Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Fenomena Iklim El Nino dan La Nina

Pernahkan kita berpikir bahwa musim kemarau yang panjang dan juga musim hujan yang terjadi di musim kemarau hanyalah kejadian wajar dan kebetulan? Mungkin sebagian orang hanya berpikir demikian, tetapi sesungguhnya kejadian-kejadian tersebut adalah sebuah siklus iklim, yang disebut dengan fenomena El Nino dan La Nina.

Sebenarnya apa sih El Nino dan La Nina?

El Nino menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang pertama kali teramati oleh para nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur pada bulan Desember, tepatnya menjelang hari Natal. Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya kaya akan ikan akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar menjadi sedikit jumlah ikan di perairan tersebut.

Pemberian nama El Nino itu sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya “anak lelaki”. Suatu saat para ahli kemudian menemukan juga fenomena mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling, yang merupakan kebalikan dari El Nino. Fenomena kebalikan ini diberi nama La Nina (juga bahasa Spanyol), yang berarti “anak perempuan”. Kedua fenomena ini memiliki periode 2 sampai 7 tahun, tetapi periode El Nino dan La Nina menjadi semakin pendek seiring dengan pemanasan global yang terjadi di dunia sekarang ini.

Bagaimana proses kejadian El Nino dan La Nina?

Ed05-fisika1-1

Ketika Peru mengalami musim panas, arus laut dingin Humbolt tergantikan oleh arus laut panas. Kuatnya penyinaran oleh sinar matahari pada perairan di Pasifik Tengah dan Timur menyebabkan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer sehingga tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi rendah. Hal ini diikuti oleh kemunculan awan-awan konvektif, atau awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat.

Di sisi lain, di bagian Pasifik Barat awan sulit terbentuk. Daerah Pasifik Barat contohnya adalah Indonesia, yang pada dasarnya cuacanya dipengaruhi oleh angin muson, angin pasat, dan angin lokal walaupun sebenarnya pengaruh angin muson yang lebih kuat berasal dari daratan Asia. Oleh karena sifat udara adalah bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah, udara dari Pasifik Barat akan bergerak ke Pasifik Tengah dan Timur. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Indonesia bergeser ke Pasifik tengah dan Timur.

Pada La Nina, atau kebalikan dari El Nino, fenomena tersebut terjadi saat permukaan laut di Pasifik Tengah dan Timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Kemudian, tekanan udara di kawasan Pasifik Barat jadi menurun yang memungkinkan terbentuknya awan. Sebagai akibatnya, tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi tinggi sehingga proses pembentukan awan terhambat.

Ed05-fisika1-2

Sementara itu, di bagian Pasifik Barat, misalnya di Indonesia, tekanan udara menjadi rendah sehingga mudah terbentuk awan cumulus nimbus. Awan ini menimbulkan turunnya hujan lebat yang disertai petir. Seperti yang disebutkan sebelumnya, sifat udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah menyebabkan udara dari Pasifik Tengah dan Timur bergerak ke Pasifik Barat. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Pasifik Tengah dan Timur bergeser ke Pasifik Barat.

Adakah parameter untuk menentukan El Nino dan La Nina?

Saat ini indikator yang digunakan untuk mengetahui fenomena El Nino dan La Nina adalah dengan menggunakan data indeks yang diperoleh dari Badan Meteorologi Australia (www.bom.gov.au/climate/current/soihtm1.shtml), yang disebut dengan Southern Oscillation Index (disingkat SOI). SOI diukur dari fluktuasi bulanan perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin. Nilai SOI inilah yang menunjukkan apakah terjadi fenomena El Nino, La Nina, atau normal. Tabel di bawah menunjukkan acuan nilai SOI yang dijadikan acuan penentuan El Nino dan La Nina:

Sumber: Australia Government Bureau of Meteorology.

Hasil kajian para ahli meteorologi dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali), sedangkan La Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan kejadian El Nino. La Nina mengikuti El Nino hanya terjadi 4 kali dan mendahului El Nino sebanyak 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La Nina setelah El Nino tidaklah begitu besar. Kejadian El Nino pada tahun 1982/1983 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El Nino yang kuat malah tidak diikuti oleh La Nina sama sekali.

Bagaimana dampak El Nino dan La Nina di Indonesia?

Dampak yang paling nyata dari fenomena El Nino adalah kekeringan di Indonesia yang menyebabkan langkanya air di sejumlah daerah dan kemudian berakibat pada penurunan produksi pertanian karena tertundanya masa tanam. Selain itu, meluasnya kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera juga diindikasikan sebagai salah satu dampak dari fenomena El Nino tersebut. Untuk La Nina, dampak yang paling terasa adalah hujan deras yang juga menyebabkan gagal panen pada pertanian karena sawah tergenang.

Ada juga keuntungan dari El Nino, yaitu bergerak masuknya ikan tuna yang berada di Samudera Hindia ke selatan Indonesia. Hal itu terjadi karena perairan di timur samudera mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Akibat proses ini, Indonesia mendapat banyak ikan tuna, sebuah berkah yang perlu dimanfaatkan.

Bahan bacaan:

Penulis:
Bayu Dwi Apri Nugroho, kandidat doktor bidang Agro-meteorologi, Iwate University, Jepang.
Kontak: by_ugm(at)yahoo(dot)com.