Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Kulit Si Pelindung

Kulit secara umum berperan sebagai pelindung tubuh dan merupakan salah satu sistem kekebalan primer kita. Bagaimana lapisan kulit kita yang sepertinya tipis itu bisa menjadi pelindung? Kita lihat dulu struktur dan fungsi kulit normal.

Kulit dibentuk oleh tiga lapisan yaitu: epidermis atau lapisan luar (tebal 50-100 μm), dermis atau lapisan kulit sebenarnya (1-2 mm), dan hipodermis atau jaringan subkutan (1-2 mm).

Lapisan kulit dari luar ke dalam meliputi epidermis, dermis dan jaringan subkutan (WHO).

Lapisan kulit dari luar ke dalam meliputi epidermis, dermis dan jaringan subkutan (WHO).

Epidermis

Fungsi kulit sebagian besar diperankan oleh stratum corneum (lapisan epidermis yang paling luar atau superfisial) yang tebalnya hanya 10-20 μm dan merupakan bagian kulit tertipis dan terkecil. Fungsi stratum corneum yang utama adalah: (1) mengurangi kehilangan air sehingga mencegah dehidrasi, (2) melindungi lapisan kulit dan jaringan tubuh di bawahnya terhadap serangan fisik atau kuman, dan (3) berperan sebagai pelindung dan mengatur respon terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Stratum corneum mengandung corneocytes (disebut juga horny cells), yaitu sel-sel tidak berinti yang berbentuk polihedral. Corneocytes dibentuk terutama dari keratin tebal yang diselimuti oleh envelope cell. Corneodesmosomes merupakan protein yang menghubungkan antar-corneocytes dan ikatannya berbentuk polar. Deskuamasi atau pengelupasan kulit terjadi bila ikatan corneodesmosomes ini rusak. Seperti ikatan antara batu bata dan semen, corneocytes adalah batu bata dan corneodesmosomes adalah semen. Sel superfisial stratum corneum ini secara konstan dilepaskan dan diganti yang baru.

Bagian interseluler (antarsel) stratum corneum terbentuk dari lipid (lemak). Lipid ini dibentuk oleh lamellar bodies. Lipid tersebut merupakan pelindung yang kuat dan membentuk lapisan yang tidak terputus. Adanya lipid ini juga menyebabkan kulit menjadi kedap air.

Struktur stratum corneum yang menggambarkan hubungan antara corneocyte, envelope cell, corneodesmosomes, lipid intraseluler, dan lamellar bodies. (http://dermatology.about.com/od/anatomy/ss/sc_anatomy.htm)

Struktur stratum corneum yang menggambarkan hubungan antara corneocyte, envelope cell, corneodesmosomes, lipid intraseluler, dan lamellar bodies.
(http://dermatology.about.com/od/anatomy/ss/sc_anatomy.htm)

Epidermis memiliki beberapa lapisan dan mengandung 4 jenis sel, yaitu: (1) keratinocytes atau sel keratinosit, yang menghasilkan protein keratin pembentuk stratum corneum, rambut, kuku, dan bantalan kuku, (2) melanocytes atau sel melanosit, memproduksi melanin yang berperan dalam pewarnaan kulit dan melindungi tubuh terhadap radiasi sinar ultraviolet, (3) sel Langerhans, yang berperan dalam respon kekebalan atau imunitas, dan (4) sel Merkel, yang berguna sebagai penerima rangsang sensoris atau sebagai indra peraba. Keratinocytes mendapatkan nutrisi dari cairan interseluler melalui proses difusi pasif karena lapisan epidermis tidak mengandung pembuluh darah.

Lapisan di bawah stratum korneum adalah stratum germinativum dan stratum basalis (basal cell layer). Stratum basalis terdiri dari spinous cell dan granular cell layer dan salah satu fungsinya adalah menghasilkan jutaan sel baru tiap hari dan sel ini membentuk lapisan dasar epidermis.

Dermis

Dermis merupakan lapisan kedua dan terletak di bawah epidermis. Dermis ini tebal dan membentuk 90% ketebalan seluruh kulit. Lapisan dermis mengandung beberapa jenis jaringan meliputi pembuluh darah, saraf, sel otot, kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan rambut. Selain itu juga mengandung protein kolagen (protein penguat), elastin (protein yang berperan dalam elastisitas kulit) dan protein retikuler (protein yang berperan sebagai penyokong).

Hipodermis

Hipodermis atau lapisan subkutan merupakan lapisan terdalam kulit dan merupakan daerah transisi antara kulit dengan jaringan lemak di bawahnya. Lapisan ini dibentuk terutama oleh lemak. Lapisan ini berfungsi mengatur nutrisi, ekskresi dan panas tubuh. Sel-sel lemak (adipocytes atau sel adiposa) terdapat di dalam lapisan ini berfungsi menghasilkan energi dan panas tubuh, serta melindungi jaringan dibawahnya. Selain itu juga terdapat kelenjar keringat yang mengekskresikan atau mengeluarkan sisa hasil metabolik melalui perspirasi (berupa keringat) sehingga membuat kulit tidak kering. Kontrol pengeluaran keringat ini mampu menjaga suhu tubuh agar tetap normal dengan cara penguapan dan mendinginkan permukaan kulit.

Kulit sebagai pelindung terhadap infeksi

Fungsi kulit sebagai pelindung dipengaruhi oleh terdapatnya kerusakan struktur kulit dan kuman. Kerusakan struktur kulit akibat luka fisik atau iritasi bahan kimia membuat kulit kehilangan fungsi pelindungnya. Namun kulit secara alami akan mengganti kerusakan tersebut dengan regenerasi atau membentuk sel kulit lagi. Proses ini dinamakan proses homeostasis untuk membuat kondisi keseimbangan yang normal. Kembalinya fungsi pelindung kulit 50%–60% biasanya dalam waktu sekitar 6 jam, tapi kembali sempurna kadang perlu waktu 5–6 hari.

Flora normal di kulit

Kulit bisa dikolonisasi oleh kuman. Kolonisasi adalah kondisi ketika kuman berkembang biak, tetapi tidak sampai atau belum menyebabkan infeksi atau penyakit. Kuman yang hidup di kulit dibagi menjadi dua jenis, yaitu resident flora dan transient flora.

Resident flora atau kuman normal merupakan kuman yang berkolonisasi di lapisan kulit profunda (lapisan yang lebih dalam) yaitu dibawah sel-sel di stratum corneum atau di permukaan dermis. Resident flora mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai lawan kuman tidak normal dan berkompetisi untuk mendapatkan nutrisi sehingga mampu mencegah pertumbuhan kuman tidak normal di kulit. Karena letaknya lebih dalam, kuman normal ini lebih sulit dihilangkan dengan mencuci tangan. Kuman ini umumnya jarang menimbulkan penyakit infeksi. Namun, bila struktur kulit mengalami kerusakan atau kuman ini pindah ke tempat steril (misalnya mata), kuman normal ini bisa menyebabkan infeksi. Contoh resident flora adalah coagulase negative staphylococcus.

Transient flora atau kuman tidak normal yang berkolonisasi di lapisan kulit yang superfisial (lapisan luar) dan kuman tersebut sebenarnya mudah dihilangkan dengan mencuci tangan secara rutin. Kuman ini mampu bertahan hidup di kulit dalam waktu lama tergantung jenis kumannya. Kuman ini sering didapatkan dari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit atau lingkungan di sekitar orang yang sakit. Tangan kita sering menjadi tempat kolonisasi kuman yang tidak normal ini. Transient flora ini dapat menyebabkan infeksi silang (infeksi yang menyebar dari satu orang ke orang yang lain). Contoh transient flora adalah Staphylococcus aureus, bakteri-bakteri gram negatif, virus, atau jamur.

Karena kulit juga bisa merupakan wahana untuk hidup kuman yang tidak normal, maka kulit terutama kulit telapak tangan merupakan kendaraan yang sangat ideal untuk memindahkan kuman dari satu orang ke orang lain. Oleh karena itu, seringlah mencuci tangan agar mencegah tangan kita mendapat dan menyebarkan kuman tidak normal dari dan ke lingkungan sekitar. Selain itu, rawatlah kulit agar strukturnya tidak rusak sehingga kulit tetap bisa efektif melindungi kita.

 Bahan bacaan:

  • WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. First Global Patient Safety Challenge Clean Care is Safer Care (2009).
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Guideline for Hand Hygiene in Health-Care Settings: Recommendations of the Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee and the HICPAC/SHEA/APIC/IDSA Hand Hygiene Task Force, Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) 2002:51(RR-16).

Penulis:
Indah Kartika Murni, staf kesehatan di RSUP dr Sardjito dan dosen Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Kontak: ita_kartika(at)yahoo(dot)com.