Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

HIV/AIDS: Agen Mematikan, Pemicu Duel Ilmiah

Sejak ditemukannya struktur DNA double helix pada tahun 1953, hampir semua penghargaan Nobel kedokteran diberikan untuk penelitian di tingkat molekuler, khususnya yang berkaitan dengan imunologi dan virologi. Pada tahun 2008, Luc Montagnier bersama Francoise Barre-Sinoussi dari Institut Pasteur di Paris memenangkan penghargaan ini untuk penelitian mereka tentang HIV/AIDS.

Sampel virus HIV yang pertama diambil dan dibiakkan pada tahun 1983 dari cairan kelenjar getah bening (limfa) yang membesar di leher seorang perancang busana Paris bernama Frederic Brugiere. Laki-laki ini mengaku melakukan hubungan seks dengan 50 orang laki-laki dalam setahun, khususnya ketika berada di New York. Karena ditemukan di kelenjar limfa, Montagnier memberi nama virus yang ditemukan sebagai LAV (lymphadenopathy-associated virus).

Institut Pasteur mengirim virus berkode BRU (kependekan nama Brugiere) ke laboratorium yang dipimpin Robert Gallo di National Institute of Health (NIH), Amerika Serikat. Gallo, ilmuwan penemu teknik isolasi dan perbanyakan retrovirus (HIV termasuk di dalamnya) kemudian membiakkan sampel ini dan menamakannya HTLV (Human T Lymphotropic Virus) III pada tahun 1984. HTLV III dianggap serumpun dengan HTLV I dan II, dua tipe retrovirus penyebab leukemia yang ditemukan Gallo setelah kematian adik perempuannya. Sejak tahun 1984, dunia internasional mengenal Gallo sebagai penemu virus yang menjangkiti kaum homo.

Institut Pasteur dan NIH adalah dua lembaga paling bergengsi di dunia dan sering berkolaborasi untuk penelitian yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Karena LAV yang ditemukan di Institut Pasteur 1983 dan HTLV yang dibiakkan di NIH 1984 sebenarnya virus yang sama, terjadilah adu gengsi untuk membuktikan siapa yang layak disebut sebagai penemu pertama. Duel ini berlangsung sampai tahun 1993, ketika akhirnya NIH mengakui Institut Pasteur sebagai pemenang. Robert Gallo divonis oleh Badan Integritas Riset yang dibentuk oleh Departemen Kesehatan Amerika telah melakukan scientific misconduct. Meskipun dalam sidang banding Gallo dinyatakan tidak bersalah, reputasi ilmiahnya sudah terlanjur hancur.

Selain memenangkan duel, Montagnier juga membuktikan bahwa virus ini tidak seperti leukimia yang tumbuh tidak terkendali, tetapi virus ini menyebabkan sel inang yang dijangkiti bunuh diri, atau istilah ilmiahnya apoptosis. Karena itulah, virus ini sangat membahayakan sistem imunitas manusia, dan diberi nama HIV (Human Immuno-deficiency Virus) dan penyakitnya disebut AIDS.

Penelitian tentang HIV/AIDS relatif lebih menarik dibanding virus yang lain. Sampai sekarang, belum ditemukan obat atau vaksin untuk mencegah atau melawan HIV. Oleh karena itulah, ilmuwan dari seluruh dunia masih terus berlomba. Mengapa penelitian HIV/AIDS sangat menarik?  Setidaknya ada tiga penyebab. Satu, HIV adalah virus RNA dengan tingkat mutasi sangat tinggi (satu mutasi tiap 103 to 104 basa nukelotida, atau 1-2 mutasi setiap pengkopian genom).  Kedua, vaksin sangat efektif untuk virus-virus yang stabil, tetapi efektivitasnya sangat terbatas untuk pasien yang sudah terjangkiti atau untuk virus yang sangat mudah bermutasi. Ketiga, karena HIV/AIDS sangat mematikan, penelitian tentang antivirus HIV menjadi sangat penting.

Meskipun belum ditemukan obat atau vaksin ampuh untuk melawan HIV, penelitian tentang deteksi HIV mengalami banyak kemajuan. Ada beberapa metode yang digunakan, salah satunya menggunakan Western Blot.

Struktur HIV-1 dan deteksinya menggunakan metode Western Blot.

Struktur HIV-1 dan deteksinya menggunakan metode Western Blot.

Pada metode Western Blot, dari sampel darah seseorang virus HIV dapat diketahui keberadaannya. Protein virus diperoleh dari elektroforesis. Setelah protein ditransfer ke nitroselulosa, serta melalui beberapa tahap pencucian, akan muncul band (garis-garis) di tengah substrat yang menunjukkan bagian tertentu dari HIV-1. Jika sampel darah seseorang menunjukkan satu atau beberapa band yang sama persis dengan posisi band HIV-1, itu artinya yang bersangkutan positif HIV-1.

Pada metode Western Blot, dari sampel darah seseorang virus HIV dapat diketahui keberadaannya. Protein virus diperoleh dari elektroforesis. Setelah protein ditransfer ke nitroselulosa, serta melalui beberapa tahap pencucian, akan muncul band (garis-garis) di tengah substrat yang menunjukkan bagian tertentu dari HIV-1. Jika sampel darah seseorang menunjukkan satu atau beberapa band yang sama persis dengan posisi band HIV-1, itu artinya yang bersangkutan positif HIV-1.

Penamaan Western Blot untuk mendeteksi protein diadaptasi dari Southern Blot untuk deteksi DNA, yang ditemukan oleh Edwin Southern. Northern Blot adalah istilah untuk deteksi RNA, Eastern Blot untuk deteksi protein pasca-translasi, dan Southwestern Blot untuk deteksi DNA-binding protein.

Ada beberapa hal menarik lainnya terkait duel ilmiah dalam penelitian ini. Pertama, hadiah Nobel untuk satu kategori hanya dapat diberikan kepada maksimal tiga orang. Jean-Claude Chermann, salah satu asisten Montagnier yang berjasa dalam mengkultur LAV tidak dimasukkan sebagai pemenang. Nobel Kedokteran 2008 diberikan ke Montagnier/Barre-Sinoussi untuk HIV dan Harald zur Hausen untuk HPV. Selain itu, meskipun memiliki kontribusi penting, ilmuwan yang meninggal tidak dapat menerima hadiah Nobel.

Salah satu ilmuwan yang kurang beruntung adalah Rosalind Franklin, pionir penelitian struktur DNA pada tahun 1952. Perlu diketahui bahwa Watson-Crick, penerima hadiah Nobel Kedokteran 1962, menemukan struktur DNA double helix pada 1953 berdasarkan data penelitian Franklin. Franklin juga menemukan struktur Tobacco Mosaic Virus (TMV) pada tahun 1958. Hadiah Nobel Kimia 1982 diberikan kepada Aaron Klug, mahasiswa dan asisten yang melanjutkan risetnya. Franklin meninggal pada tahun 1958, usia 37 tahun.

Tak hanya berperan dalam penelitian HIV/AIDS, jauh sebelum itu Institut Pasteur juga memiliki peranan penting dalam sejarah vaksin. Pada tahun 1885, Louis Pasteur memberikan suntikan vaksin rabies ke Joseph Meister yang berusia 9 tahun.  Sebelumnya, vaksin rabies hanya disuntikkan ke binatang. Meister selamat, sejak saat itu orang berbondong-bondong datang ke klinik Pasteur untuk vaksinasi rabies. Klinik ini adalah cikal bakal Institut Pasteur. Setelah dewasa, Joseph Meister bekerja menjadi asisten Pasteur.  Dia bunuh diri ketika Jerman menduduki Perancis pada perang dunia kedua dan meminta informasi data-data penelitian Louis Pasteur, ilmuwan penting dalam bidang mikrobiologi dan imunologi.

Bahan bacaan:

Penulis:
Sidrotun Naim, peneliti ilmu lingkungan dan mikropatologi, University of Arizona, Amerika Serikat.
Kontak: snaim(at)mail(dot)arizona(dot)edu.