malam. Kondisi musim panas seperti ini mengakibatkan muslim di Jepang sering merasa berat melakukan puasa.

Tentunya hal-hal yang berat dalam melakukan puasa menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk semakin meningkatkan kualitas diri. Di balik kondisi cuaca yang berat, sebenarnya banyak juga hal yang bisa kita lakukan untuk meringankan pelaksanaan puasa saat musim panas di Jepang. Di antaranya dengan menghemat energi tubuh, mengurangi kegiatan di luar ruangan yang tidak terlalu penting sehingga mencegah dehidrasi, melakukan buka puasa dan sahur teratur, minum yang banyak di saat sahur dan berada di tempat yang sejuk. Di tempat kerja, kuliah, maupun sekolah biasanya selalu pendingin ruangan (air conditioner) selalu dijalankan sehingga kita tidak merasa panas, bisa mencegah rasa haus, dan tetap semangat berkarya.

Puasa Ramadhan di lingkungan budaya Jepang     

Kita semua tahu bahwa Jepang merupakan negara maju yang menjunjung tinggi kedisiplinan, baik dalam waktu belajar maupun dalam bekerja, dengan etos kerja mereka yang sangat tinggi. Hal inilah yang terkadang juga membuat kondisi puasa Ramadhan akan berat karena kita dituntut untuk bekerja dan belajar dengan kondisi yang sama seperti bulan-bulan biasa di luar Ramadhan. Selain itu, karena teman teman dalam satu pekerjaan atau satu kampus tidak ada yang berkeyakinan sama dengan kita, suasana Ramadhan yang mendukung seperti di Indonesia sulit ditemukan. Hari-hari di bulan Ramadhan bisa jadi sering terasa seperti hari biasa saja.

Untuk mengatasi tantangan budaya, hal-hal yang bisa menurunkan semangat melakukan puasa perlu disiasati. Kita bisa mengenalkan kepada teman atau atasan mengenai apa dan bagaimana puasa Ramadhan. Dengan penjelasan yang baik, orang Jepang sangat bisa menerima keadaan kita berpuasa, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang lebih menjaga perilakunya di depan kita yang berpuasa. Kita perlu juga aktif berkomunikasi dengan teman-teman yang sama-sama menjalankan puasa, aktif dalam melakukan kegiatan Ramadhan seperti berbuka puasa bersama dan mengikuti siraman rohani.

Ada satu contoh menarik yang pernah dialami oleh salah satu teman yang sedang berpuasa di sini. Pernah suatu hari di awal bulan Ramadhan ia ditanya oleh profesornya mengenai puasa, dan saat diceritakan bahwa ia sedang puasa, menyebarlah informasi mengenai Ramadhan ini ke semua anggota lab. Bagi orang Jepang kebanyakan, puasa adalah hal yang sepertinya sangat sulit dilakukan pada musim panas apalagi untuk tidak minum dari pagi sampai malam dengan kondisi panas dan gerah. Nah, karena mereka begitu menghargai bahwa ada anggota lab yang sedang berpuasa, mereka akhirnya tidak minum dan makan di dalam ruangan yang biasanya mereka lakukan sehingga bau sedap dalam ruangan tidak tercium. Hal ini bisa memberikan semangat yang lebih tinggi dalam menjalankan puasa karena ada perasaan bahwa teman-teman Jepang pun memberikan toleransi kepada kita.

Kondisi fasilitas ibadah muslim di Jepang

Suasana Ramadhan di Indonesia sangat semarak dan terasa sekali dengan gema adzan, sahur, dan takbiran saat malam sholat idul fitri. Masjid yang mudah dijumpai bahkan dalam satu daerah bisa setiap 1 kilometer terdapat sebuah masjid. Hal ini tidak akan dijumpai di Jepang saat ini, bahkan untuk kota besar seperti Osaka sekalipun.

Selain budaya Jepang yang lebih menyukai ketenangan (budaya baca tinggi, handphone yang selalu dalam mode diam) sehingga tidak memungkinkan sahut-sahutan keramaian, di seluruh Kota Osaka yang besar ini sepengetahuan penulis hanya terdapat dua masjid yang itupun letaknya berjauhan. Untuk menuju ke masjid tersebut perlu naik bus, kereta api, atau monorel beberapa kali sehingga membutuhkan waktu yang lama, tergantung dari daerah kita tinggal. Tidak adanya adzan, gema takbir, serta akses yang jauh menuju masjid ini bisa menimbulkan rasa sepi dari suasana semarak Ramadhan yang mungkin mengakibatkan semangat berpuasa jadi berkurang.

Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan untuk tetap bersemangat jika tempat tinggal jauh dari masjid antara lain:

  • Ÿ Rajin mendengarkan siraman rohani dari internet. Dengan akses internet yang sangat cepat di jepang, mendengarkan materi dakwah, adzan, dan Al-Quran bisa dilakukan lewat komputer dan bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kurangnya intensitas pertemuan kajian rutin.
  • ŸAktif dalam kegiatan Ramadhan dengan beberapa teman atau perkumpulan di sekitar lingkungan, baik dengan teman-teman Indonesia maupun teman teman dari berbeda negara. Salah satu contohnya adalah mengadakan buka bersama dan sholat tarawih berjamaah dengan teman Indonesia sehingga memberikan suasana khas seperti di Indonesia sehingga rasa rindu kampung halaman bisa terobati.
  • Sesekali (atau kalau mampu setiap hari) menyempatkan diri ke masjid agar bisa bertemu dengan banyak teman seperjuangan dan mendapatkan siraman rohani sehingga bisa tetap menjaga diri kita tetap bersemangat menjalankan puasa ramadhan.

Demikianlah sekilas mengenai kondisi ramadhan di Jepang. Walaupun tidak semeriah di negeri kita, Ramadhan akan tetap memberi nuansa tersendiri. Perjuangan berpuasa dan melakukan berbagai aktivitas ibadah bulan Ramadhan di negeri Sakura akan menjadi pengalaman yang indah dan tidak terlupakan.

Penulis:
Murni Handayani, Peneliti LIPI, saat ini sedang melanjutkan studi di Osaka University, Jepang.
Kontak: murnie_h(at)yahoo(dot)com.