Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Konsep Ecocity dan Penghematan Air ala Kota Melbourne

Melbourne adalah ibu kota dari negara bagian Victoria, Australia. Letaknya di sepanjang Teluk Port Phillip di bagian tenggara Victoria. Sebagian besar penduduknya tinggal di bagian timur dan selatan sungai Yarra. Sungai ini mengalir di tengah-tengah kota hingga ke Teluk Port Phillip dan membagi Melbourne menjadi dua wilayah besar.

Melbourne berdiri pada tahun 1837, sekitar 35 tahun setelah penjelajah Inggris berhasil mencapai Teluk Port Phillip untuk pertama kalinya. Berdirinya Melbourne diawali dengan berdirinya sebuah pemukiman permanen pada tahun 1935 di sekitar Teluk Port Phillip oleh sekelompok pengusaha yang berasal dari Tasmania.

Kota ini kemudian berkembang secara perlahan, hingga ditemukan tambang emas pada tahun 1951 yang membuat populasi penduduk meningkat tajam. Di tahun yang sama, Melbourne menjadi ibu kota Victoria, setelah sebelumnya pada tahun 1847 Ratu Victoria dari Inggris Raya mendeklarasikan berdirinya pemerintahan sendiri bagi Melbourne.

Melbourne merupakan salah satu kota modern termuda di dunia, dan kini menjadi kota terbesar kedua di Australia setelah Sydney. Melbourne adalah salah satu pusat industri dan komersialisasi bisnis terkemuka. Banyak perusahaan pertambangan, manufaktur, dan jasa keuangan yang memiliki kantor pusat di sini. Berbagai industri yang berkembang di Melbourne di antaranya adalah industri mobil, pesawat, mesin pertanian, peralatan listrik dan makanan olahan.

 Simbol Kota Melbourne (gambar dari www.eec.org.au).


Simbol Kota Melbourne (gambar dari www.eec.org.au).

Pelabuhan Melbourne adalah salah satu yang tersibuk di Australia. Melbourne juga merupakan pusat perkeretaapian. Bandaranya yang terletak di Tullamarine, sekitar 23 kilometer barat laut dari pusat kota melayani maskapai penerbangan domestik maupun internasional.

Melbourne terkenal dengan jalannya yang luas, serta memiliki banyak taman. Kings Domain adalah salah satu taman kota terbesar di Melbourne, dengan luas mencapai 241 hektar. Selain itu, Royal Botanic Gardens dan Queen Victoria Gardens juga merupakan taman yang terluas di Melbourne. Iklimnya yang mirip dengan California selatan ini juga menawarkan pantai yang indah, yang setiap tahunnya selalu dipadati oleh para wisatawan.

Memorial Fountain di Kings Domain, Melbourne.

Memorial Fountain di Kings Domain, Melbourne.

Menurut data yang diperoleh dari Australian Bureau of Statistics, pada tahun 2011 populasi di Melbourne mencapai angka empat juta penduduk. Angka ini meningkat 10% sejak tahun 2006. Alasan yang menyebabkan tingginya populasi di Melbourne adalah jumlah imigran yang terus meningkat. Tercatat 880 ribu imigran tumbuh antara tahun 2006 hingga 2011.

Untuk mengatasi jumlah penduduk yang terus meningkat, pemerintah setempat membentuk beberapa program yang berkelanjutan (sustainability). Program-program tersebut bertujuan untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul akibat lonjakan penduduk yang tinggi dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, di antaranya adalah penghematan energi, manajemen limbah, hutan kota, bisnis hijau, dan penghematan air, yang semuanya tercakup dalam konsep ecocity. Pengembangan ecocity merupakan bagian dari program besar yang dilakukan oleh pemerintah Australia. Melbourne sendiri terus berupaya untuk menjadi kota bebas emisi pada tahun 2020.

Menurut Economist Intelligence Unit, pada tahun 2011 Melbourne berhasil menjadi kota yang paling layak dihuni di dunia. Predikat tersebut diberikan kepada kota-kota di dunia yang dianggap nyaman sebagai tempat tinggal. Salah satu bagian yang diukur dalam menentukan kota paling layak huni adalah infrastruktur. Melbourne adalah kota yang memiliki sistem pengolahan air yang sangat baik. Ketersediaan air menjadi isu yang sangat penting, karena memiliki kaitan yang erat dengan keberlangsungan hidup masyarakat, khususnya Melbourne. Ketersediaan air pula yang menjadi ciri khas ecocity ala Kota Melbourne.

Melbourne sebenarnya memiliki sumber air yang sangat melimpah, tetapi jika tidak diolah dengan baik tentunya akan menimbulkan masalah. Terlebih adanya peningkatan kebutuhan air yang seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lokal maupun imigran. Oleh karena itu, pemerintah setempat membangun sebuah proyek Water Sensitive Urban Design (WSUD) yang bertujuan untuk meminimalkan dampak lingkungan yang disebabkan oleh arus urbanisasi. Salah satunya adalah dengan menjaga sumber air bersih agar tidak terkontaminasi.

Beberapa contoh penerapan WSUD pada daerah perumahan di Melbourne.

Beberapa contoh penerapan WSUD pada daerah perumahan di Melbourne.

Beberapa langkah yang dilakukan dalam WSUD untuk menjaga ketersediaan air antara lain dengan mengurangi penggunaan air (penggunaan air secara efektif dan efisien) dan menampung air hujan ataupun daur ulang air (filtrasi). Dengan demikian, akan terjadi peningkatan cadangan air dan peningkatan kualitas air bersih. Selain itu, WSUD menjaga agar kondisi lingkungan di sekitar Teluk Port Phillip, Teluk Western dan Selat Bass tetap baik. Sehingga habitat disekitarnya tetap terjaga.

Pada september 2008, pemerintah setempat mengeluarkan peraturan manajemen penggunaan air bernama Total Watermark City as a Catchment. Peraturan ini meliputi perlindungan air (water conservation), kualitas air selokan (stromwater quality), penggunaan air alternatif (alternative water use), pengurangan jumlah air limbah (wastewater reduction) dan kualitas air tanah (groundwater quality).

Program ini tidak hanya dijalankan dalam skala besar. Pemerintah setempat juga membuat program-program dalam skala kecil yang langsung berkaitan dengan aktivitas masyarakat. Salah satunya adalah program Showerhead Exchange. Program ini mengajak masyarakat untuk menukarkan shower milik mereka yang lama dan boros dengan shower yang baru yang lebih hemat air secara gratis. Program lainnya yang berada pada skala lebih besar adalah penerapan teknologi ramah lingkungan pada desain bangunan (ecobuilding).

Jika para pelancong sedang melintas di sekitar Little Callins Street. Di sana, mereka akan menemukan gedung dengan bagian dinding luarnya yang menghadap timur dilapisi oleh ornamen kayu, yang tak lain adalah CH2 (Council House 2). CH2 adalah gedung pemerintahan Melbourne yang diresmikan pada tahun 2006. Gedung ini dirancang dengan kolaborasi bersama Design Incorporated Melbourne dan melibatkan beberapa ahli lingkungan.

Saat ini CH2 disebut-sebut sebagai bangunan yang paling sustainable di dunia karena dinilai mampu mengurangi penggunaan listrik sebesar 85 persen, penggunaan air sebesar 72 persen, penggunaan gas sebagai penghangat ruangan sebesar 87 persen dan hanya menghasilkan emisi sebesar 13 persen. CH2 dirancang tidak hanya untuk meningkatkan penghematan energi dan air, tetapi juga untuk meningkatkan kenyamanan penghuninya melalui kualitas internal lingkungan gedung yang baik.

CH2 memberikan pendekatan baru dalam mendesain perkantoran, menciptakan model bagi orang lain untuk belajar dan meniru. Pada tahun 2010, CH2 berhasil mendapatkan predikat 6 Green Star dan sejumlah penghargaan lainnya di bidang arsitektur (sustainable architecture, green building dan best commercial architecture) dan lingkungan.

Gedung CH2 di Melbourne beserta bangunan arsitekturnya. Gambar dari construction.com.

Gedung CH2 di Melbourne beserta bangunan arsitekturnya. Gambar dari construction.com.

CH2 memiliki sistem pendingin internal yang terintegrasi. Saat malam hari jendela gedung akan terbuka sehingga udara dingin dari luar gedung akan masuk dan mendinginkan udara di dalam ruangan serta panel-panel pendingin yang menempel pada langit-langit dan pondasi ruangan. Panel yang telah didinginkan berfungsi untuk membuat ruangan di pagi hingga siang hari tetap sejuk.

Air juga memiliki peran yang sangat penting pada sistem ini. Ketika siang hari, beberapa menara setinggi 15 meter akan mengalirkan air dingin (shower). Beberapa bagian di antaranya akan menguap sehingga mendinginkan ruangan di tiap-tiap lantai gedung. Sebagian lainnya akan berfungsi untuk mendinginkan panel-panel pendingin ruangan.

Penggunaan air pada sistem ini bersifat reusable (berulang). Uap air yang telah digunakan akan mengalami peningkatan suhu dari 22 derajat celcius menjadi 25 derajat celcius, sehingga dengan sendirinya ia akan naik ke atas.Turbin angin yang berada pada atap gedung juga membantu proses tersebut. Kemudian uap air ditampung dalam sebuah kolam yang berada pada atap gedung untuk kemudian digunakan kembali.

Ornamen kayu yang menempel di bagian timur dinding CH2 dibentuk sedemikian rupa sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan ketika jam kerja sedang berlangsung. Dengan demikian, penggunaan cahaya lampu dapat dikurangi. CH2 sendiri menggunakan sistem cahaya buatan untuk penerangan lampu. Dengan menggunakan sistem tersebut, intensitas cahaya lampu secara otomatis akan menyesuaikan terhadap tingkat aktivitas dalam suatu ruangan.

Pada atap gedung juga dipasang panel surya seluas 25 meter persegi yang berfungsi sebagai sumber energi listrik CH2. Listrik yang dihasilkan dari panel tersebut sebesar 3,5 kW. Namun, panel tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik gedung. Oleh karena itu, 30% kebutuhan listrik dari CH2 berasal dari pembangkit mini berbahan bakar gas. Selain listrik, pembangkit yang terletak di atap gedung ini berfungsi menghasilkan panas sehingga CH2 mengurangi ketergantungannya pada jaringan listrik umum. Pembangkit listrik ini menghasilkan emisi karbon dioksida jauh lebih rendah dari pembangkit listrik batu bara.

Saat ini Melbourne menetapkan persyaratan green star sebagai standar minimum bagi pengembangan tiap bangunan baru maupun renovasi. Green star melakukan penilaian terhadap sistem lingkungan pada gedung-gedung di Australia. Program ini diperkenalkan pada tahun 2003 oleh Green Building Council of Australia. Program ini mempertimbangkan beberapa hal yang dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, seperti inovasi bangunan yang berkelanjutan, kesehatan penghuni, dan penghematan biaya.

Green star memiliki tiga kategori kualitas lingkungan pada suatu bangunan: (1) Best Practice, (2) Australian Excellence, dan (3) World Leadership. Pengelompokan ini didasarkan atas penilaian dari sembilan hal, antara lain: manajemen, kualitas lingkungan di dalam ruangan, transportasi, energi, air, bahan material, penggunaan lahan dan ekologi, inovasi dan emisi. Best practice atau 4 Green Star merupakan kategori terendah dengan hasil penilaian sebesar 45-59. Australian Excellence atau 5 Green Star sebesar 60-74, dan yang terbaik adalah World Leadership atau 6 Green Star dengan hasil penilaian sebesar 75-100.

CH2 sendiri menjadi gedung pertama yang mendapatkan predikat sebagai World Leadership. Bahkan sejak adanya CH2 dan diluncurkannya program Green Star, semakin banyak gedung-gedung di Melbourne, juga di Australia, yang mengikuti langkah CH2 menjadi gedung ramah lingkungan, baik itu sebagai gedung baru maupun hasil renovasi dari gedung-gedung sebelumnya. Semoga kota-kota di Indonesia bisa meniru dan bahkan mengembangkan konsep ecocity seperti Kota Melbourne.

Bahan bacaan:

Penulis:
Indarta Kuncoro Aji, peneliti di KK Nuklir dan Biofisika, Institut Teknologi Bandung.
Kontak: indartaaji(at)gmail.com.