Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Asyiknya “Bermain” di Dapur

Bersahabat dengan alat masak dan berlama-lama menghabiskan waktu di dapur saat akhir pekan merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Selain untuk memastikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh, kegiatan memasak dapat merekatkan hubungan psikologis antara orang tua dan anak. Ada bumbu cinta dari setiap masakan seorang ibu. Pengalaman penulis, bumbu tersebut pun semakin mantap rasanya ketika mengajak serta anak, seperti membantu mengupas dan mengiris bawang maupun sayuran, mengenal kegunaan alat masak, merencanakan menu seminggu, dan belajar cara mengolah makanan yang benar agar kandungan gizi tidak hilang.

Masa kecil penulis bukanlah anak yang biasa membantu ibu di dapur. Dahulu, kebanyakan waktu dihabiskan untuk sekolah dan tenis meja, menghuni asrama atlet hingga lulus SMA di salah satu klub di Kudus. Sebagai atlet, kami tidak pernah repot dengan urusan makanan. Hidangan bernutrisi selalu siap tersaji di meja makan untuk disantap. Namun demikian, naluri seorang ibu menerjunkan saya ke dapur. Awalnya terasa berat karena kami tak memiliki asisten rumah tangga sehingga semua persiapan hingga bersih-bersih harus dilakukan bersama anak. Waktu terus berlalu dan saya ternyata makin mencintai aktivitas ini.

Untuk memperbanyak variasi makanan, saya kerap mengikuti kursus memasak, seperti cooking class oleh professional chef dari hotel-hotel berbintang di Bandung maupun celebrity chef yang menggelar acara serupa. Dari kegiatan-kegiatan itulah akhirnya saya berkesempatan menjadi salah seorang finalis MasterChef Indonesia Season 2 tahun 2012. Namun, ucapan dan kebahagiaan setiap kali melihat anak saya lahap menyantap masakan saya selalu terngiang saat berkompetisi dalam ajang tersebut. Saya mantap mengundurkan diri dan mengubur mimpi menjadi MasterChef Indonesia Season 2. Anak saya pasti lebih merindukan kehadiran saya di dapur kami.

Pengenalan seputar dapur perlu diberikan kepada anak-anak sesuai kemampuan dan minat yang mungkin berbeda dari setiap anak. Menurut para ahli dan juga psikolog, anak-anak sudah dapat diajak berkenalan dengan dapur mulai usia lima tahun. Pada usia itu, akan terlatih motorik halus, indra penciuman, indra perasa, dan yang tak kalah penting daya ingat. Orang tua atau orang dewasa lainnya perlu mendampingi karena banyak alat dapur menjadi berbahaya bila tak paham cara menggunakannya. Dengan mengolah bersama makanan kesukaan, dapur bisa dijadikan tempat bermain edukatif. Dimulai dari mengenal bahan dasar, bumbu, cara mengolah, hingga menyajikan makanan yang siap disantap bersama. Akan terbit kebanggaan bila kita terlibat dalam menyiapkan makanan kesukaan. Sebuah prestasi yang layak menjadi bahan cerita bersama keluarga, teman, dan juga guru kita.

Bagaimana untuk memulainya? Yang pertama adalah perencanaan, meliputi menu yang dipilih, waktu yang tepat, belanja bahan makanan, dan memastikan kesiapan terkait agenda kegiatan (misalnya, saat masa liburan atau sehabis ujian). Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut ini beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan.

  1. Ada orang tua atau orang dewasa yang siap mendampingi agar terhindar dari hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
  2. Mengenal alat-alat masak dan kegunaannya beserta potensi kerusakan atau potensi bahaya bila salah menggunakan, seperti:  wajan, spatula, panci, berbagai macam pisau, parut, cobek, hingga oven dan microwave.
  3. Membiasakan tangan dalam keadaan bersih saat hendak memasak.
  4. Belajar menyalakan dan mematikan kompor dengan benar, termasuk informasi tentang tabung gas dan gejala-gejala yang membahayakan misalnya jangan menusuk selang jika tercium bau gas, jangan menyalakan api di dekat tabung, dan mengatur letak tabung dan selangnya.
  5. Cara memegang pisau juga cara mengiris bawang, sayuran, buah, daging, dan bahan makanan lainnya .
  6. Cara memegang alat masak yang berada diatas kompor menyala dengan menggunakan sarung tangan anti panas atau cempal anti panas.
  7. Meletakkan alat masak yang panas di atas alas khusus anti panas.
  8. Memperlihatkan cara mencuci alat masak yang benar agar bersih dan tidak rusak.

Selanjutnya pengetahuan tentang teknik dasar memasak sekaligus memberi contoh. Teknik-teknik dasar tersebut antara lain:

  1. Moist Heat Cooking yaitu memasak dengan air yang dipanaskan, teknik ini dibagi menjadi:
    • Boiling/Merebus: memasak dengan air dengan titik didih atau suhu 100 derajat celcius. Sayuran, daging maupun ikan dapat dimasak dengan teknik ini namun perhatikan waktunya agar tidak merusak kandungan gizi.
    • Simmering/Stewing/Merebus dengan api kecil: memasak dengan suhu di bawah titik didih, tujuannya untuk menjaga tekstur bahan atau memperkuat rasa dari kuah. Teknik ini biasa digunakan untuk makanan berkuah santan atau susu agar kuah tidak pecah.
    • Steaming/Mengukus: memasak dengan menggunakan uap dari air, misalnya bolu kukus dan menanak nasi.
  2. Dry heat Cooking yaitu memasak dengan panas yang kering, teknik ini dibagi menjadi :
    1. Baking/Memanggang dalam oven, misalnya untuk roti dan kue.
    2. Roasting/Memanggang dalam oven untuk daging-dagingan maupun ikan dan ayam
    3. Grill/Memanggang di atas api, misalnya untuk steak dan sate.
  3. Cooking with oil yaitu teknik memasak dengan minyak, ada 3 cara:
    1. Shallow frying/Menggoreng dengan sedikit minyak: Disebut juga pan fried, biasanya digunakan untuk memasak bahan makanan yang mudah hancur misal ikan fillet (yang diiris tipis).
    2. Deep frying/Menggoreng dengan banyak minyak. Artinya makanan tertutup penuh oleh minyak sehingga makanan akan lebih cepat matang.
    3. Sauteing/Menumis: Memasak dengan sedikit minyak untuk bahan-bahan kecil yang dipotong. Misalnya, tumis sayuran dan bumbu.
  4. Cooking with microwave: Memasak dengan menggunakan alat masak bergelombang radiasi. Lebih detailnya bisa dibaca pada buku panduan masing-masing produk karena bisa jadi terdapat perbedaan antara merk yang satu dengan lainnya.

Yang tak kalah penting dari hal-hal di atas adalah menjaga dapur tetap rapi dan bersih setiap saat. Bukan zamannya lagi dapur identik dengan kotor, bau dan terletak di area paling belakang rumah. Para arsitek juga tidak keberatan dapur pantas ditempatkan di sekitar ruang tamu. Juga bukan zamannya lagi mengatakan memasak itu kegiatan yang hanya didominasi kaum hawa. Faktanya, banyak kaum Adam berprofesi sebagai chef. Selain itu, anak-anak dapat berlatih dan belajar memasak. Bahkan, kompetisi memasak untuk usia anak-anak kian marak akhir-akhir ini. Dengan kata lain, memasak bukan cuma kegiatan di dapur dalam rumah, melainkan juga di layar televisi.

Apakah masih ragu untuk ’bermain’ di dapur? Saya harap jawabannya, tidak. Yuk, jadikan dapur sebagai ajang bermain edukatif yang sangat mengasyikan.

ed26-sosbud-1

Penulis:
Adelina Khrisantie, ibu rumah tangga, salah satu “alumnus” kontes MasterChef Indonesia.