Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Sawah Apung

Kembali ke era 90-an, sebagian dari kita pasti pernah melihat gambar iklan sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia yang menunjukkan aktivitas jual beli di atas perahu. Ya, itulah yang disebut dengan pasar apung. Pasar apung tidak memiliki organisasi tetap seperti halnya pasar di daratan, bahkan di pasar apung masih berlaku sistem barter antarpedagang. Karena transaksi perdagangannya dilakukan di atas perahu, baik pedagang maupun pembelinya dapat senantiasa bergerak mengikuti arus sungai. Oleh karena mobilitas dan fleksibilitasnya, pasar apung banyak diminati masyarakat Indonesia yang notabene memiliki sungai yang cukup banyak, terutama di Kalimantan Selatan, Banjarmasin, dan Banjar.

Pasar apung yang pernah digunakan untuk logo sebuah stasiun TV swasta di Indonesia. Sumber gambar: http://www.rcti.tv

Pasar apung yang pernah digunakan untuk logo sebuah stasiun TV swasta di Indonesia. Sumber gambar: http://www.rcti.tv

Sekarang kita akan membahas hal yang sedikit berbeda tapi memiliki kesamaan dengan pasar apung, yakni sawah apung. Seperti halnya pasar apung, sawah apung ialah sawah yang aktivitas pertaniannya dilakukan di atas air, alias terapung. Dalam artikel kali ini, kita akan mengulas lebih jauh mengenai teknologi pembuatan sawah apung, berbagai macam aktivitas yang dapat dilakukan di atas sawah apung, dan hasil pertanian yang diperoleh dengan menggunakan teknologi ini.

***

Teknologi bercocok tanam antibanjir

Teknologi sawah apung dilatarbelakangi oleh kecenderungan terjadinya curah hujan yang tinggi pada tahun belakangan yang menyebabkan banjir yang dapat mengganggu proses panen para petani konvensional. Selain itu, imbas banjir lainnya yang juga kerap menggenangi sawah dan ladang hingga berbulan-bulan yang menghambat proses bercocok tanam para petani.

Sawah apung dikembangkan pertama kali oleh Taruna Tani Mekar Bayu yang bekerja sama dengan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Penerapan teknologi ini terbilang cukup sederhana, yaitu hanya dengan menggunakan rakit yang diberi sabut kelapa, jerami, dan tentunya tanah. Hal inilah yang kemudian membedakan sawah apung dengan cara bercocok tanam konvensional yang dilakukan di atas tanah.

Dalam proses pembuatan sawah apung, rakit berfungsi agar sawah menjadi terapung sehingga tidak terpengaruh oleh ketinggian air. Seperti yang kita ketahui sehari-hari, rakit merupakan susunan benda yang disusun mendatar yang dapat mengapung. Rakit merupakan rancangan perahu yang paling dasar dan tidak memiliki lambung. Supaya bisa selalu terapung, rakit dibuat dengan menggunakan gabungan bahan ringan seperti kayu, tong tertutup, drum, ponton, atau balok polistirena. Dengan menanam bibit padi di atas rakit tersebut, para petani dapat menanam dengan aman tanpa ada kekhawatiran akan terjadinya genangan air akibat curah hujan yang tinggi.

Proses pembuatan sawah apung yang dilakukan oleh beberapa orang warga (kiri) dan seorang warga yang membawa padi yang dihasilkan di sawah apung (kanan). Sumber gambar: http://www.pikiran-rakyat.com

Proses pembuatan sawah apung yang dilakukan oleh beberapa orang warga (kiri) dan seorang warga yang membawa padi yang dihasilkan di sawah apung (kanan). Sumber gambar: http://www.pikiran-rakyat.com

Proses pemeliharaan sawah apung juga tidak berbeda dengan sawah konvensional atau yang ditanam di atas tanah. Perbedaannya adalah hanya saat panen padi tidak dapat langsung dirontokkan di tempat melainkan harus dilakukan di darat.

Penerapan sawah apung dan hasilnya

Metode bercocok tanam yang baru dikembangkan ini akan sangat berguna jika diterapkan pada wilayah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Contohnya di daerah Ciganjeng, kecamatan Padaherang, kabupaten Ciamis, di wilayah ini ratusan hektar sawah tergenang banjir hingga hampir satu tahun lamanya. Banjir ini merupakan salah satu banjir terburuk yang pernah dialami oleh warga sekitar. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini, para petani di daerah Ciganjeng tidak dapat menikmati musim panen.

Berdasarkan hasil pengamatan masyarakat di wilayah sekitar, banjir yang menggenangi daerah lumbung padi Ciamis itu disebabkan karena meluapnya sungai Citanduy, Ciseel, Cirapuan, serta banjir kiriman dari kecamatan Mangunjaya. Hal ini menyebabkan areal persawahan di lima desa di kecamatan Ciganjeng yakni, Ciganjeng, Paledah, Maruyungsari, Kedungwuluh, dan Sukanagara selalu terendam banjir. Kondisi terpuruk inilah yang kemudian membuat masyarakat sekitar berusaha mengembangkan metode sawah apung untuk menjaga keberlangsungan fungsi daerah Ciganjeng sebagai salah satu daerah lumbung padi.

Beberapa bulan yang lalu, teknologi sawah apung yang dilakukan membawa hasil yang cukup menggembirakan. Warga berhasil menanam padi jenis IR 64 dengan pola tanam tunggal (System of Rice Intensification), atau menanam padi satu per satu, kemudian dipanen. Panen yang diharapkan pun terjadi, produksi sawah apung tidak berbeda jauh dengan sawah konvensional. Hasil panen perdana (yang juga dalam tahap uji coba) berhasil memberi gabah 6,4 ton per hektar, tidak berbeda jauh dengan hasil sawah konvensional yang dapat menghasilkan 7-8 ton per hektar. Keunggulan lain yang dapat dihasilkan sawah apung ialah para petani dapat sekaligus memelihara ikan dengan jumlah yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan sawah konvensional. Hasil ini membuktikan bahwa gagasan sawah apung ini merupakan salah satu metode yang patut dikembangkan di masa depan.

Pemandangan banjir di areal sawah desa Cigandeng (kiri) dan seorang warga yang mengakut padi yang terendam banjir (kanan). Sumber gambar: http://www.sindonews.com dan http://www.pikiran-rakyat.com

Pemandangan banjir di areal sawah desa Cigandeng (kiri) dan seorang warga yang mengakut padi yang terendam banjir (kanan). Sumber gambar: http://www.sindonews.com dan http://www.pikiran-rakyat.com

Catatan: Artikel ini merupakan saduran bebas dari berita tentang sawah apung yang dimuat di beberapa media massa (Pikiran Rakyat, situs HKTI, dan Sindo News).

Bahan bacaan:

Penulis:
Fran Kurnia, mahasiswa S3 di The University of New South Wales, Australia.
Kontak: fran.kurnia(at)yahoo(dot)com.