Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Karinding

Karinding adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Alat musik ini biasanya terbuat dari pelepah kawung (pohon aren) atau dapat pula dibuat dari bambu. Di samping itu, keinginan pengguna karinding pun mempengaruhi bahan pembuatan karinding itu sendiri. Untuk karinding yang terbuat dari bambu, bentuknya sedikit lebih kecil dan memanjang  dan kebanyakan penggunanya adalah perempuan. Konon, alat musik ini juga digunakan sebagai susuk yang diselipkan dalam gelungan rambut penggunanya. Untuk karinding yang terbuat dari pelepah kawung bentuknya lebih pendek agar mudah disimpan pada tempat tembakau dan banyak digunakan oleh pria.

Karinding yang terbuat dari bambu  (gambar atas) dan pelepah kawung (gambar bawah). Karinding terbagi menjadi tiga ruas. Sumber gambar: http://kokarjapan.wordpress.com/

Karinding yang terbuat dari bambu (gambar atas) dan pelepah kawung (gambar bawah). Karinding terbagi menjadi tiga ruas. Sumber gambar: http://kokarjapan.wordpress.com/

Sekarang kita akan memperluas wawasan kita mengenai hal-hal lain terkait dengan karinding, seperti sejarah karinding, cara membuat dan memainkan karinding, dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi alat musik tradisional yang sudah semakin ditinggalkan di era globalisasi saat ini agar tetap lestari. Selain itu, dari aspek teknologi, kita dapat membahas keunikan-keunikan permainan ini.

Awal mula karinding

Pada awalnya alat musik karinding ini dimainkan dalam ritual atau upacara adat di daerah setempat. Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah diakui keberadaannya sejak lebih dari enam abad yang lalu. Dan ternyata karinding bukan hanya terdapat di Jawa Barat atau Priangan saja, melainkan dimiliki juga oleh berbagai suku atau daerah di tanah air. Karinding di Bali disebut genggong, di Jawa Tengah disebut rinding, dan di Kalimantan disebut Karimbi. Bahkan ada beberapa tempat di luar negeri menyebutnya dengan sebutan zeusharp (harpa milik dewa Zeus).

Hingga saat ini, istilah musik modern menyebut karinding sebagai jaw harp (harpa rahang). Dari sisi produksi suara tidak jauh berbeda, hanya cara memainkannya yang berlainan: ada yang harus dimainkan dengan digetarkan, dipukul, atau ditarik dengan menggunakan benang.

Jaw harp yang merupakan modifikasi karinding yang banyak dikenal di luar Indonesia. Sumber gambar: http://www.jewsharper.com/

Jaw harp yang merupakan modifikasi karinding banyak dikenal di luar Indonesia. Sumber gambar: http://www.jewsharper.com/

Pada zaman dahulu, karinding tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pertanian di Jawa Barat. Selain untuk mengisi kebosanan saat di ladang, resonansi suaranya dapat digunakan sebagai pengusir hama/serangga  di sawah oleh para leluhur. Tekanan suara yang dihasilkan dari karinding memiliki desibel rendah (ultrasonik) sehingga dapat mengganggu hama yang datang.  Selain untuk mengusir hama tanaman, suara ultrasonik juga dapat digunakan untuk memeriksa janin bayi yang ada di dalam kandungan dan sebagai alat navigasi untuk mengukur kedalaman laut.

Skala desibel yang dihasilkan oleh beberapa contoh sumber suara. Gambar dari: http://www.hearos.com/

Skala desibel yang dihasilkan oleh beberapa contoh sumber suara. Gambar dari: http://www.hearos.com/

Kegunaan suara ultrasonik untuk mengukur kedalaman laut. Sumber gambar: http://scienceaid.co.uk/

Kegunaan suara ultrasonik untuk mengukur kedalaman laut. Sumber gambar: http://scienceaid.co.uk/

Suara ultrasonik untuk memeriksa kandungan janin. Sumber gambar: http://ultrasoundtechniciancenter.org/

Suara ultrasonik untuk memeriksa kandungan janin. Sumber gambar: http://ultrasoundtechniciancenter.org/

Cara membuat dan memainkan karinding

Karinding yang terdapat di Indonesia pada umumnya berukuran sekitar 10 cm x 2 cm tergantung pada selera si pembuat dan penggunanya karena ukuran ini kemudian akan mempengaruhi bunyi saat karinding tersebut dimainkan. Karinding terbagi menjadi 3 ruas, yaitu ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karinding ditekuk dengan jari. Dan ruas ketiga berfungsi sebagai pegangan.

Karinding tidak dimainkan seperti halnya alat musik tiup biasa, tetapi karinding akan menghasilkan suara saat dikatupkan di bibir pengguna dan digetarkan pada ruas pertama sehingga tercipta resonansi suara. Karinding biasanya dimainkan secara solo atau grup yang terdiri dari dua sampai lima orang. Nada dalam memainkan karinding ada empat jenis yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

Suara yang dihasilkan dari getaran jarum karinding biasanya bertekanan rendah (~20 dB). Ketukan dari karinding disebut dengan rahel, yaitu untuk membedakan siapa yang menepuk lebih dulu dan yang selanjutnya. Penepuk pertama menggunakan rahel pertama, penepuk kedua menggunakan rahel kedua, ketiga, dan seterusnya.

Selain suara aslinya, karinding dapat menghasilkan berbagai macam jenis suara seperti suara kendang, gong, bass, rhythm, melodi, dan lain-lain. Bahkan pemain karinding dapat menciptakan suara khasnya sendiri berdasarkan cara menepuknya. Hal ini menyebabkan karinding dapat memiliki variasi suara yang indah.

Pelestarian karinding

Saat ini karinding mulai diminati kembali oleh masyarakat, terutama di daerah Jawa Barat. Satu hal yang menarik melihat fenomena “kembalinya” karinding ini adalah tidak bermula dari daerah-daerah pedesaan bercorak tradisional yang biasanya masih memelihara tradisi yang ketat. Namun, karinding justru kembali hidup di daerah perkotaan, di kalangan masyarakat urban dan juga generasi muda yang kultur sosialnya telah modern, dalam arti telah melepaskan sebagian besar tradisi leluhur dari kehidupan pribadi dan sosialnya.

Bagi pemain karinding saat ini keberadaan mereka menunjukkan suatu kebangkitan budaya lokal karena karinding yang notabene merupakan seni tua sanggup eksis dan bersaing dengan seni modern yang berasal dari luar negeri (budaya Barat). Kemunculan kembali karinding sebagai permainan yang telah ada enam abad yang lalu  tidak lain merupakan suatu bentuk dari keinginan sebagian besar masyarakat kaum urban (korban utama modernitas) untuk kembali terhubung dengan sejarahnya sendiri. Dengan cara itu mereka ingin meneguhkan identitasnya seraya melawan gempuran modernitas ala Barat yang begitu hegemonis. Di sisi lain, memainkan karinding saat ini adalah bentuk modernitas juga, sekali lagi karena ia dianggap baru dan berbeda.

Pada akhirnya masalah pelestarian karinding ini kembali kepada pemahaman kita. Apakah kita akan memperlakukan karinding sebagai warisan budaya lokal yang sakral dan wajib dilestarikan atau memperlakukannya secara profesional sebagai sekedar alat musik baru? Jika kita menyikapinya dengan sikap yang pertama berarti kita harus menjaga orisinalitas dari tradisi leluhur kita beserta pakem-pakem yang terdapat di dalamnya. Namun bila kita memilih sikap yang kedua, maka kita dapat berinovasi sebebas mungkin dengannya dengan menciptakan hal yang benar-benar baru, seperti para nenek moyang terdahulu yang menciptakan karinding.

Bahan bacaan:

Penulis:
Fran Kurnia, mahasiswa S3 di The University of New South Wales, Australia.
Kontak: fran.kurnia(at)yahoo(dot)com.