Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Apa dan Bagaimana Terjadinya Gempa Bumi?

Indonesia adalah negeri yang dikaruniai potensi kebumian yang sangat besar, termasuk potensi bencananya. Ini tidak terlepas dari posisi geografis Indonesia yang melintasi daerah-daerah aktif vulkanik (gunung berapi) maupun lempeng-lempeng tektonik. Mari kita kenali apa dan bagaimana terjadinya gempa bumi agar kita bisa lebih bersiap menghadapi potensi bencana di tanah air kita.

Apakah Gempa Bumi itu?

Secara teori, bumi tempat kita berdiam sebenarnya tersusun oleh banyak lempengan-lempengan tektonik yang aktif bergerak. Lempengan-lempengan tektonik ini kadang-kadang mengalami pertemuan satu lama lain. Pertemuan dua lempengan tektonik aktif ini bisa menyebabkan terjadinya pergeseran, baik salah satu saja maupun semua lempengan yang bertemu. Dalam bahasa geologi, gejala ini disebut sebagai sesar geser. Pertemuan ini bisa juga menyebabkan tumbukan lempengan-lempengan aktif sehingga posisi salah satu lempengan tektonik bisa berada di atas atau di bawah lempengan tektonik yang lain. Dalam bahasa geologi, peristiwa pertemuan kedua ini disebut dengan istilah sesar naik atau sesar turun.

Ilustrasi terjadinya sesar turun (gambar paling atas), sesar naik (gambar tengah), dan sesar geser (gambar paling bawah). Sumber: http://images.yourdictionary.com/fault

Sebagai gambaran, mari kita lihat gambar selanjutnya yang menunjukkan beberapa lempengan tektonik aktif yang mengelilingi Indonesia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indian, lempeng Australia, lempeng Sunda, lempeng laut Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Caroline. Keberadaan lempeng tektonik Eurasia telah membentuk kondisi ekstrem secara tektonik di bagian tenggara Indonesia.

Gambar di bawah ini menjelaskan bahwa Indonesia dikelilingi oleh lempeng India-Australia yang bergerak ke arah timur laut dan lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat. Lempeng tektonik India-Australia bergerak ke arah timur laut terhadap lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 50-60 mm/tahun (walaupun terlihat pelan, sebenarnya sangat cepat secara umur geologi). Pergerakan ini membentuk daerah subduksi di palung Sunda (Sunda Trench) yang memanjang di sepanjang pantai barat pulau Sumatera melewati pantai Selatan pulau Jawa hingga menuju Laut Sulawesi. Daerah ini dikenal dengan tempat terjadinya gempa-gempa dengan kekuatan besar, seperti gempa Aceh, gempa Padang, gempa Pangandaran, gempa Jogja, gempa Mentawai, dan lain-lain. Daerah ini merupakan jalur pegunungan berapi.


Lempengan-lempengan aktif (active plate) yang mengelilingi kepulauan Indonesia. Sumber: Robert McCaffrey (2009).

Di sisi lain, ada juga pergerakan aktif dari lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat terhadap lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 100 mm/tahun, sangat cepat. Pergerakan ini membentuk beberapa daerah subduksi di Indonesia bagian timur dan merupakan tempat terjadinya gempa-gempa besar di Indonesia bagian timur. Seperti layaknya gelang karet yang ditarik dan dilepaskan secara tiba-tiba, pergerakan aktif dan tubrukan lempeng-lempeng aktif yang mengelilingi Indonesia inilah yang menyebabkan Indonesia memiliki banyak daerah dengan risiko gempa tektonik dan gempa vulkanik yang tinggi. Penyebaran daerah-daerah potensi bencana ini ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Peta daerah potensi bencana alam yang disebabkan oleh gempa bumi dan gunung api di seluruh Indonesia. Warna hijau menunjukkan daerah yang relatif aman, sementara daerah yang berwarna cokelat tua adalah daerah yang sangat berisiko bencana. Sumber: Committee of Sumatra offshore earthquake and Indian Ocean tidal wave damage survey, 2005.

Dampak Negatif Gempa Bumi

Terjadinya gempa bumi memberikan dampak negatif bagi kehidupan manusia. Gempa bumi bisa menyebabkan kematian, kerusakan, serta hancurnya sarana dan prasarana yang menunjang keberlangsungan kehidupan manusia. Pembangunan gedung-gedung yang rusak dan penataan kembali daerah yang terkena dampak gempa bumi memerlukan biaya ratusan juta rupiah. Sebagai contoh, gempa bumi dengan kekuatan 9.3 skala Richter yang terjadi di lepas pantai barat Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Menurut catatan sejarah, gempa yang juga menghantam Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika ini merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Untuk wilayah Indonesia, dampak negatif gempa ini diperburuk oleh pembangunan sarana dan prasarana (rumah, gedung sekolah, gedung pemerintah dan bangunan bertingkat lainnya) yang tidak sesuai dengan syarat pembangunan di daerah gempa. Di daerah-daerah dengan kemungkinan besar terjadinya gempa bumi dengan kekuatan yang besar, dengan alasan untuk terlihat modern, banyak rumah-rumah yang masih dibangun dengan menggunakan campuran pasir dan semen saja, tanpa rangka yang kuat.

Gedung-gedung bertingkat juga dibangun dengan tidak memperhitungkan bahaya bila gempa besar terjadi. Selain itu, tata kota yang belum bersahabat dengan bahaya akibat gempa (misalnya tidak adanya daerah-daerah evakuasi bila gempa bumi terjadi) juga memperbesar dampak negatif yang ditimbulkan oleh gempa bumi dengan kekuatan besar. Padahal, pembangunan sarana dan prasarana serta penataan kota-kota daerah rawan gempa yang memenuhi syarat akan mampu mengurangi kematian, kerusakan bangunan, serta biaya untuk rekonstruksi pasca gempa. Upaya ke arah lebih baik sudah mulai dilakukan, seperti pemindahan kota Padang di Sumatra Barat secara bertahap. Akan tetapi, masih banyak hal-hal lain yang masih perlu dilakukan untuk mengurangi efek gempa.

Bahan bacaan:

  • Robert McCaffrey: The Tectonic framework of the Sumatran subduction zone, Ann. Rev. Earth Planet. Sci., 37, 345-366, 2009.
  • Committee of Sumatra offshore earthquake and Indian Ocean tidal wave damage survey, 2005, The damage induced by Sumatra earthquake and associated tsunami of December 26, 2004; a report of the reconnaissance team of japan Society of Civil Engineers, http://www.jsce.or.jp/committee/2004sumatra/report.htm, Accessed on January 3, 2001

Penulis:
Febty Febriani, Peneliti Fisika Bumi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Kontak: febty82(at)gmail(dot)com