Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Berbagi Kisah Pendidikan di Negeri Paman Sam

Masih dalam nuansa hari guru Internasional yang diperingati tanggal 5 Oktober silam, penulis mengapresiasi peran guru dengan berbagi kisah tentang pendidikan di Amerika Serikat (AS). Dunia pendidikan di AS tidak lepas dari masalah yang ternyata cukup kompleks, mulai dari siswa, guru, sampai kurikulum. Bahkan sekarang diperparah dengan krisis ekonomi yang melanda AS.

Masalah pertama adalah masalah gender. Jumlah siswa perempuan yang mengambil kelas fisika lebih sedikit daripada jumlah siswa laki-laki. Demikian juga, jumlah siswa perempuan yang mengambil tes Advanced Placement lebih sedikit daripada jumlah siswa laki-laki. Advanced Placement adalah kelas di sekolah setingkat SMA untuk penyetaraan dengan kelas di tingkat perguruan tinggi. Bagi siswa yang lulus di kelas ini tidak perlu mengambil kelas yang sama di tingkat perguruan tinggi.

Stereotip bahwa siswa laki-laki lebih mampu di bidang sains menjadi faktor yang mempengaruhi sedikitnya jumlah siswa perempuan di bidang sains. Menurut pakar pendidikan di AS, peran guru sangat penting utuk memberikan motivasi pada siswa, terutama siswa perempuan. Guru diharapkan berdiskusi dengan siswa tidak hanya tentang biografi ilmuwan perempuan, tetapi juga berdiskusi tentang fakta rendahnya jumlah ilmuwan perempuan. Di tingkat universitas, mahasiswa dan dosen perempuan membentuk perkumpulan yang disebut Woman in Science. Perkumpulan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas ilmuwan perempuan sekaligus memasyarakatkan sains pada kalangan umum.

Masalah ekonomi menjadi masalah yang kedua. Jumlah guru yang dirumahkan akan bertambah banyak seiring krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat. Di kota New York, 716 guru terancam dirumahkan akibat kebijakan pemotongan anggaran pendidikan di sekolah negeri. Kebijakan ini juga berimbas pada daya tampung kelas.  Batasan untuk taman kanak-kanak adalah 25 siswa, sedangkan untuk kelas 1 sampai 6, SD daya tampung maksimum adalah 32 siswa. Kelas di sekolah setingkat SMP hanya menampung 33 siswa dan hanya 34 siswa di kelas setingkat SMA. Akan tetapi, saat ini di seluruh negara bagian New York, sebanyak 7000 kelas melebihi batas daya tampung.

Terlepas dari buruknya nasib beberapa guru tadi, terdapat guru-guru yang dengan penuh dedikasi menjalani tugasnya sebagai pendidik. Seorang guru di North Carolina yang bernama John Williams, harus berjuang agar anak didiknya yang berasal dari keluarga miskin terus memiliki motivasi untuk belajar matematika dan sains. Menurut siswanya, John williams termasuk guru yang sangat serius dan menempatkan siswa sebagai seorang pribadi yang layak dihargai. Bila ada seorang siswa yang mulai berbuat ulah di kelas, John Williams akan berupaya semaksimal mungkin agar siswa tersebut tetap di kelasnya untuk belajar. Apabila siswa tersebut mendapat hukuman di kantor guru, John William akan sangat kecewa karena siswa tersebut kehilangan kesempatan untuk belajar matematika dan sains.

Masalah ketiga adalah penguasaan siswa terhadap matematika dan sains. Penguasaan siswa terhadap matematika dan sains memang menjadi masalah di Amerika, terutama di sekolah setingkat SMA yang siswanya miskin. Hanya 4 negara bagian di Amerika Serikat yang mempunyai indeks SERI (Science and Engineering Readiness Index) di atas rata-rata nasional. Indeks SERI ini ditujukan untuk mengukur kesiapan lulusan siswa SMA menghadapi perkuliahan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Namun, masalah tersebut perlahan teratasi dengan kebijakan pemberian insentif berupa uang kepada siswa dan guru yang berprestasi.

Joe Nystrom, guru di South High Community School, berhasil meningkatkan jumlah siswa yang lulus Advanced Placement di mata pelajaran statistika. Jumlahnya meningkat 8 kali lipat daripada sebelumnya. Suatu prestasi yang membanggakan karena siswa di sekolah ini sangat mengidolakan pemusik rap seperti Lil Wayne. Sekolah ini punya sejarah kelam akibat peristiwa penusukan oleh siswa Hispanic terhap siswa berkulit hitam pada tahun 1989. Sebanyak 85% dari total 1220 siswanya adalah siswa miskin sehingga mendapat bantuan makan siang dari pemerintah pusat.

Para guru tidak sendirian melakukan perbaikan di sekolah. Mereka dibantu oleh lembaga nirlaba National Math and Science Initiative. Lembaga ini menyediakan peralatan laboratorium dan pelatihan khusus untuk guru dan menyediakan tambahan pelajaran di sore hari dan hari Sabtu. Memang kebijakan pemberian insentif menuai banyak pro dan kontra. Pihak yang kontra beranggapan bahwa siswa hanya mengincar uang untuk belajar dan mendapat nilai tinggi. Namun, seorang ahli ekonomi Harvard menilai bahwa uang saja tidak cukup untuk meningkatkan prestasi siswa. Pelajaran tambahan, pelatihan guru, dan strategi lainnya adalah faktor-faktor yang tidak boleh dilupakan.

Pelatihan guru juga dilakukan oleh beberapa kampus seperti MIT (Massachusetts Institute of Technology). Di liburan musim panas, MIT memberikan kesempatan pada guru-guru yang terseleksi untuk mengikuti kegiatan penelitian. Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan bekal pada guru untuk mempersiapkan program pengajaran. Para guru tersebut akan mengajar kelas pengenalan tentang riset yang dikerjakan oleh ilmuwan. Tentunya kelas tersebut disesuaikan dengan kemampuan siswa sekolah. Center for Nanoscale System Instittue for Physics Teacher (CIPT) di Cornell University menawarkan workshop musim panas untuk guru fisika dalam bidang kontemporer seperti nanoteknologi dan fotonik. Selain itu CIPT juga mempunyai database online yang berisi instruksi untuk 40 eksperimen fisika dan perpustakaan yang memberikan jasa peminjaman peralatan laboratorium. Lebih dari 1300 alumni workshop menggunakan jasa ini. Mereka meminjam peralatan seperti power supply, multimeter, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk eksperimen.

Masalah lainnya dalam pendidikan di AS adalah pengajaran matematika. Pengajaran matematika di sekolah SMA dan perguruan tinggi juga ada ketidaksesuaian dan ketidaksinambungan. Pelajaran matematika di SMA semakin tinggi tingkat kesulitannya, sedangkan di sisi lain banyak mahasiswa yang harus mengikuti program remedial kelas matematika. Kelas remedial ini adalah kelas nonkredit. Mahasiswa yang gagal mengikuti kelas kalkulus susah menentukan jurusannya karena tidak boleh mengambil jurusan ilmu sosial, sains, teknik, komputer, dan bisnis. Menurut Joseph Ganem, seorang profesor fisika di Loyola University, setidaknya ada 3 masalah utama terjadinya paradoks ini:

  1. Soal yang terlalu sulit untuk siswa SMA. Alih-alih melatih siswa dengan keadaan yang sulit, soal dengan tingkat kesulitan tinggi akan membuat tujuan pendidikan tidak tercapai. Dalam sains dan matematika, sering kita dihadapkan pada soal yang sulit. Hal itu bertujuan agar kita mampu meningkatkan kemampuan kita dan tetap bisa menjawab soal sulit tersebut dengan benar. Namun, bila soal terlampau sulit untuk siswa sehingga siswa harus terus berkonsultasi dengan gurunya, usaha tersebut akan sia-sia.
  2. Kesalahan dalam proses memahami mata pelajaran. Bila siswa berhasil menjawab soal sulit dengan benar bukan berarti siswa tersebut paham akan soal tersebut. Teknik belajar tanpa proses pemahaman yang benar tidak akan berakibat baik pada persiapan siswa mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi.
  3. Konsep mengajar dikembangkan tidak sepantasnya. Mengajarkan kalkulus lanjutan di tingkat SMA memaksakan konsep pada siswa di luar batas perkembangan untuk siswa seusianya. Sama halnya mengajarkan berjalan untuk bayi berumur 6 bulan atau mengajar membaca untuk anak usia 2 tahun.

Ketiga masalah di atas adalah akibat obsesi orang dewasa akan ujian dan kebutuhan akan perkembangan nilai ujian dari tahun ke tahun. Tidaklah penting pada usia berapa kita mulai belajar jalan. Hal yang terpenting adalah kita belajar jalan di saat yang tepat.

Pemerintah AS sangat serius dengan jumlah guru STEM karena para guru inilah yang bisa mencetak bibit unggul ilmuwan. Para calon ilmuwan ini akan membawa masa depan AS menjadi lebih baik. Meskipun sudah banyak pemenang Nobel dari AS, tetapi produksi ilmuwan baru di AS belumlah cukup. Banyak dari pemuda cerdas yang memilih berkarir di luar bidang sains. Mereka lebih cenderung memilih bekerja di bidang hukum dan ilmu pemerintahan. Presiden Obama merencanakan akan merekrut lebih dari 10 ribu guru STEM baru dalam waktu 2 tahun. Kebutuhan akan guru baru untuk bidang fisika adalah 1200 orang per tahun, sedangkan saat ini baru mencapai 400 orang per tahun. Menurut data AIP’s Statistical Research Center, sebanyak 54% dari sekitar 27 ribu guru fisika SMA pada tahun 2008–2009 bukanlah sarjana fisika.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pendidik untuk selalu berinovasi dan tidak kenal menyerah dengan segala keterbatasan fasilitas dan pendanaan. Penulis berharap para guru dapat memotivasi siswa untuk berkarir di bidang sains dan teknologi.

Bahan bacaan:

Penulis:
Yudhiakto Pramudya, dosen fisika di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, meraih doktor dalam bidang fisika temperatur rendah dari Wesleyan University, Amerika Serikat. Kontak: yudhirek(at)gmail(dot)com.