Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Hutan Mangrove

Indonesia sebagai negara tropis memiliki berbagai jenis hutan. Apakah teman-teman pernah mendengar tentang hutan mangrove? Di mana kalian bisa menemukan hutan mangrove? Apa saja yang dapat kalian temukan di hutan mangrove? Istilah hutan mangrove berasal dari kata “mangrove” yang merupakan gabungan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut dan juga untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Mangrove dapat pula didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger dkk. 1983). Jadi, di banyak pantai di Indonesia dapat kalian jumpai hutan mangrove ini.

Mungkin ada di antara kalian yang mengenal hutan mangrove sebagai hutan bakau. Hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Istilah itu sering digunakan, tetapi istilah hutan bakau dapat menimbulkan kerancuan karena bakau merupakan nama lokal dari marga Rhizopora sp., sedangkan pada hutan mangrove terdapat banyak jenis tumbuhan lainnya.

Lalu, apa saja yang terdapat di hutan mangrove itu?

Sumber daya mangrove di suatu wilayah terdiri dari (1) sebuah atau lebih spesies pohon dan semak belukar yang hidupnya terbatas di habitat mangrove (exclusive mangrove), (2) spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove (non-exclusive mangrove), (3) biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove, (4) proses-proses dalam mempertahankan ekosistem ini baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya (Saenger dkk. 1983).

Jenis tumbuhan yang terdapat di hutan mangrove dapat berbeda antara tempat satu dengan tempat lainnya, tergantung dari jenis tanahnya, intensitas genangan air laut, kadar garam, dan daya tahan terhadap ombak serta arus. Menurut Soerianegara (1987) hutan mangrove terdiri atas jenis-jenis pohon Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa.

Bagaimana cara hidup tumbuhan mangrove?

Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti kondisi tanah yang tergenang, kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Dengan kondisi lingkungan seperti itu, beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan, sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. Dalam hal lain, beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar), seperti Kandelia, Bruguiera, Ceriops dan Rhizophora.

Tumbuhan mangrove memiliki sistem perakaran yang khas. Tipe akar mangrove dapat dibedakan menjadi akar udara, akar papan, akar lutut, akar napas, dan akar tunjang. Gambaran masing-masing tipe akar dapat dilihat pada gambar.

Tipe akar tumbuhan mangrove. Sumber gambar: artikelbermutu.com

Tipe akar tumbuhan mangrove. Sumber gambar: artikelbermutu.com

Apa pentingnya hutan mangrove itu?

Hutan mangrove merupakan ekosistem peralihan antara komponen darat dan laut. Mangrove memegang peranan penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologis di suatu perairan. Pentingnya hutan mangrove dapat dilihat dari aspek ekologis dan ekonomis. Pada potensi ekologis, mangrove berperan dalam mendukung eksistensi lingkungan fisik dan lingkungan biota. Di lingkungan fisik berperan sebagai penahan ombak, penahan angin, pengendali banjir, perangkap sedimen, dan penahan intrusi air asin. Sedangkan dalam lingkungan biota berperan sebagai tempat persembunyian, tempat berkembang biak berbagai macam biota, serta penyumbang zat hara yang berguna untuk kesuburan perairan di sekitarnya.

Adapun potensi ekonomi ditunjukkan dengan kemampuannya dalam menyediakan produk dari hutan mangrove berupa hasil hutan dan hasil perikanan mangrove. Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil hutan yang langsung dimanfaatkan yaitu tumbuhannya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk bangunan, pembuatan arang, tanin, chipwood, dan sebagai obat tradisional.

Bagaimana kondisi hutan mangrove di Indonesia?

Di Indonesia, mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1.350.600 ha (38%), Kalimantan 978.200 ha (28%) dan Sumatera 673.300 ha (19%). Pada tahun 2002, Indonesia mempunyai lahan mangrove terbesar di dunia sekitar 8,5 juta hektare.

Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis (di antaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove), sementara jenis lain ditemukan di sekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (associate mangrove).

Eksploitasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini, terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom, 1929; Boon, 1936), meskipun eksploitasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972. Pada tahun 1985, sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877.200 hektar areal mangrove, atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO, 1990).

Mangrove memiliki susunan tertentu pada kawasan hutan mangrove atau disebut zonasi mangrove. Seperti apakah zonasi mangrove itu? Menurut Arief (2003) pembagian zonasi dapat dilakukan berdasarkan jenis vegetasi yang mendominasi, dari arah laut ke dataran berturut-turut sebagai berikut: zona Avicennia, zona Rhizophora, zona Bruguiera, dan zona Nypah.

Zona Avicennia terletak pada lapisan paling luar dari hutan mangrove. Pada zona ini, tanah berlumpur lembek dan berkadar garam tinggi. Jenis Avicennia banyak ditemui berasosiasi dengan Sonneratia Spp karena tumbuh di bibir laut, jenis ini memiliki perakaran yang sangat kuat yang dapat bertahan dari hempasan ombak laut. Zona ini juga merupakan zona perintis atau pionir karena terjadinya penimbunan sedimen tanah sebagai hasil dari cengkeraman perakaran tumbuhan jenis-jenis ini.

Zona Rhizophora terletak di belakang zona Avicennia dan Sonneratia. Pada zona ini, tanah berlumpur lembek dengan kadar garam lebih rendah. Perakaran tanaman tetap terendam selama air laut pasang.  Zona Bruguiera terletak di belakang zona Rhizophora. Pada zona ini tanah berlumpur agak keras. Perakaran tanaman lebih peka serta hanya terendam pasang naik dua kali sebulan. Zona Nypah adalah zona pembatas antara daratan dan lautan, namun zona ini sebenarnya tidak harus ada, kecuali jika terdapat air tawar yang mengalir (sungai) ke laut.

Zonasi Tumbuhan Hutan Mangrove. Sumber: http://uksa387.undip.ac.id/ingin-mengenal-tentang-mangrove/

Zonasi Tumbuhan Hutan Mangrove. Sumber: http://uksa387.undip.ac.id/ingin-mengenal-tentang-mangrove/

Bagaimana upaya penyelamatan hutan mangrove yang dapat kita lakukan?

Pelestarian hutan mangrove dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:

  1. Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat terutama masyarakat sekitar zona pantai mengenai pentingnya ekosistem hutan
  2. Melakukan inventarisasi untuk menentukan luas dan besarnya kerusakan hutan mangrove yang berada di dalam maupun di luar kawasan hutan dan melakukan usaha penanaman kembali untuk memulihkan ekosistem mangrove dan potensi perairannya untuk perikanan.
  3. Menyelenggarakan kursus peremajaan hutan mangrove bagi masyarakat dan pengusaha yang terlibat dalam pengusahaan hutan
  4. Mengawasi secara ketat sistem pengusahaan hutan mangrove terutama oleh pemegang HPH agar selalu melaksanaka peremajaan buatan dan menjaga jalur hijau yang telah ditetapkan.

Bahan bacaan:

  • Arief, A. 2003. Hutan Mangrove: Fungsi dan Manfaatnya. Kanisius. Yogyakarta.
  • Departemen Kehutanan., 1990, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
  • (1968). A General Account of the Fauna of the Mangrove Swamps of Inhaca Island, Mocambique. J. Ecol.
  • Saenger, P., E.J. Hegerl, and J.D.S Davie. 1983. Global status of mangrove ecosystems. The Environmentalist 3: 1-88. Also cited as: IUCN. 1983. Global Status of Mangrove Ecosystems. Gland: International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources.
  • Soerianegara, I. dan Indrawan, A.   Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
  • Wartaputra, S. (1990). Kebijaksanaan Pengelolaan Mangrove Ditinjau dari Sudut Konservasi. Dalam Soemodihardjo dkk. (Penyunting) Pros. Sem. IV Ekosistem Mangrove. Bandar Lampung, 7-9 Agustus 1990.
  • https://artikelbermutu.com/2014/05/macam-macam-akar-mangrove-1.html
  • http://uksa387.undip.ac.id/ingin-mengenal-tentang-mangrove

Penulis: Rizza Untsa Nuzulia, alumnus S1 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Kontak: rizzauntsa(at)gmail(dot)com.